وَلَوْ شِئْنَا لَبَعَثْنَا فِيْ كُلِّ قَرْيَةٍ نَّذِيْرًا ۖ
Wa lau syi'nā laba‘aṡnā fī kulli qaryatin nażīrā(n).
Sekiranya berkehendak, niscaya Kami utus seorang pemberi peringatan pada setiap negeri.
Ayat-ayat berikut ini menjelaskan anugerah Allah yang besar kepada Nabi Muhammad yang diutus untuk seluruh manusia. Dan sekiranya Kami menghendaki, untuk mengutus banyak utusan, niscaya Kami utus seorang pemberi peringatan pada setiap negeri. Akan tetapi, kebijakan Kami pada akhir zaman, adalah mengutus seorang rasul untuk seluruh negeri, agar beban Nabi Muhammad bertambah, dan dengan begitu akan bertambah derajatnya di sisi Allah.
Ayat ini menjelaskan bahwa seandainya Allah menghendaki, Dia akan mengutus seorang utusan untuk setiap negeri, yang akan memberi peringatan. Akan tetapi, Allah mengirimkan Muhammad sebagai nabi penutup kepada seluruh umat manusia, sebagaimana firman Allah:
قُلْ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْ جَمِيْعًا
Katakanl ah (Muhammad), “Wahai manusia! Sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kamu semua.” (al-A‘rāf/7: 158)
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا كَاۤفَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيْرًا وَّنَذِيْرًا
Da n Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada semua umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. (Saba’/34: 28)
Jika para nabi lain diutus kepada umat-umat tertentu, maka Allah mengutus Nabi Muhammad sebagai rasul kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan memberi peringatan. Oleh karena itu, mukjizat yang diberikan kepada Nabi Muhammad tidak lagi bersifat temporal, yang hanya sesuai untuk suatu kaum dan tempat tertentu. Akan tetapi, ia diberi Al-Qur’an yang bersifat universal, nilai-nilai yang dikandungnya sesuai untuk diterapkan di mana pun dan kapan pun.
1. ‘Ażb Furāt عَذْبٌ فُرَات (al-Furqān/25: 53)
Kata ‘ażb mengandung dua makna yang bertolak belakang. Bila akar katanya ‘ażaba-ya’żibu-’ażb , makna dasarnya adalah “tak mau makan dan minum karena terlalu lapar dan dahaga.” Dari akar kata ini terambil kata ‘ażāb ‘siksa’, yaitu kepedihan yang luar biasa atas jasmani dan rohani yang diderita sebagai balasan atas kesalahan. Kata ‘ażb dalam al-Furqān/25: 53 tidak mungkin merupakan maṣdar akar kata ini, karena bila bentuk kata ‘ażb itu adalah maṣdar, tentu ayat itu diartikan: Ini adalah keazaban. Itu tidak tepat.
Akar kata lain ‘ażb adalah ‘ażaba-ya’żubu-’uż batan, maknanya adalah “bening, bersih sekali, dan enak”. Al-’ażb adalah isim dari akar kata itu, bukan maṣdar, artinya adalah “air yang begitu bening, bersih, dan enak”. Ayat itu bunyinya, hāżā’azb (ini adalah air bening bersih). Akar kata ‘ażaba-ya’żibu-’ażb yang berarti “siksa” tidak memiliki isim dalam bentuk ‘ażb, tetapi ‘ażāb.
Furāt terambil dari akar kata farata-yafrutu-fartan artinya “lemah akal”. Bila dikaitkan dengan air, maka air itu berarti sangat bening dan enak sehingga mempengaruhi sekali perasaan, artinya “menyegarkan sekali”. Mā’ furat berarti air yang begitu bening, bersih, enak, dan menyegarkan sekali ketika diminum. Air yang dimaksud kiranya air tawar yang berasal dari sungai, atau air tanah yang diperoleh manusia dengan menggali sumur di permukaan tanah.
Makna ayat al-Furqān/25: 53, hāżā ‘ażb furāt, dengan demikian adalah: Ini adalah air bening bersih enak segar, yaitu air tawar. Air tawar itu terdapat di sungai dan dalam tanah. Air itu tidak akan bercampur dengan air asin dari laut karena sistem yang diciptakan Allah. Kecuali bila manusia merusak sistem itu, di antaranya dengan menyedot air permukaan melebihi daya dukungnya yang akan mengakibatkan air tanah terintrusi air laut.
2. Milḥ Ujājمِلْحٌ اُجَاجٌ (al-Furqān/25: 53)
Milḥ terambil dari akar kata malaḥa-yamlaḥu/yamliḥu -malḥ, artinya “membubuhkan garam ke dalam makanan”. Milḥ adalah “garam”. Mā’ milḥ adalah air yang sangat asin sehingga pahit dan tidak dapat diminum. Māliḥ adalah makanan/minuman yang terlalu asin. Akan tetapi, rajul malīh adalah orang yang manis (handsome). Dari kata milḥ itu terambil kata milāḥah, yaitu kelautan. Mallāḥ adalah nelayan atau pelaut, dan juga berarti pembuat atau penjual garam. Dengan demikian, milḥ dalam al-Furqān/25: 53 maksud-nya adalah air asin yaitu air laut.
Ujāj terambil dari akar kata ajja-ya’ujju-ajūj artinya menjadi asin pahit. Ujāj adalah air yang amat asin sehingga bila diminum terasa pahit dan panas di kerongkongan. Yang dimaksud milḥ ujāj adalah air laut. Dalam Surah al-Furqān/25: 53 itu, Allah membandingkan dua laut: yang satu airnya bening bersih enak segar, sedangkan yang satu lagi asin pahit dan membakar tenggorokan. Laut yang pertama adalah sungai, airnya tawar dan enak diminum. Sungai disebut laut karena sungai itu ada yang besar sehingga juga bisa dilayari seperti laut. Laut yang kedua adalah lautan, airnya asin. Kedua laut itu tidak akan bercampur airnya karena sistem yang dibuat Allah, yang bisa dipelajari dalam ilmu geologi atau ilmu lingkungan. Tetapi bila manusia merusak sistem itu, misalnya menyedot air permukaan secara besar-besaran, maka air laut akan mengintrusi air permukaan, seperti yang dialami sebagian wilayah Ibukota Jakarta dewasa ini. Maka air sumur atau air sungai akan menjadi asin dan tak layak lagi diminum. Mari kita bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya, dan mari kita jaga lingkungan supaya tidak rusak oleh tangan-tangan kita sendiri.

















































