وَّلِيَعْلَمَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَيُؤْمِنُوْا بِهٖ فَتُخْبِتَ لَهٗ قُلُوْبُهُمْۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَهَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ
Wa liya‘lamal-lażīna ūtul-‘ilma annahul-ḥaqqu mir rabbika fa yu'minū bihī fa tukhbita lahū qulūbuhum, wa innallāha lahādil-lażīna āmanū ilā ṣirāṭim mustaqīm(in).
Agar orang-orang yang telah diberi ilmu itu mengetahui bahwa ia (Al-Qur’an) adalah kebenaran dari Tuhanmu sehingga mereka beriman dan hati mereka tunduk kepadanya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemberi petunjuk kepada orang-orang yang beriman ke jalan yang lurus.
Penjelasan Allah di dua ayat di atas bertujuan agar orang-orang yang telah diberi ilmu akal dan ilmu kalbu meyakini bahwa Al-Qur’an itu benar dari Tuhanmu, tidak akan pernah bisa disusupi kata-kata setan; lalu mereka beriman kepada Al-Qur’an dengan mantap; dan hati mereka pun tunduk kepadanya tanpa ada keraguan sedikit pun. Dan sungguh, Allah adalah Maha Pemberi Petunjuk bagi orang-orang beriman kepada jalan yang lurus, agama Islam yang hanif, karena pikiran, perasaan, dan ruhaninya tercerahkan dengan cahaya Allah.
Allah melakukan yang demikian itu agar orang-orang yang berilmu pengetahuan mengetahui dan merenungkan segala macam hukum yang telah ditetapkan Allah, pokok-pokok sunnatullah, segala macam subhat dan penafsiran ayat-ayat dengan cara yang salah yang dibuat oleh setan dan pengikut-pengikutnya. Dengan pengetahuan dan pengalaman itu diharapkan iman mereka bertambah, meyakini bahwa Al-Qur’an itu benar-benar berasal dari Allah. sebagaimana mereka meyakini bahwa Allah menjamin keaslian Al-Qur’an dari campur tangan manusia di dalamnya dan dari penafsiran yang salah.
Karena itu hendaklah orang-orang yang beriman yang telah dapat membedakan antara yang benar dan yang salah, antara iman dan kufur menundukkan dan menyerahkan diri kepada Allah. Membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh, melaksanakan segala yang diperintah-kan-Nya, menghentikan segala larangan-Nya, baik yang berhubungan dengan ibadah, muamalat, budi pekerti, hukum dan tata cara bergaul dalam kehidupan masyarakat.
Kemudian ditegaskan bahwa Allah benar-benar akan memberi petunjuk dan taufik kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengikuti semua rasul. Petunjuk dan taufik yang diberikan Allah kepada hamba-Nya dilakukan dengan bermacam cara. Ada cara yang langsung dan ada pula dengan cara yang tidak langsung, kadang-kadang manusia sendiri menyadari bahwa ia telah menerima petunjuk itu.
Dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad saw banyak didapati saat-saat Allah memberikan petunjuk yang langsung kepadanya. Di antaranya petunjuk-petunjuk Allah kepadanya adalah teguran Allah kepada Nabi, ketika Nabi melakukan perbuatan yang dianggap tidak layak dilakukan oleh rasul, misalnya teguran-Nya kepada Nabi karena meremehkan seorang sahabat yang bertanya kepadanya, Nabi sedang sibuk dengan pembesar Quriasy. Di antara contoh-contohnya ialah sebagai berikut:
Imam Ibnu Jarīr meriwayatkan bahwa Ibnu Ummi Maktum, seorang sahabat Nabi yang buta dan miskin. Pada suatu hari ia datang menghadap Nabi dan ia berkata, “Ya Rasulullah, bacakan dan ajarkanlah kepadaku apa yang telah diajarkan Allah kepadamu.” Ia mengulangi perkataan itu tiga kali. Waktu Ibnu Ummi Maktum bertanya, Rasul saw sedang menerima pembesar Quraisy, yaitu Walid bin Mugirah dan konon musuh umat Islam, sedang Ibnu Ummi Maktum tidak melihat dan mengetahui pula bahwa Rasulullah sedang sibuk menerima tamu-tamunya. Karena itu Rasulullah saw merasa kurang senang dengan permintaan Ibnu Ummi Maktum, beliau bermuka masam dan berpaling daripadanya. Sikap Rasulullah terhadap Ibnu Ummi Maktum itu ditegur Allah dengan firman-Nya:
عَبَسَ وَتَوَلّٰىٓۙ ١ اَنْ جَاۤءَهُ الْاَعْمٰىۗ ٢ وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰىٓۙ ٣ اَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرٰىۗ ٤ اَمَّا مَنِ اسْتَغْنٰىۙ ٥ فَاَنْتَ لَهٗ تَصَدّٰىۗ ٦ وَمَا عَلَيْكَ اَلَّا يَزَّكّٰىۗ ٧ وَاَمَّا مَنْ جَاۤءَكَ يَسْعٰىۙ ٨ وَهُوَ يَخْشٰىۙ ٩ فَاَنْتَ عَنْهُ تَلَهّٰىۚ ١٠ كَلَّآ اِنَّهَا تَذْكِرَةٌ ۚ ١١
Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling, karena seorang buta telah datang kepadanya (Abdullah bin Ummi Maktum). Dan tahukah engkau (Muhammad) barangkali dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, yang memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (pembesar-pembesar Quraisy), maka engkau (Muhammad) memberi perhatian kepadanya, padahal tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang dia takut (kepada Allah), engkau (Muhammad) malah mengabaikannya. Sekali-kali jangan (begitu)! Sungguh, (ajaran-ajaran Allah) itu suatu peringatan. (‘Abasa/80: 1-11)
Dengan teguran Allah itu Rasulullah menjadi sadar akan kesalahannya, sejak waktu itu beliau tambah menghormati sahabat-sahabat beliau, termasuk menghormati Ibnu Ummi Maktum sendiri. Teguran Allah inilah yang membedakan posisi Nabi dengan manusia biasa.
1. Alqasy-Syaiṭān أَلْقَى الشَّيْطَانُ (al-Ḥajj/22: 52)
Akar kata alqa adalah (ل- ق- ي) mempunyai beberapa arti antara lain bertemunya dua hal. Liqa’ adalah pertemuan. Juga mengandung arti membuang dan melempar sesuatu. Kata syaiṭān bisa terambil dari dua akar kata. Pertama, dari (ش- ط- ن) yang berarti jauh, karena setan jauh dari ke-benaran. Sesuatu yang jauh dari kebenaran, melampaui batas, sombong, congkak, baik dari jenis manusia atau jin disebut setan. Kedua, bisa juga ter-ambil dari akar kata (ش- ي- ط) dimana nūn tidak termasuk akar kata, yang artinya pergi atau larinya sesuatu baik karena terbakar atau lainnya. Bisa juga berarti binasa dan batil. Dari beberapa kemungkinan arti ini setan berarti simbol keburukan. Ungkapan alqasy-syaiṭān dalam ayat ini berarti setan melemparkan atau memasukkan sesuatu godaan terhadap keinginan Nabi.
2. Umniyyatih أُمْنِيَّتِهِ (al-Ḥajj/22:52)
Kata أمنية asalnya adalah أمنوية mengikuti wazan أفعولة , setelah terjadi perubahan (i’lal) maka muncul kata أمنية . Akar katanya adalah (م- ن- ي huruf illat) yang artinya ialah memperkirakan sesuatu . Dari pengertian ini muncul dua kemungkinan arti. Pertama, keinginan yang ada dalam hati terhadap apa yang ada dan apa yang tidak ada. Kedua, membaca. Suatu keinginan adalah apa yang diperkirakan dalam hati seseorang agar dia bisa mendapatkannya, begitu juga membaca adalah memperkirakan huruf-huruf yang akan dibaca didalam hati untuk kemudian disebutkan satu persatu. Perbedaan terhadap pemberian arti kata تمنى dan أمنيته akan berdampak kepada penafsiran ayat 52 ini. Jika yang dimaksud adalah “bacaan” maka maksud tersebut ialah bahwa jika seorang nabi atau rasul membaca satu atau beberapa ayat, maka setan langsung melemparkan pernyataan-pernyataan bohong (syubuhat) kepada pengikut-pengikutnya agar mereka menolak dan mendebat dengan kebatilan terhadap kebenaran ayat-ayat tersebut. Bisa juga setan memperdengarkan perkataan-perkataan batil kepada pengikutnya seakan-akan perkataan tersebut berasal dari nabi, padahal nabi tidak mengatakannya demikian. Dan jika yang dimaksud adalah “keinginan diri” maka maksud ayat ini ialah bahwa jika nabi atau rasul mempunyai satu keinginan maka setan juga melakukan hal yang serupa, padahal nabi sama sekali tidak mengatakan demikian. Ayat ini memberikan ketenteraman kepada Nabi bahwa hal-hal yang batil tersebut tidak akan terjadi dan Allah akan membatalkan apa yang dilemparkan oleh setan tersebut sehingga wahyu Allah tetap terjaga. Ayat ini juga bisa menunjukkan bahwa Al-Qur’an akan terus dijaga oleh Allah. Segala upaya untuk membelokkan Al-Qur’an dari arah yang sebenarnya akan ditangkal oleh Allah.

