وَمَا لَكُمْ لَا تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۚوَالرَّسُوْلُ يَدْعُوْكُمْ لِتُؤْمِنُوْا بِرَبِّكُمْ وَقَدْ اَخَذَ مِيْثَاقَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
Wa mā lakum lā tu'minūna billāh(i), war-rasūlu yad‘ūkum litu'minū birabbikum wa qad akhaża mīṡāqakum in kuntum mu'minīn(a).
Mengapa kamu tidak beriman kepada Allah, padahal Rasul mengajakmu beriman kepada Tuhanmu? Sungguh, Dia telah mengambil janji (setia)-mu jika kamu adalah orang-orang mukmin.
Dan mengapa kamu, wahai manusia, tidak beriman kepada Allah Yang Maha Pencipta, padahal Rasul mengajak dan menyeru kamu beriman kepada Tuhanmu? Dan sungguh, Dia telah mengambil janji setia-mu untuk bertauhid kepada-Nya. Kamu tentu akan menepati janji itu jika kamu adalah orang-orang mukmin.
Dalam ayat ini, Allah mencela orang-orang yang tidak beriman dengan menyatakan, apakah alasan tidak beriman kepada Allah, sedangkan rasul-Nya berada di tengah-tengah kamu yang mengajakmu beriman dan mengesakan-Nya dengan mengemukakan bukti-bukti nyata. Mengenai keimanan manusia Nabi saw pernah bersabda:
أَيُّ الْمُؤْمِنِيْن َ أَعْجَبُ إِلَيْكُمْ إِيْمَانًا؟ قَالُوْا: اَلْمَلَائِكَة ُ، قَالَ: وَمَالَهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ وَهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ، قَالُوْا: فَاْلأَنْبِيَا ءُ، قَالَ: وَمَالَهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ وَالْوَحْيُ يَنْزِلُ عَلَيْهِمْ، قَالُوْا: فَنَحْنُ، قَالَ: وَمَا لَكُمْ لَا تُؤْمِنُوْنَ وَأَنَاَ بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ؟ وَلَكِنْ أَعْجَبُ الْمُؤْمِنِيْن َ اِيْمَانًا قَوْمٌ يَجِيْئُوْنَ بَعْدَكُمْ يَجِدُوْنَ صُحُفًا يُؤْمِنُوْنَ بِمَافِيْهَا. (رواه البخاري)
Menurut kalian, siapakah yang paling mengagumkan keimanannya? Mereka (para sahabat) menjawab, “Malaikat.” Nabi bersabda, “Bagaimana mung-kin mereka tidak beriman sedangkan mereka di sisi Tuhannya.” Lalu mereka menjawab, “Para Nabi.” Nabi menjawab, “Bagaimana mungkin mereka tidak beriman sedangkan mereka menerima wahyu.” Lalu mereka berkata, “Kalau begitu, kamilah orangnya.” Nabi menjawab, “Bagaimana mungkin kalian tidak akan beriman sedangkan aku berada di tengah-tengah kalian. Iman seseorang yang paling mengagumkan ialah mereka yang datang sesudah kalian, membaca Al-Qur’an dan mengimaninya.” (Riwayat al-Bukhārī)
Selanjutnya Allah mencela orang-orang kafir, mengapa kamu tidak ber-iman, padahal Allah telah memperlihatkan bukti ketauhidan-Nya di alam semesta baik secara rasio maupun secara logika. Bumi, langit, laut, daratan dan semua ciptaan Allah yang kamu saksikan baik pada diri kamu maupun pada semua ciptaan-Nya, adalah bukti yang nyata jika kamu benar-benar berpegang kepada-Nya.
Maksudnya adalah bukti wajib beriman kepada Allah dan Rasul-Nya terdapat pada seluruh benda ciptaan-Nya serta para rasul telah membuktikan kebenaran dakwah mereka dan mukjizat-mukjizat, tetapi apa sebabnya lagi kamu tidak mau beriman?
1. Mustakhlafīn مُسْتَخْلَفِيْ نَ (al-Ḥadīd/57: 7)
Kata mustakhlafīn adalah jamak dari kata mustakhlaf, isim maf‘ūl dari kata istakhlafa-yastakhlifu-istik hlāfan, yang berarti menjadikan khalifah (pengganti). Kata dasarnya adalah khalafa-yakhlifu-khalfan yang berarti menggantikan. Dari kata tersebut diambil kata khalīfah yang berarti pengganti. Allah menciptakan manusia sebagai khalīfah di muka bumi maksudnya sebagai makhluk terpilih untuk mengelola dan memakmurkan bumi, sebagaimana dalam firman Allah, “Sesungguhnya aku menciptakan khalifah di muka bumi..” (al-Baqarah/2: 30). Makna inilah yang dimaksud dari kata mustakhlaf pada ayat yang sedang ditafsirkan ini. Allah memerintahkan kita untuk beriman kepada-Nya dan kepada rasul-Nya secara sempurna, serta memerintahkan kita untuk menginfakkan sebagian dari harta yang ada di tangan kita. Dahulu harta ini adalah milik orang-orang sebelum kita, lalu Allah menjadikannya sebagai pengganti mereka. Karena itu, Allah meme-rintahkan kita untuk menggunakannya dalam rangka ketaatan kepada Allah.
2. Mīrāṡ مِيْرَاث (al-Ḥadīd/57: 10)
Kata mīrāṡ adalah isim maṣdar atau kata jadian dari kata waraṡa-yariṡu-mīrāṡu n yang berarti warisan. Di dalam Al-Qur’an, Allah memberitakan doa Nabi Zakariya, “Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisiku dan mewarisi sebagian keluarga Yakub.” (Maryam/19: 5-6). Maksudnya, seorang putera yang mewarisi kenabiannya. Dari kata ini diambil kata al-wāriṡ, salah satu nama Allah ‘Azza wa Jalla. Dialah yang Mahaabadi, yang mewarisi seluruh makhluk, dan yang abadi setelah mereka fana. Dialah yang abadi setelah segala sesuatu musnah, sehingga apa yang menjadi milik para hamba itu kembali kepada-Nya, tanpa ada sekutu bagi-Nya. Makna yang demikian itu, diungkapkan dengan kata ‘mewarisi’ agar mudah dipahami oleh manusia, karena mereka menyebut apa yang kembali kepada seseorang itu dengan kata warisan bila sesuatu itu menjadi miliknya.

















































