قَالُوْا سُبْحٰنَكَ مَا كَانَ يَنْۢبَغِيْ لَنَآ اَنْ نَّتَّخِذَ مِنْ دُوْنِكَ مِنْ اَوْلِيَاۤءَ وَلٰكِنْ مَّتَّعْتَهُمْ وَاٰبَاۤءَهُمْ حَتّٰى نَسُوا الذِّكْرَۚ وَكَانُوْا قَوْمًاۢ بُوْرًا
Qālū subḥānaka mā kāna yambagī lanā an nattakhiża min dūnika min auliyā'a wa lākim matta‘tahum wa ābā'ahum ḥattā nasuż-żikr(a), wa kānū qaumam būrā(n).
Mereka (yang disembah itu) menjawab, “Maha Suci Engkau. Tidaklah pantas bagi kami mengambil pelindung selain Engkau,527) tetapi Engkau telah memberi mereka dan nenek moyang mereka kenikmatan hidup sehingga mereka melupakan peringatan dan mereka kaum yang binasa.”
Mereka, yakni sesembahan itu, menjawab dengan bahasa masing-masing, “Mahasuci Engkau dari segala kekurangan dan sifat buruk. Tidaklah pantas bagi kami mengambil pelindung selain Engkau. Maka, mustahil bagi kami memaksa mereka menyembah kami, tetapi mereka sendirilah yang sesat dan tidak tahu berterima kasih. Engkau telah memberi mereka dan nenek moyang mereka kenikmatan hidup, namun mereka lena karenanya sehingga mereka melupakan peringatan dari-Mu; dan mereka adalah kaum yang benar-benar binasa dan pantas mendapat siksa.”
Dengan spontan mereka menjawab pertanyaan Allah yang tidak mereka duga sedikit pun akan dimajukan kepadanya. Mereka serentak menjawab, “Mahasuci Engkau Ya Tuhan kami, tidaklah patut bagi kami mengambil perlindungan selain Engkau. Inilah kepercayaan kami karena tidak ada yang berhak disembah dan diambil jadi pelindung kecuali engkau sajalah. Bagaimana pula kami akan menyuruh orang lain menyembah selain Engkau sedangkan hal itu bertentangan dengan akidah dan iman kami. Mungkin Engkau Ya Tuhan kami telah melimpahkan kepada mereka nikmat dan rahmat-Mu agar mereka bersyukur kepada-Mu tetapi mereka pergunakan nikmat dan rahmat itu untuk kepuasan hawa nafsu mereka, sehingga mereka telah tenggelam dalam kesenangan dan kelezatan. Akhirnya mereka melupakan-Mu dan jatuh ke jurang kesesatan dan tidak dapat ditolong lagi dan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang binasa.”
1. Būrā بُوْرًا (al-Furqān/25: 18)
Akar kata yang terdiri dari (ب – و- ر) mempunyai dua arti. Pertama, rusaknya sesuatu karena sudah tidak berguna lagi. Al-Bawar artinya kerusakan. Al-Baur adalah tanah yang sudah mati. Al-Būr juga berarti lelaki yang sudah rusak yang tidak ada kebaikannya lagi. Inilah yang dimaksud oleh ayat ini. Qauman būrā artinya kaum yang rusak. Kehinaan dan kenistaan telah menyelimuti mereka. Kedua, cobaan atau ujian. Kata al-būr bisa digunakan untuk seorang, banyak perempuan atau banyak lelaki.
2. Ṣarfan walā Naṣrā صَرْفًا وَلَا نَصْراً (al-Furqān/25:18)
Ṣarf merupakan bentuk masdar dari “ṣarafa” ( صرف ). Akar katanya (ص- ر- ف) mempunyai arti mengembalikan sesuatu. Aṣ-Ṣarf ialah mengembalikan sesuatu dari satu keadaan kepada keadaan yang lain atau menggantinya dengan yang lain. Aṣ-Ṣairafi ialah penukar mata uang, karena dia pekerjaannya menukar satu mata uang dengan mata uang lainnya. Dari pengertian ini arti ayat ini ialah bahwa mereka tidak akan mampu membelokkan atau menolak siksaan dari diri mereka sendiri. Atau membelokkan diri mereka dari siksaan. Naṣrā artinya pertolongan. Maksudnya mereka tidak akan mampu menolong baik untuk dirinya sendiri apalagi untuk orang lain.
















































