وَقَوْمَ نُوْحٍ لَّمَّا كَذَّبُوا الرُّسُلَ اَغْرَقْنٰهُمْ وَجَعَلْنٰهُمْ لِلنَّاسِ اٰيَةًۗ وَاَعْتَدْنَا لِلظّٰلِمِيْنَ عَذَابًا اَلِيْمًا ۚ
Wa qauma nūḥil lammā każżabur-rusula agraqnāhum wa ja‘alnāhum lin-nāsi āyah(tan), wa a‘tadnā liẓ-ẓālimīna ‘ażāban alīmā(n).
(Kami telah membinasakan) kaum Nuh ketika mereka mendustakan para rasul. Kami menenggelamkan mereka dan menjadikan (kisahnya) sebagai pelajaran bagi manusia. Kami telah menyediakan untuk orang-orang zalim azab yang sangat pedih.
Allah juga menceritakan nasib dari kaumnya Nabi Nuh. Dan telah Kami binasakan kaum Nuh ketika mereka mendustakan Nabi Nuh yang telah berdakwah kepada mereka selama 950 tahun, namun yang beriman kepadanya hanya sebagian kecil saja. Mendustakan satu rasul berarti sama saja dengan mendustakan para rasul. Karena para utusan Allah adalah satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan. Kami tenggelamkam mereka setelah Kami genangi bumi mereka dengan banjir besar melebihi tingginya gunung-gunung mereka, dan Kami jadikan cerita mereka itu pelajaran bagi manusia. Azab Allah akan turun kembali dalam bentuk lain, jika ada kaum yang kembali mendustakan para nabi mereka. Dan Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim azab yang pedih; melebihi dari pada apa yang mereka duga.
Demikian pula Allah telah membinasakan kaum Nuh yang telah mendustakan para rasul. Setelah Nabi Nuh menunaikan risalahnya dengan menyampaikan dakwah kepada kaumnya, tetapi yang beriman kepadanya hanya sedikit sekali, Allah lalu menenggelamkan mereka dengan topan dan banjir besar yang membinasakan semua manusia dan binatang kecuali yang berada dalam kapal Nabi Nuh. Allah menjadikan peristiwa itu sebagai pelajaran bagi umat manusia supaya mereka selalu ingat dan mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang telah menyelamatkan mereka dari bencana yang mengancam. Hal ini sesuai dengan firman Allah:
اِنَّا لَمَّا طَغَا الْمَاۤءُ حَمَلْنٰكُمْ فِى الْجَارِيَةِۙ ١١ لِنَجْعَلَهَا لَكُمْ تَذْكِرَةً وَّتَعِيَهَآ اُذُنٌ وَّاعِيَةٌ ١٢
Sesungguhnya ketika air naik (sampai ke gunung), Kami membawa (nenek moyang) kamu ke dalam kapal, agar Kami jadikan (peristiwa itu) sebagai peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar. (al-Ḥāqqah/69: 11-12).
Lalu Allah menerangkan akibat orang-orang yang mendustakan risalah Nabi dengan firman-Nya bahwa Ia telah menyediakan bagi orang-orang zalim siksa yang pedih. Ayat ini mengandung peringatan pada orang-orang Quraisy supaya mereka jangan sampai mendustakan kenabian Muhammad karena besar kemungkinan mereka pun akan ditimpa azab seperti umat-umat terdahulu yang telah mendustakan para rasul-Nya.
Tabbarnā Tatbīran تَبَّرْنَا تَتْبِيْرًا (al-Furqān/25: 39)
Akar katanya adalah tabara, artinya “menghancurkan sampai lumat sehancur-hancurnya” (ihlāk). Dalam Surah al-Furqān/25: 39 dinyatakan, “Wa kullan ḍarabnā lahul-amṡāl wa kullan tabbarnā tatbīrā (Dan masing-masing telah Kami jadikan perumpamaan dan masing-masing telah Kami hancurkan sehancur-hancurnya). Maksudnya, kepada umat-umat yang disebutkan dalam ayat-ayat sebelumnya itu, yaitu umat-umat Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Saleh, dan Nabi Syuaib, Allah telah menjelaskan bukti-bukti bahwa Ia ada dan Mahakuasa, tetapi mereka tidak mempercayainya dan mematuhinya. Oleh karena itu, Allah menghancurkannya sehancur-hancurnya sampai lumat, sehingga tidak bersisa lagi. Peristiwa-peristiwa itu hendaknya jadi pelajaran bagi kaum Quraisy dan siapa saja sesudahnya agar mereka beriman.
Juga terdapat bentuk-bentuk lain dari kata itu. Misalnya kata mutabbar dalam Surah al-A‘rāf/7: 139, Innā hā’ulā’i mutabbarun mā hum fīh (Sesungguhnya mereka akan dihancurkan (oleh kepercayaan) yang dianutnya). Mutabbar adalah ism maf’ūl dari kata tabbara. Ayat itu mengisahkan Bani Israil setelah lepas dari kejaran Fir‘aun. Mereka melewati satu komunitas yang menyembah berhala. Maka Bani Israil meminta agar bagi mereka dibuatkan pula tuhan yang dapat dilihat secara jelas seperti itu. Nabi Musa menjelaskan bahwa apa saja yang disembah selain Allah akan hancur lebur, dan yang akan kuasa hanyalah Allah. Juga terdapat bentuk maṣdarnya, yaitu kata tabār dalam Nūh/71: 28, wa lā tazidiẓ-ẓālimīna illā tabārā (Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kehancuran). Itu adalah ucapan Nabi Nuh berkenaan kaumnya yang tidak mau beriman, yaitu bahwa mereka hancur lebur ditelan air bah amat besar.

















































