وَالَّذِيْنَ اِذَا ذُكِّرُوْا بِاٰيٰتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوْا عَلَيْهَا صُمًّا وَّعُمْيَانًا
Wal-lażīna iżā żukkirū bi'āyāti rabbihim lam yakhirrū ‘alaihā ṣummaw wa ‘umyānā(n).
Dan, orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka tidak bersikap sebagai orang-orang yang tuli dan buta.
Sifat ‘ibadurrahman berikutnya adalah orang-orang yang apabila diberi peringatan oleh Allah atau nabi-Nya dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidak bersikap sebagai orang-orang yang tuli dan buta, tapi mereka mendengar peringatan tersebut dengan penuh perhatian dan sikap yang penuh kepedulian.
Kedelapan: Pada ayat ini, Allah menerangkan sifat para hamba-Nya, yaitu mereka dapat menanggapi peringatan yang diberikan Allah bila mereka mendengar peringatan itu. Hati mereka selalu terbuka untuk menerima nasihat dan pelajaran, pikiran mereka pun selalu merenungkan ayat-ayat Allah untuk dipahami dan diamalkan, sehingga bertambahlah keimanan dan keyakinan mereka bahwa ajaran-ajaran yang diberikan Allah kepada mereka benar-benar ajaran yang tinggi nilai dan mutunya, ajaran yang benar yang tidak dapat dibantah lagi. Tidaklah mengherankan apabila mereka sangat fanatik kepada ajaran itu, karena mereka sangat meyakini kebaikannya.
Sangat jauh perbedaan antara mereka dengan kaum musyrikin yang juga fanatik kepada sembahan-sembahannya. Kefanatikan mereka adalah fanatik buta karena tidak mau menerima kebenaran walaupun telah jelas dan nyata bahwa akidah yang mereka anut itu salah dan bertentangan dengan akal yang sehat. Bagaimana pun kuat dan jelasnya alasan-alasan yang dikemukakan kepada mereka tentang ketidakbenaran faham yang dianut mereka tidak akan mau menerimanya karena hatinya telah tertutup dan matanya telah buta untuk memikirkan mana yang benar dan mana yang salah.
1. Lā Yasyhadūna az-Zūr لَايَشْهَدُوْن َ الزُّوْرَ (al-Furqān/25: 72)
Yasyhadūn artinya menyaksikan terambil dari kata syahadah dan syuhūd yang bermakna hadir dan menyaksikan, baik dengan mata maupun dengan mata hati. Makna ini kemudian berkembang menjadi makna bersaksi. Az-Zūr berarti kebohongan atau kepalsuan karena makna asalnya adalah condong dari arahnya yang lurus. Ayat ini menjelaskan sifat orang-orang yang beriman sebagaimana yang telah disebutkan dalam ayat 63 yang lalu. Sebagai hamba Allah yang taat mereka memiliki sifat yang terpuji yaitu mereka tidak mau memberikan kesaksian palsu. Kata az-zūr terulang sebanyak dua kali yaitu dalam surat ini dan surat al-Ḥajj/22: 30.
2. Qurrata A’yun قُرَّةَ أَعْيُنٍ (al-Furqān/25: 74)
Qurrah pada mulanya berarti dingin, tapi yang dimaksud di sini adalah makna menggembirakan karena sebagian ulama berpendapat bahwa air mata yang mengalir ada yang dingin dan hangat. Air mata yang dingin menunjukkan kegembiraan, sedangkan air mata yang hangat menunjukkan kesedihan. Namun yang dimaksud dalam ayat ini adalah sesuatu yang apabila dilihat akan menyenangkan orang yang melihatnya dan dianggap sebagai buah hati apabila dikatakan kepada seorang anak yang didambakan. Kata qurrah a’yun terulang sebanyak tiga kali dalam surat ini dan dalam Surah al-Qaṣaṣ/28: 3 dan as-Sajdah/32: 11.















































