وَلَقَدْ صَرَّفْنٰهُ بَيْنَهُمْ لِيَذَّكَّرُوْاۖ فَاَبٰىٓ اَكْثَرُ النَّاسِ اِلَّا كُفُوْرًا
Wa laqad ṣarrafnāhu bainahum liyażżakkarū, fa abā akṡarun-nāsi illā kufūrā(n).
Sungguh, Kami benar-benar telah mempergilirkannya (hujan itu) di antara mereka agar mereka mengambil pelajaran. Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mau (bersyukur), bahkan mereka mengingkari (nikmat).
Dan sungguh, Kami telah mempergilirkan hujan itu di antara mereka pada waktu-waktu tertentu, dan di beberapa tempat, sesuai dengan kebijakan Kami, agar mereka mengambil pelajaran dari perkisaran tersebut. Tetapi kebanyakan manusia tidak mau bersyukur kepada Kami dengan hati, ucapan dan tindakan, bahkan mereka mengingkari nikmat-nikmat Kami yang tak terhitung banyaknya. Sifat takabur, sombong, angkuh, menyebabkan mereka lupa atas semua anugerah-Nya itu.
Ayat ini menjelaskan bahwa sesungguhnya Allah telah mengatur turunnya hujan secara bergiliran bagi manusia. Kadang-kadang ia turun siang atau malam, kadang-kadang ditujukan untuk menyirami tanah satu kaum yang baru melaksanakan salat Istisqa, kadang-kadang dipalingkan dari kaum yang banyak melakukan kedurhakaan dan kemaksiatan. Semua itu bertujuan agar manusia mengambil pelajaran darinya, dan agar mereka mengerti bahwa Tuhanlah yang mengatur giliran hujan itu seperti mengatur peredaran bintang-bintang dan planet di angkasa luar.
Air hujan itu bukan hanya turunnya saja yang diatur dengan bergiliran, akan tetapi bentuk dan keadaannya juga. Kadang-kadang air itu membeku jika suhu udara jauh di bawah nol dan merupakan es batu. Kemudian jika dipanaskan berubah menjadi cair, dan jika dipanaskan berubah menjadi uap. Air merupakan unsur yang terdapat dalam semua makhluk hidup, dalam tumbuh-tumbuhan, binatang, dan manusia, seperti dalam firman Allah:
وَجَعَلْنَ ا مِنَ الْمَاۤءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ
Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air. (al-Anbiyā’/21: 30)
Semua ini harus jadi bahan pemikiran bagi manusia agar dapat men-syukuri nikmat Allah. Akan tetapi, kebanyakan manusia enggan bahkan mengingkari nikmat-nikmat itu.
1. ‘Ażb Furāt عَذْبٌ فُرَات (al-Furqān/25: 53)
Kata ‘ażb mengandung dua makna yang bertolak belakang. Bila akar katanya ‘ażaba-ya’żibu-’ażb , makna dasarnya adalah “tak mau makan dan minum karena terlalu lapar dan dahaga.” Dari akar kata ini terambil kata ‘ażāb ‘siksa’, yaitu kepedihan yang luar biasa atas jasmani dan rohani yang diderita sebagai balasan atas kesalahan. Kata ‘ażb dalam al-Furqān/25: 53 tidak mungkin merupakan maṣdar akar kata ini, karena bila bentuk kata ‘ażb itu adalah maṣdar, tentu ayat itu diartikan: Ini adalah keazaban. Itu tidak tepat.
Akar kata lain ‘ażb adalah ‘ażaba-ya’żubu-’uż batan, maknanya adalah “bening, bersih sekali, dan enak”. Al-’ażb adalah isim dari akar kata itu, bukan maṣdar, artinya adalah “air yang begitu bening, bersih, dan enak”. Ayat itu bunyinya, hāżā’azb (ini adalah air bening bersih). Akar kata ‘ażaba-ya’żibu-’ażb yang berarti “siksa” tidak memiliki isim dalam bentuk ‘ażb, tetapi ‘ażāb.
Furāt terambil dari akar kata farata-yafrutu-fartan artinya “lemah akal”. Bila dikaitkan dengan air, maka air itu berarti sangat bening dan enak sehingga mempengaruhi sekali perasaan, artinya “menyegarkan sekali”. Mā’ furat berarti air yang begitu bening, bersih, enak, dan menyegarkan sekali ketika diminum. Air yang dimaksud kiranya air tawar yang berasal dari sungai, atau air tanah yang diperoleh manusia dengan menggali sumur di permukaan tanah.
Makna ayat al-Furqān/25: 53, hāżā ‘ażb furāt, dengan demikian adalah: Ini adalah air bening bersih enak segar, yaitu air tawar. Air tawar itu terdapat di sungai dan dalam tanah. Air itu tidak akan bercampur dengan air asin dari laut karena sistem yang diciptakan Allah. Kecuali bila manusia merusak sistem itu, di antaranya dengan menyedot air permukaan melebihi daya dukungnya yang akan mengakibatkan air tanah terintrusi air laut.
2. Milḥ Ujājمِلْحٌ اُجَاجٌ (al-Furqān/25: 53)
Milḥ terambil dari akar kata malaḥa-yamlaḥu/yamliḥu -malḥ, artinya “membubuhkan garam ke dalam makanan”. Milḥ adalah “garam”. Mā’ milḥ adalah air yang sangat asin sehingga pahit dan tidak dapat diminum. Māliḥ adalah makanan/minuman yang terlalu asin. Akan tetapi, rajul malīh adalah orang yang manis (handsome). Dari kata milḥ itu terambil kata milāḥah, yaitu kelautan. Mallāḥ adalah nelayan atau pelaut, dan juga berarti pembuat atau penjual garam. Dengan demikian, milḥ dalam al-Furqān/25: 53 maksud-nya adalah air asin yaitu air laut.
Ujāj terambil dari akar kata ajja-ya’ujju-ajūj artinya menjadi asin pahit. Ujāj adalah air yang amat asin sehingga bila diminum terasa pahit dan panas di kerongkongan. Yang dimaksud milḥ ujāj adalah air laut. Dalam Surah al-Furqān/25: 53 itu, Allah membandingkan dua laut: yang satu airnya bening bersih enak segar, sedangkan yang satu lagi asin pahit dan membakar tenggorokan. Laut yang pertama adalah sungai, airnya tawar dan enak diminum. Sungai disebut laut karena sungai itu ada yang besar sehingga juga bisa dilayari seperti laut. Laut yang kedua adalah lautan, airnya asin. Kedua laut itu tidak akan bercampur airnya karena sistem yang dibuat Allah, yang bisa dipelajari dalam ilmu geologi atau ilmu lingkungan. Tetapi bila manusia merusak sistem itu, misalnya menyedot air permukaan secara besar-besaran, maka air laut akan mengintrusi air permukaan, seperti yang dialami sebagian wilayah Ibukota Jakarta dewasa ini. Maka air sumur atau air sungai akan menjadi asin dan tak layak lagi diminum. Mari kita bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya, dan mari kita jaga lingkungan supaya tidak rusak oleh tangan-tangan kita sendiri.





























