لِّيَجْعَلَ مَا يُلْقِى الشَّيْطٰنُ فِتْنَةً لِّلَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ وَّالْقَاسِيَةِ قُلُوْبُهُمْۗ وَاِنَّ الظّٰلِمِيْنَ لَفِيْ شِقَاقٍۢ بَعِيْدٍ ۙ
Liyaj‘ala mā yulqisy-syaiṭānu fitnatal lil-lażīna fī qulūbihim maraḍuw wal-qāsiyati qulūbuhum, wa innaẓ-ẓālimīna lafī syiqāqim ba‘īd(in).
Dia (Allah) hendak menjadikan apa yang dilontarkan setan itu sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan hatinya keras. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu benar-benar dalam perselisihan yang jauh (dari kebenaran).
Allah mengizinkan setan menyisipkan kata-kata sesat ke dalam ayat-ayat-Nya ketika diwahyukan, karena Dia ingin menjadikan kata-kata sesat yang ditimbulkan setan itu sebagai cobaan yang bisa menyesatkan, bagi orang-orang yang lemah iman yaitu bagi orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit kemunafikan dan orang yang berhati keras sehingga tertutup dari cahaya Allah. Dan sungguh orang-orang yang zalim itu, karena meyakini kata-kata setan itu bagian dari wahyu Allah, benar-benar dalam permusuhan terhadap Allah dan Rasul-Nya yang jauh dari kebenaran.
Allah menjelaskan berbagai usaha setan-setan beserta pengikutpengikutnya untuk memperdayakan manusia dengan menambah pengertian yang salah dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan dalam agama Islam. Perbuatan mereka itu menjadi cobaan bagi manusia, terutama bagi orang-orang yang beriman, orang-orang yang ingkar dan sesat hatinya serta orang-orang munafik. Godaan setan itu menambahkan sesat dan menimbulkan penyakit dalam hatinya, sehingga kekafiran dan kemunafikan mereka bertambah.
Sedang orang-orang yang kuat imannya tidak akan tertipu oleh setan, setiap godaan setan yang datang kepadanya akan menambah kuat imannya. Sebaliknya orang-orang yang sesat hatinya dan ada penyakit di dalamnya akan jauh menyimpang dari jalan yang benar, karena itu sukar bagi mereka kembali ke jalan yang benar. Mereka tidak dapat lagi mengharapkan keridaan Allah dan tidak akan lepas dari siksaan Allah.
1. Alqasy-Syaiṭān أَلْقَى الشَّيْطَانُ (al-Ḥajj/22: 52)
Akar kata alqa adalah (ل- ق- ي) mempunyai beberapa arti antara lain bertemunya dua hal. Liqa’ adalah pertemuan. Juga mengandung arti membuang dan melempar sesuatu. Kata syaiṭān bisa terambil dari dua akar kata. Pertama, dari (ش- ط- ن) yang berarti jauh, karena setan jauh dari ke-benaran. Sesuatu yang jauh dari kebenaran, melampaui batas, sombong, congkak, baik dari jenis manusia atau jin disebut setan. Kedua, bisa juga ter-ambil dari akar kata (ش- ي- ط) dimana nūn tidak termasuk akar kata, yang artinya pergi atau larinya sesuatu baik karena terbakar atau lainnya. Bisa juga berarti binasa dan batil. Dari beberapa kemungkinan arti ini setan berarti simbol keburukan. Ungkapan alqasy-syaiṭān dalam ayat ini berarti setan melemparkan atau memasukkan sesuatu godaan terhadap keinginan Nabi.
2. Umniyyatih أُمْنِيَّتِهِ (al-Ḥajj/22:52)
Kata أمنية asalnya adalah أمنوية mengikuti wazan أفعولة , setelah terjadi perubahan (i’lal) maka muncul kata أمنية . Akar katanya adalah (م- ن- ي huruf illat) yang artinya ialah memperkirakan sesuatu . Dari pengertian ini muncul dua kemungkinan arti. Pertama, keinginan yang ada dalam hati terhadap apa yang ada dan apa yang tidak ada. Kedua, membaca. Suatu keinginan adalah apa yang diperkirakan dalam hati seseorang agar dia bisa mendapatkannya, begitu juga membaca adalah memperkirakan huruf-huruf yang akan dibaca didalam hati untuk kemudian disebutkan satu persatu. Perbedaan terhadap pemberian arti kata تمنى dan أمنيته akan berdampak kepada penafsiran ayat 52 ini. Jika yang dimaksud adalah “bacaan” maka maksud tersebut ialah bahwa jika seorang nabi atau rasul membaca satu atau beberapa ayat, maka setan langsung melemparkan pernyataan-pernyataan bohong (syubuhat) kepada pengikut-pengikutnya agar mereka menolak dan mendebat dengan kebatilan terhadap kebenaran ayat-ayat tersebut. Bisa juga setan memperdengarkan perkataan-perkataan batil kepada pengikutnya seakan-akan perkataan tersebut berasal dari nabi, padahal nabi tidak mengatakannya demikian. Dan jika yang dimaksud adalah “keinginan diri” maka maksud ayat ini ialah bahwa jika nabi atau rasul mempunyai satu keinginan maka setan juga melakukan hal yang serupa, padahal nabi sama sekali tidak mengatakan demikian. Ayat ini memberikan ketenteraman kepada Nabi bahwa hal-hal yang batil tersebut tidak akan terjadi dan Allah akan membatalkan apa yang dilemparkan oleh setan tersebut sehingga wahyu Allah tetap terjaga. Ayat ini juga bisa menunjukkan bahwa Al-Qur’an akan terus dijaga oleh Allah. Segala upaya untuk membelokkan Al-Qur’an dari arah yang sebenarnya akan ditangkal oleh Allah.

