Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 7 - Surat Al-Ḥadīd (Besi)
الحديد
Ayat 7 / 29 •  Surat 57 / 114 •  Halaman 538 •  Quarter Hizb 54.5 •  Juz 27 •  Manzil 7 • Madaniyah

اٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَاَنْفِقُوْا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُّسْتَخْلَفِيْنَ فِيْهِۗ فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَاَنْفَقُوْا لَهُمْ اَجْرٌ كَبِيْرٌۚ

Āminū billāhi wa rasūlihī wa anfiqū mimmā ja‘alakum mustakhlafīna fīh(i), fal-lażīna āmanū minkum wa anfaqū lahum ajrun kabīr(un).

Berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya serta infakkanlah (di jalan Allah) sebagian dari apa yang Dia (titipkan kepadamu dan) telah menjadikanmu berwenang dalam (penggunaan)-nya. Lalu, orang-orang yang beriman di antaramu dan menginfakkan (hartanya di jalan Allah) memperoleh pahala yang sangat besar.

Makna Surat Al-Hadid Ayat 7
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Bila sebelumnya Allah memperlihatkan bukti-bukti kekuasaan-Nya, pada ayat ini Allah menganjurkan orang mukmin untuk berinfak. Wahai manusia, berimanlah kamu kepada Allah yang telah menciptakanmu dan kepada Rasul yang diutus-Nya untuk menyampaikan tuntunan-Nya, dan infakkanlah sebagian dari harta yang Dia telah menjadikan kamu sebagai penguasanya, kepada orang yang berhak. Sesungguhnya dalam hartamu itu terdapat bagian Allah bagi mereka. Maka, orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya di antara kamu dan menginfakkan sebagian dari hartanya di jalan Allah akan memperoleh pahala yang besar, baik di dunia maupun akhirat.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat ini Allah swt memerintahkan agar beriman kepada-Nya dan rasul-Nya menafkahkan harta-harta yang mereka miliki, karena harta dan anak itu adalah titipan Allah pada seseorang, tentu saja pada suatu hari titipan tersebut akan diambil kembali.

Syu‘bah berkata, “Aku mendengar Qatādah menceritakan tentang Muṭṭarif yang menemui Nabi saw, beliau membaca Surah at-Takāṡur, lalu berkata:

يَقُوْلُ ابْنُ آدَمَ ماَلِيْ ماَلِيْ وَهَلْ لَكَ مِنْ مَالِكَ اِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ وَمَاسِوٰى ذٰلِكَ فَذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ. (رواه مسلم)

Manusia berkata, “Hartaku, hartaku.” Hartamu hanya yang telah engkau makan lalu habis, atau pakaian yang engkau pakai lalu menjadi usang, atau sesuatu yang engkau sedekahkan lalu menjadi kekal (tetap). Maka selain dari itu akan lenyap dan untuk orang lain. (Riwayat Muslim)

Kemudian Allah menerangkan, bahwa orang-orang yang beriman kepada Allah membenarkan rasul-Nya serta menginfakkan harta-harta yang jatuh menjadi milik dari peninggalan orang terdahulu, mereka ini akan mendapat pahala yang besar yang tidak pernah dilihat dan tergores di hati.

Isi Kandungan Kosakata

1. Mustakhlafīn مُسْتَخْلَفِيْ نَ (al-Ḥadīd/57: 7)

Kata mustakhlafīn adalah jamak dari kata mustakhlaf, isim maf‘ūl dari kata istakhlafa-yastakhlifu-istik hlāfan, yang berarti menjadikan khalifah (pengganti). Kata dasarnya adalah khalafa-yakhlifu-khalfan yang berarti menggantikan. Dari kata tersebut diambil kata khalīfah yang berarti pengganti. Allah menciptakan manusia sebagai khalīfah di muka bumi maksudnya sebagai makhluk terpilih untuk mengelola dan memakmurkan bumi, sebagaimana dalam firman Allah, “Sesungguhnya aku menciptakan khalifah di muka bumi..” (al-Baqarah/2: 30). Makna inilah yang dimaksud dari kata mustakhlaf pada ayat yang sedang ditafsirkan ini. Allah memerintahkan kita untuk beriman kepada-Nya dan kepada rasul-Nya secara sempurna, serta memerintahkan kita untuk menginfakkan sebagian dari harta yang ada di tangan kita. Dahulu harta ini adalah milik orang-orang sebelum kita, lalu Allah menjadikannya sebagai pengganti mereka. Karena itu, Allah meme-rintahkan kita untuk menggunakannya dalam rangka ketaatan kepada Allah.

2. Mīrāṡ مِيْرَاث (al-Ḥadīd/57: 10)

Kata mīrāṡ adalah isim maṣdar atau kata jadian dari kata waraṡa-yariṡu-mīrāṡu n yang berarti warisan. Di dalam Al-Qur’an, Allah memberitakan doa Nabi Zakariya, “Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisiku dan mewarisi sebagian keluarga Yakub.” (Maryam/19: 5-6). Maksudnya, seorang putera yang mewarisi kenabiannya. Dari kata ini diambil kata al-wāriṡ, salah satu nama Allah ‘Azza wa Jalla. Dialah yang Mahaabadi, yang mewarisi seluruh makhluk, dan yang abadi setelah mereka fana. Dialah yang abadi setelah segala sesuatu musnah, sehingga apa yang menjadi milik para hamba itu kembali kepada-Nya, tanpa ada sekutu bagi-Nya. Makna yang demikian itu, diungkapkan dengan kata ‘mewarisi’ agar mudah dipahami oleh manusia, karena mereka menyebut apa yang kembali kepada seseorang itu dengan kata warisan bila sesuatu itu menjadi miliknya.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto