وَلَا يَزَالُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِيْ مِرْيَةٍ مِّنْهُ حَتّٰى تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً اَوْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابُ يَوْمٍ عَقِيْمٍ
Wa lā yazālul-lażīna kafarū fī miryatim minhu ḥattā ta'tiyahumus-sā‘atu bagtatan au ya'tiyahum ‘ażābu yaumin ‘aqīm(in).
Orang-orang yang kufur itu senantiasa dalam keraguan mengenai hal itu (Al-Qur’an), hingga saat (kematian) datang kepada mereka dengan tiba-tiba atau azab hari Kiamat datang kepada mereka.
Berbeda dengan orang-orang yang diberi ilmu, lalu beriman kepada Al-Qur’an dengan mantap, bahwa orang-orang kafir itu senantiasa ragu mengenai Al-Qur’an dengan keraguan yang terus-menerus hingga saat kematian datang kepada mereka dengan tiba-tiba, atau bahkan keraguan mereka itu terbawa hingga merasakan azab hari Kiamat yang datang kepada mereka dengan cepat.
Ayat ini menjelaskan sikap orang kafir terhadap Al-Qur’an, mereka tidak percaya terhadap Al-Qur’an, mekipun telah datang bukti-bukti kebenaran Al-Qur’an sebagai kalamullah bukan ciptaan Muhammad.
Dengan teguran Allah kepada Nabi yang tidak layak di atas, orang kafir tetap ragu dan tidak mau beriman kepada Allah sampai hari Kiamat atau sampai datang azab kepada mereka.
1. Alqasy-Syaiṭān أَلْقَى الشَّيْطَانُ (al-Ḥajj/22: 52)
Akar kata alqa adalah (ل- ق- ي) mempunyai beberapa arti antara lain bertemunya dua hal. Liqa’ adalah pertemuan. Juga mengandung arti membuang dan melempar sesuatu. Kata syaiṭān bisa terambil dari dua akar kata. Pertama, dari (ش- ط- ن) yang berarti jauh, karena setan jauh dari ke-benaran. Sesuatu yang jauh dari kebenaran, melampaui batas, sombong, congkak, baik dari jenis manusia atau jin disebut setan. Kedua, bisa juga ter-ambil dari akar kata (ش- ي- ط) dimana nūn tidak termasuk akar kata, yang artinya pergi atau larinya sesuatu baik karena terbakar atau lainnya. Bisa juga berarti binasa dan batil. Dari beberapa kemungkinan arti ini setan berarti simbol keburukan. Ungkapan alqasy-syaiṭān dalam ayat ini berarti setan melemparkan atau memasukkan sesuatu godaan terhadap keinginan Nabi.
2. Umniyyatih أُمْنِيَّتِهِ (al-Ḥajj/22:52)
Kata أمنية asalnya adalah أمنوية mengikuti wazan أفعولة , setelah terjadi perubahan (i’lal) maka muncul kata أمنية . Akar katanya adalah (م- ن- ي huruf illat) yang artinya ialah memperkirakan sesuatu . Dari pengertian ini muncul dua kemungkinan arti. Pertama, keinginan yang ada dalam hati terhadap apa yang ada dan apa yang tidak ada. Kedua, membaca. Suatu keinginan adalah apa yang diperkirakan dalam hati seseorang agar dia bisa mendapatkannya, begitu juga membaca adalah memperkirakan huruf-huruf yang akan dibaca didalam hati untuk kemudian disebutkan satu persatu. Perbedaan terhadap pemberian arti kata تمنى dan أمنيته akan berdampak kepada penafsiran ayat 52 ini. Jika yang dimaksud adalah “bacaan” maka maksud tersebut ialah bahwa jika seorang nabi atau rasul membaca satu atau beberapa ayat, maka setan langsung melemparkan pernyataan-pernyataan bohong (syubuhat) kepada pengikut-pengikutnya agar mereka menolak dan mendebat dengan kebatilan terhadap kebenaran ayat-ayat tersebut. Bisa juga setan memperdengarkan perkataan-perkataan batil kepada pengikutnya seakan-akan perkataan tersebut berasal dari nabi, padahal nabi tidak mengatakannya demikian. Dan jika yang dimaksud adalah “keinginan diri” maka maksud ayat ini ialah bahwa jika nabi atau rasul mempunyai satu keinginan maka setan juga melakukan hal yang serupa, padahal nabi sama sekali tidak mengatakan demikian. Ayat ini memberikan ketenteraman kepada Nabi bahwa hal-hal yang batil tersebut tidak akan terjadi dan Allah akan membatalkan apa yang dilemparkan oleh setan tersebut sehingga wahyu Allah tetap terjaga. Ayat ini juga bisa menunjukkan bahwa Al-Qur’an akan terus dijaga oleh Allah. Segala upaya untuk membelokkan Al-Qur’an dari arah yang sebenarnya akan ditangkal oleh Allah.

