وَهُوَ الَّذِيْ خَلَقَ مِنَ الْمَاۤءِ بَشَرًا فَجَعَلَهٗ نَسَبًا وَّصِهْرًاۗ وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيْرًا
Wa huwal-lażī khalaqa minal-mā'i basyaran fa ja‘alahū nasabaw wa ṣihrā(n), wa kāna rabbuka qadīrā(n).
Dialah (pula) yang menciptakan manusia dari air (mani). Lalu, Dia menjadikannya (manusia itu mempunyai) keturunan dan muṣāharah (persemendaan).534) Tuhanmu adalah Maha Kuasa.
Fenomena kekuasaan Allah lainnya adalah terciptanya manusia dari air mani. Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air mani seorang lelaki yang bercampur dengan indung telur perempuan, lalu setelah melewati masa-masa tertentu Dia jadikan manusia itu mempunyai keturunan beranak-pinak dengan cara yang sama. Ada keturunan yang lelaki yang kelak menjadi garis keturunan bagi anak-anaknya dan ada pula keturunan perempuan yang kelak terjadi persemendaan atau mushaharah. Semua keluarga pihak perempuan menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan suaminya. dan Tuhanmu adalah Mahakuasa menentukan jenis anak-anak yang lahir, apakah lelaki atau perempuan dari air mani tersebut. Allah menjadikan air mani kaum lelaki terdiri dari ratusan juta sel yang mempunyai dua unsur kelelakian dan keperempuanan, yang akan menjadi cikal bakal manusia. Semuanya itu menjadi tanda atas kebesaran Allah.
Tanda kekuasaan Allah yang kelima, yaitu Dia yang menciptakan manusia dari sperma. Dia lalu jadikan manusia mempunyai keturunan dan muṣāharah (perbesanan) atau hubungan kekeluargaan akibat perkawinan anak kandung dengan orang lain, sehingga muncul istilah kekeluargaan, seperti menantu, ipar, mertua, dan sebagainya. Firman Allah:
اَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِّنْ مَّنِيٍّ يُّمْنٰى ٣٧ ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوّٰىۙ ٣٨ فَجَعَلَ مِنْهُ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْاُنْثٰىۗ ٣٩
Bukankah dia mulanya hanya setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian (mani itu) menjadi sesuatu yang melekat, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya, lalu Dia menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan. (al-Qiyāmah/75: 37-39)
Allah menciptakan manusia yang sangat indah susunan tubuhnya dilengkapi dengan pancaindra, disempurnakan dengan akal dan kemampuan untuk berpikir. Manusia juga diberi segala fasilitas sehingga semua yang berada di atas permukaan bumi, diperuntukkan bagi mereka. Firman Allah:
اَلَمْ تَرَوْا اَنَّ اللّٰهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ وَاَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهٗ ظَاهِرَةً وَّبَاطِنَةً
Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untuk (kepentingan)mu dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin. (Luqmān/31: 20
Di tinjau dari segi sains, beberapa ayat yang terkait dengan ayat di atas adalah:
اَوَلَمْ يَرَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَنَّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنٰهُمَ اۗ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاۤءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّۗ اَفَلَا يُؤْمِنُوْنَ ٣٠
Dan apakah orang-orang yang kafir tidak melihat bahwa langit dan bumi keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan keduanya. Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup. Maka mengapa mereka tidak beriman. (al-Anbiyā’/21: 30).
وَاللّٰهُ خَلَقَ كُلَّ دَاۤبَّةٍ مِّنْ مَّاۤءٍۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ يَّمْشِيْ عَلٰى بَطْنِهٖۚ وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّمْشِيْ عَلٰى رِجْلَيْنِۚ وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّمْشِيْ عَلٰٓى اَرْبَعٍۗ يَخْلُقُ اللّٰهُ مَا يَشَاۤءُۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ٤٥
Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari mereka ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (an-Nūr/24: 45).
Ketiga ayat di atas mengindikasikan hubungan yang erat antara air dan adanya kehidupan.
1. Air ditengarai sangat dekat dengan makhluk hidup. Manusia dan kebanyakan hewan berasal dari cairan sperma.
2. Semua kehidupan dimulai dari air. Air di sini lebih tepat bila diartikan sebagai laut. Rantai kimia ini dipercaya dimulai dari kedalaman lautan. Dugaan bahwa di lautlah mulainya kehidupan disebabkan karena kondisi atmosfer pada saat itu belum berkembang menjadi kawasan yang dapat dihuni makhluk hidup.
Dari uraian ini, peran air bagi kehidupan sangat jelas, dari mulai adanya makhluk hidup di bumi (berasal dari kedalaman laut), bagi kelangsungan hidupnya (air diperlukan untuk pembentukan organ dan menjalankan fungsi organ), serta memulai kehidupan (terutama bagi kelompok hewan—air tertentu yang berasal dari sperma).
1. ‘Ażb Furāt عَذْبٌ فُرَات (al-Furqān/25: 53)
Kata ‘ażb mengandung dua makna yang bertolak belakang. Bila akar katanya ‘ażaba-ya’żibu-’ażb , makna dasarnya adalah “tak mau makan dan minum karena terlalu lapar dan dahaga.” Dari akar kata ini terambil kata ‘ażāb ‘siksa’, yaitu kepedihan yang luar biasa atas jasmani dan rohani yang diderita sebagai balasan atas kesalahan. Kata ‘ażb dalam al-Furqān/25: 53 tidak mungkin merupakan maṣdar akar kata ini, karena bila bentuk kata ‘ażb itu adalah maṣdar, tentu ayat itu diartikan: Ini adalah keazaban. Itu tidak tepat.
Akar kata lain ‘ażb adalah ‘ażaba-ya’żubu-’uż batan, maknanya adalah “bening, bersih sekali, dan enak”. Al-’ażb adalah isim dari akar kata itu, bukan maṣdar, artinya adalah “air yang begitu bening, bersih, dan enak”. Ayat itu bunyinya, hāżā’azb (ini adalah air bening bersih). Akar kata ‘ażaba-ya’żibu-’ażb yang berarti “siksa” tidak memiliki isim dalam bentuk ‘ażb, tetapi ‘ażāb.
Furāt terambil dari akar kata farata-yafrutu-fartan artinya “lemah akal”. Bila dikaitkan dengan air, maka air itu berarti sangat bening dan enak sehingga mempengaruhi sekali perasaan, artinya “menyegarkan sekali”. Mā’ furat berarti air yang begitu bening, bersih, enak, dan menyegarkan sekali ketika diminum. Air yang dimaksud kiranya air tawar yang berasal dari sungai, atau air tanah yang diperoleh manusia dengan menggali sumur di permukaan tanah.
Makna ayat al-Furqān/25: 53, hāżā ‘ażb furāt, dengan demikian adalah: Ini adalah air bening bersih enak segar, yaitu air tawar. Air tawar itu terdapat di sungai dan dalam tanah. Air itu tidak akan bercampur dengan air asin dari laut karena sistem yang diciptakan Allah. Kecuali bila manusia merusak sistem itu, di antaranya dengan menyedot air permukaan melebihi daya dukungnya yang akan mengakibatkan air tanah terintrusi air laut.
2. Milḥ Ujājمِلْحٌ اُجَاجٌ (al-Furqān/25: 53)
Milḥ terambil dari akar kata malaḥa-yamlaḥu/yamliḥu -malḥ, artinya “membubuhkan garam ke dalam makanan”. Milḥ adalah “garam”. Mā’ milḥ adalah air yang sangat asin sehingga pahit dan tidak dapat diminum. Māliḥ adalah makanan/minuman yang terlalu asin. Akan tetapi, rajul malīh adalah orang yang manis (handsome). Dari kata milḥ itu terambil kata milāḥah, yaitu kelautan. Mallāḥ adalah nelayan atau pelaut, dan juga berarti pembuat atau penjual garam. Dengan demikian, milḥ dalam al-Furqān/25: 53 maksud-nya adalah air asin yaitu air laut.
Ujāj terambil dari akar kata ajja-ya’ujju-ajūj artinya menjadi asin pahit. Ujāj adalah air yang amat asin sehingga bila diminum terasa pahit dan panas di kerongkongan. Yang dimaksud milḥ ujāj adalah air laut. Dalam Surah al-Furqān/25: 53 itu, Allah membandingkan dua laut: yang satu airnya bening bersih enak segar, sedangkan yang satu lagi asin pahit dan membakar tenggorokan. Laut yang pertama adalah sungai, airnya tawar dan enak diminum. Sungai disebut laut karena sungai itu ada yang besar sehingga juga bisa dilayari seperti laut. Laut yang kedua adalah lautan, airnya asin. Kedua laut itu tidak akan bercampur airnya karena sistem yang dibuat Allah, yang bisa dipelajari dalam ilmu geologi atau ilmu lingkungan. Tetapi bila manusia merusak sistem itu, misalnya menyedot air permukaan secara besar-besaran, maka air laut akan mengintrusi air permukaan, seperti yang dialami sebagian wilayah Ibukota Jakarta dewasa ini. Maka air sumur atau air sungai akan menjadi asin dan tak layak lagi diminum. Mari kita bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya, dan mari kita jaga lingkungan supaya tidak rusak oleh tangan-tangan kita sendiri.















































