Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 56 - Surat Al-Ḥajj (Haji)
الحجّ
Ayat 56 / 78 •  Surat 22 / 114 •  Halaman 339 •  Quarter Hizb 34.5 •  Juz 17 •  Manzil 4 • Madaniyah

اَلْمُلْكُ يَوْمَىِٕذٍ لِّلّٰهِ ۗيَحْكُمُ بَيْنَهُمْۗ فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فِيْ جَنّٰتِ النَّعِيْمِ

Al-mulku yauma'iżil lillāh(i), yaḥkumu bainahum, fal-lażīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti fī jannātin na‘īm(i).

Segala kekuasaan pada hari itu hanya milik Allah. Dia memberi keputusan di antara mereka. Orang-orang yang beriman dan beramal saleh berada di dalam surga-surga Na‘im (yang penuh kenikmatan).

Makna Surat Al-Hajj Ayat 56
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Pada ayat ini ditegaskan, baik orang yang beriman kepada Al-Qur’an maupun yang kufur, pada hari Kiamat kehilangan kekuasaannya. Kekuasaan pada hari itu hanya ada pada Allah. Dia memberi keputusan di antara mereka yang beriman dan yang kufur dengan seadil-adilnya. Maka orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan selama hidupnya di dunia berada dalam surga-surga yang penuh kenikmatan yang kekal selama-lamanya.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Allah menerangkan bahwa apabila telah datang hari Kiamat, maka segalanya berada di tangan Allah. Dialah yang berkuasa pada waktu itu dan berkuasa menyelesaikan segala sesuatu dengan memberikan balasan yang layak kepada manusia, sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukannya selama hidup di dunia.

Orang-orang yang beriman kepada Al-Qur’an, mengamalkan segala yang terkandung di dalamnya, beriman kepada Muhammad sebagai Rasul Allah, mengamalkan hadis-hadisnya melaksanakan perintah-perintah Allah dan menghentikan larangan-larangan-Nya, akan diberi balasan surga yang penuh kenikmatan. Mereka memperoleh apa yang dikehendakinya, merasakan kebahagiaan, kesenangan yang belum pernah mereka rasakan selama hidup di dunia.

Isi Kandungan Kosakata

1. Alqasy-Syaiṭān أَلْقَى الشَّيْطَانُ (al-Ḥajj/22: 52)

Akar kata alqa adalah (ل- ق- ي) mempunyai beberapa arti antara lain bertemunya dua hal. Liqa’ adalah pertemuan. Juga mengandung arti membuang dan melempar sesuatu. Kata syaiṭān bisa terambil dari dua akar kata. Pertama, dari (ش- ط- ن) yang berarti jauh, karena setan jauh dari ke-benaran. Sesuatu yang jauh dari kebenaran, melampaui batas, sombong, congkak, baik dari jenis manusia atau jin disebut setan. Kedua, bisa juga ter-ambil dari akar kata (ش- ي- ط) dimana nūn tidak termasuk akar kata, yang artinya pergi atau larinya sesuatu baik karena terbakar atau lainnya. Bisa juga berarti binasa dan batil. Dari beberapa kemungkinan arti ini setan berarti simbol keburukan. Ungkapan alqasy-syaiṭān dalam ayat ini berarti setan melemparkan atau memasukkan sesuatu godaan terhadap keinginan Nabi.

2. Umniyyatih أُمْنِيَّتِهِ (al-Ḥajj/22:52)

Kata أمنية asalnya adalah أمنوية mengikuti wazan أفعولة , setelah terjadi perubahan (i’lal) maka muncul kata أمنية . Akar katanya adalah (م- ن- ي huruf illat) yang artinya ialah memperkirakan sesuatu . Dari pengertian ini muncul dua kemungkinan arti. Pertama, keinginan yang ada dalam hati terhadap apa yang ada dan apa yang tidak ada. Kedua, membaca. Suatu keinginan adalah apa yang diperkirakan dalam hati seseorang agar dia bisa mendapatkannya, begitu juga membaca adalah memperkirakan huruf-huruf yang akan dibaca didalam hati untuk kemudian disebutkan satu persatu. Perbedaan terhadap pemberian arti kata تمنى dan أمنيته akan berdampak kepada penafsiran ayat 52 ini. Jika yang dimaksud adalah “bacaan” maka maksud tersebut ialah bahwa jika seorang nabi atau rasul membaca satu atau beberapa ayat, maka setan langsung melemparkan pernyataan-pernyataan bohong (syubuhat) kepada pengikut-pengikutnya agar mereka menolak dan mendebat dengan kebatilan terhadap kebenaran ayat-ayat tersebut. Bisa juga setan memperdengarkan perkataan-perkataan batil kepada pengikutnya seakan-akan perkataan tersebut berasal dari nabi, padahal nabi tidak mengatakannya demikian. Dan jika yang dimaksud adalah “keinginan diri” maka maksud ayat ini ialah bahwa jika nabi atau rasul mempunyai satu keinginan maka setan juga melakukan hal yang serupa, padahal nabi sama sekali tidak mengatakan demikian. Ayat ini memberikan ketenteraman kepada Nabi bahwa hal-hal yang batil tersebut tidak akan terjadi dan Allah akan membatalkan apa yang dilemparkan oleh setan tersebut sehingga wahyu Allah tetap terjaga. Ayat ini juga bisa menunjukkan bahwa Al-Qur’an akan terus dijaga oleh Allah. Segala upaya untuk membelokkan Al-Qur’an dari arah yang sebenarnya akan ditangkal oleh Allah.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto