Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 72 - Surat Al-Furqān (Pembeda)
الفرقان
Ayat 72 / 77 •  Surat 25 / 114 •  Halaman 366 •  Quarter Hizb 37.25 •  Juz 19 •  Manzil 4 • Makkiyah

وَالَّذِيْنَ لَا يَشْهَدُوْنَ الزُّوْرَۙ وَاِذَا مَرُّوْا بِاللَّغْوِ مَرُّوْا كِرَامًا

Wal-lażīna yasyhadūnaz-zūr(a), wa iżā marrū bil-lagwi marrū kirāmā(n).

Dan, orang-orang yang tidak memberikan kesaksian palsu serta apabila mereka berpapasan dengan (orang-orang) yang berbuat sia-sia, mereka berlalu dengan menjaga kehormatannya.

Makna Surat Al-Furqan Ayat 72
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dan sifat-sifat utama lainnya dari ‘ibadurrahman adalah orang-orang yang tidak memberikan kesaksian palsu, yang sengaja dilakukan padahal dia tahu bahwa hal itu bohong belaka. Dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, baik perkataan ataupun perbuatan yang sia-sia, mereka berlalu dengan menjaga kehormatan dirinya. Mereka tidak menghiraukannya dan tidak memedulikannya. Sebagai seorang muslim, setiap langkahnya harus membawa kemanfaatan bagi kehidupannya yang akan dibawa setelah dia meninggal.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ketujuh: Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa di antara sifat hamba Allah Yang Maha Pengasih adalah tidak mau dan tidak pernah melakukan sumpah palsu. Apabila lewat di hadapan orang-orang yang suka mengucapkan kata-kata yang tidak karuan dan tidak ada faedahnya sama sekali, dia berlalu tanpa ikut bergabung dengan mereka. Dia menyadari bahwa seorang mukmin tidak layak melayani orang-orang yang menyia-nyiakan waktunya yang sangat berharga dengan omong kosong, apalagi bila waktu itu dipergunakan untuk membicarakan hal-hal yang membawa kepada perbuatan dosa seperti mempergunjingkan orang atau menuduh orang-orang yang tidak bersalah dan lain-lain sebagainya.

Bersumpah palsu sangat dilarang dalam agama Islam, karena ketika bersumpah itu, seseorang telah berdusta dan tidak menyatakan yang sebenarnya. Banyak sekali orang yang melakukan sumpah palsu untuk membela orang-orang yang tidak benar agar orang itu dapat merampas atau memiliki hak orang lain dan melakukan kezaliman. Padahal, kalau ia tidak ikut bersumpah, tentulah yang hak itu akan nyata dan jelas, serta tidak akan terjadi kezaliman atau perampasan hak. Sebagai seorang mukmin, dia harus berdiri di pihak yang benar dan harus merasa bertanggung jawab untuk menegakkan keadilan dan memberantas kezaliman.

Umar bin Khaṭṭāb sangat marah kepada orang yang melakukan sumpah palsu dan dia pernah mendera orang yang bersumpah palsu 40 kali dera, mencorengi mukanya dengan warna hitam, mencukur semua rambut kepalanya, dan kemudian mengaraknya di tengah pasar.

Sifat dan sikap hamba-hamba Allah yang terpuji ini digambarkan Allah dalam firman-Nya:

وَاِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ اَعْرَضُوْا عَنْهُ وَقَالُوْا لَنَآ اَعْمَالُنَا وَلَكُمْ اَعْمَالُكُمْ ۖسَلٰمٌ عَلَيْكُمْ ۖ لَا نَبْتَغِى الْجٰهِلِيْنَ ٥٥

Dan apabila mereka mendengar perkataan yang buruk, mereka berpaling darinya dan berkata, “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amal kamu, semoga selamatlah kamu, kami tidak ingin (bergaul) dengan orang-orang bodoh.” (al-Qaṣaṣ/28: 55).

Isi Kandungan Kosakata

1. Lā Yasyhadūna az-Zūr لَايَشْهَدُوْن َ الزُّوْرَ (al-Furqān/25: 72)

Yasyhadūn artinya menyaksikan terambil dari kata syahadah dan syuhūd yang bermakna hadir dan menyaksikan, baik dengan mata maupun dengan mata hati. Makna ini kemudian berkembang menjadi makna bersaksi. Az-Zūr berarti kebohongan atau kepalsuan karena makna asalnya adalah condong dari arahnya yang lurus. Ayat ini menjelaskan sifat orang-orang yang beriman sebagaimana yang telah disebutkan dalam ayat 63 yang lalu. Sebagai hamba Allah yang taat mereka memiliki sifat yang terpuji yaitu mereka tidak mau memberikan kesaksian palsu. Kata az-zūr terulang sebanyak dua kali yaitu dalam surat ini dan surat al-Ḥajj/22: 30.

2. Qurrata A’yun قُرَّةَ أَعْيُنٍ (al-Furqān/25: 74)

Qurrah pada mulanya berarti dingin, tapi yang dimaksud di sini adalah makna menggembirakan karena sebagian ulama berpendapat bahwa air mata yang mengalir ada yang dingin dan hangat. Air mata yang dingin menunjukkan kegembiraan, sedangkan air mata yang hangat menunjukkan kesedihan. Namun yang dimaksud dalam ayat ini adalah sesuatu yang apabila dilihat akan menyenangkan orang yang melihatnya dan dianggap sebagai buah hati apabila dikatakan kepada seorang anak yang didambakan. Kata qurrah a’yun terulang sebanyak tiga kali dalam surat ini dan dalam Surah al-Qaṣaṣ/28: 3 dan as-Sajdah/32: 11.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto