لِّنُحْيِ َۧ بِهٖ بَلْدَةً مَّيْتًا وَّنُسْقِيَهٗ مِمَّا خَلَقْنَآ اَنْعَامًا وَّاَنَاسِيَّ كَثِيْرًا
Linuḥyiya bihī baldatam maitaw wa nusqiyahū mimmā khalaqnā an‘āmaw wa anāsiyya kaṡīrā(n).
Agar dengannya (air itu) Kami menghidupkan negeri yang mati (tandus) dan memberi minum kepada sebagian apa yang telah Kami ciptakan, (berupa) hewan-hewan ternak dan manusia yang banyak.
Manfaat dari adanya hujan adalah agar dengan air hujan itu Kami menghidupkan negeri yang tadinya mati kering kerontang, tandus, menjadi negeri yang hijau menyegarkan, karena ditumbuhi berbagai tanaman, dan dengan hujan itu pula Kami memberi minum kepada sebagian apa yang telah Kami ciptakan, berupa hewan-hewan ternak dan manusia yang banyak. Semua binatang yang melata di bumi ini sangat memerlukan air. Tanpa air, mereka tidak akan mampu bertahan hidup. Inilah anugerah Allah yang perlu direnungkan manusia, tetapi tidak semua manusia menyadarinya.
Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa hujan diturunkan untuk menyuburkan negeri-negeri atau tanah yang mati dan tandus. Dengan air hujan pula, Allah memberi minum sebagian besar makhluk-Nya, seperti binatang ternak dan manusia. Dalam ayat lain diterangkan:
وَتَرَى الْاَرْضَ هَامِدَةً فَاِذَآ اَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاۤءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَاَنْۢبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍۢ بَهِيْجٍ
Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air (hujan) di atasnya, hiduplah bumi itu dan menjadi subur dan menumbuhkan berbagai jenis pasangan (tetumbuhan) yang indah. (al-Ḥajj/22: 5)
Dan firman-Nya:
فَانْظُ ْ اِلٰٓى اٰثٰرِ رَحْمَتِ اللّٰهِ كَيْفَ يُحْيِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَاۗ اِنَّ ذٰلِكَ لَمُحْيِ الْمَوْتٰىۚ
Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi setelah mati (kering). Sungguh, itu berarti Dia pasti (berkuasa) menghidupkan yang telah mati. (ar-Rūm/30: 50)
Menurut para ilmuwan, dari ayat di atas dapat dibahas dua hal, yaitu:
1. Mengenai terjadinya hujan
2. Mengenai indikasi bahwa air hujan membawa kehidupan, sehingga dapat “.... menghidupkan dengannya negeri yang mati...”
Mengenai terjadinya hujan, kisahnya dimulai dengan air yang mengalir di sepanjang anak sungai yang akan bergabung dengan anak sungai lainnya membentuk sungai yang jauh lebih besar, yang akhirnya mengalir ke laut. Sementara air mengalir melalui anak sungai dan sungai, sebagian akan menguap karena panas sinar matahari (berubah menjadi gas) tetapi sebagian besar terus mengalir sampai ke laut. Di laut inilah proses penguapan atau evaporasi selanjutnya berlangsung.
Semua air yang menguap, baik yang berasal dari anak sungai, sungai, atau laut, membentuk uap air di atmosfer. Uap ini naik dan akan menjadi dingin saat mencapai atmosfer yang lebih tinggi. Jika terdapat banyak gas di atmosfer maka uap air ini akan memadat menjadi kelompok gas yang disebut awan. Jika awan tersebut ditiup angin sehingga berkumpul sesamanya, dan naik ke atas sehingga mencapai bagian yang lebih tinggi lagi di lapisan atmosfer, maka uap air akan berubah menjadi tetes-tetes es.
Ketika awan menjadi lebih dingin karena suhu atmosfer yang lebih rendah, air menjadi padat (es) dan jatuh, awalnya seperti tetes-tetes es yang sangat kecil, yang biasanya mencair sebelum mencapai tanah. Dengan demikian, tetes air akan jatuh ke bumi sebagai hujan. (lihat juga ar-Ra’d/13: 17; an-Naml/27: 60; al-’Ankabūt/29: 63; Luqmān/31: 34; as-Sajdah/32: 27; Fāṭir/35: 27; az-Zumar/39: 21; Qāf/50: 9-11).
1. ‘Ażb Furāt عَذْبٌ فُرَات (al-Furqān/25: 53)
Kata ‘ażb mengandung dua makna yang bertolak belakang. Bila akar katanya ‘ażaba-ya’żibu-’ażb , makna dasarnya adalah “tak mau makan dan minum karena terlalu lapar dan dahaga.” Dari akar kata ini terambil kata ‘ażāb ‘siksa’, yaitu kepedihan yang luar biasa atas jasmani dan rohani yang diderita sebagai balasan atas kesalahan. Kata ‘ażb dalam al-Furqān/25: 53 tidak mungkin merupakan maṣdar akar kata ini, karena bila bentuk kata ‘ażb itu adalah maṣdar, tentu ayat itu diartikan: Ini adalah keazaban. Itu tidak tepat.
Akar kata lain ‘ażb adalah ‘ażaba-ya’żubu-’uż batan, maknanya adalah “bening, bersih sekali, dan enak”. Al-’ażb adalah isim dari akar kata itu, bukan maṣdar, artinya adalah “air yang begitu bening, bersih, dan enak”. Ayat itu bunyinya, hāżā’azb (ini adalah air bening bersih). Akar kata ‘ażaba-ya’żibu-’ażb yang berarti “siksa” tidak memiliki isim dalam bentuk ‘ażb, tetapi ‘ażāb.
Furāt terambil dari akar kata farata-yafrutu-fartan artinya “lemah akal”. Bila dikaitkan dengan air, maka air itu berarti sangat bening dan enak sehingga mempengaruhi sekali perasaan, artinya “menyegarkan sekali”. Mā’ furat berarti air yang begitu bening, bersih, enak, dan menyegarkan sekali ketika diminum. Air yang dimaksud kiranya air tawar yang berasal dari sungai, atau air tanah yang diperoleh manusia dengan menggali sumur di permukaan tanah.
Makna ayat al-Furqān/25: 53, hāżā ‘ażb furāt, dengan demikian adalah: Ini adalah air bening bersih enak segar, yaitu air tawar. Air tawar itu terdapat di sungai dan dalam tanah. Air itu tidak akan bercampur dengan air asin dari laut karena sistem yang diciptakan Allah. Kecuali bila manusia merusak sistem itu, di antaranya dengan menyedot air permukaan melebihi daya dukungnya yang akan mengakibatkan air tanah terintrusi air laut.
2. Milḥ Ujājمِلْحٌ اُجَاجٌ (al-Furqān/25: 53)
Milḥ terambil dari akar kata malaḥa-yamlaḥu/yamliḥu -malḥ, artinya “membubuhkan garam ke dalam makanan”. Milḥ adalah “garam”. Mā’ milḥ adalah air yang sangat asin sehingga pahit dan tidak dapat diminum. Māliḥ adalah makanan/minuman yang terlalu asin. Akan tetapi, rajul malīh adalah orang yang manis (handsome). Dari kata milḥ itu terambil kata milāḥah, yaitu kelautan. Mallāḥ adalah nelayan atau pelaut, dan juga berarti pembuat atau penjual garam. Dengan demikian, milḥ dalam al-Furqān/25: 53 maksud-nya adalah air asin yaitu air laut.
Ujāj terambil dari akar kata ajja-ya’ujju-ajūj artinya menjadi asin pahit. Ujāj adalah air yang amat asin sehingga bila diminum terasa pahit dan panas di kerongkongan. Yang dimaksud milḥ ujāj adalah air laut. Dalam Surah al-Furqān/25: 53 itu, Allah membandingkan dua laut: yang satu airnya bening bersih enak segar, sedangkan yang satu lagi asin pahit dan membakar tenggorokan. Laut yang pertama adalah sungai, airnya tawar dan enak diminum. Sungai disebut laut karena sungai itu ada yang besar sehingga juga bisa dilayari seperti laut. Laut yang kedua adalah lautan, airnya asin. Kedua laut itu tidak akan bercampur airnya karena sistem yang dibuat Allah, yang bisa dipelajari dalam ilmu geologi atau ilmu lingkungan. Tetapi bila manusia merusak sistem itu, misalnya menyedot air permukaan secara besar-besaran, maka air laut akan mengintrusi air permukaan, seperti yang dialami sebagian wilayah Ibukota Jakarta dewasa ini. Maka air sumur atau air sungai akan menjadi asin dan tak layak lagi diminum. Mari kita bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya, dan mari kita jaga lingkungan supaya tidak rusak oleh tangan-tangan kita sendiri.














































