فَكَاَيِّنْ مِّنْ قَرْيَةٍ اَهْلَكْنٰهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ فَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلٰى عُرُوْشِهَاۖ وَبِئْرٍ مُّعَطَّلَةٍ وَّقَصْرٍ مَّشِيْدٍ
Fa ka'ayyim min qaryatin ahlaknāhā wa hiya ẓālimatun fa hiya khāwiyatun ‘alā ‘urūsyihā, wa bi'rim mu‘aṭṭalatiw wa qaṣrim masyīd(in).
Betapa banyak negeri yang telah Kami binasakan karena (penduduk)-nya dalam keadaan zalim sehingga bangunan-bangunannya runtuh dan (betapa banyak pula) sumur yang ditelantarkan serta istana tinggi (yang ditinggalkan).
Allah menurunkan adzabnya kepada umat-umat terdahulu yang telah mendustakan dan mengingkari ajaran para rasul-Nya yang diutus kepada mereka. "Maka, betapa banyak negeri yang telah Kami binasakan, karena penduduknya dalam keadaan zalim terhadap diri mereka sendiri dengan tidak beriman dan bertindak sewenang-wenang terhadap para rasul, menghina, mendustakan, dan membunuh mereka, lalu kami mengazab mereka sehingga runtuhlah bangunan-bangunannya; dan betapa banyak pula sumur yang telah ditinggalkan, karena penduduk negeri itu telah binasa; dan istana yang tinggi, mewah dan indah telah menjadi rumah tua yang tidak ada penghuninya," demikian Allah menjelaskan.
Ayat ini menerangkan bahwa banyak negeri yang telah dibinasakan Allah, karena penduduknya menyekutukan Allah, membuat kerusakan di muka bumi dan berlaku zalim. Banyak negeri yang dihancur luluhkan, atap-atap rumahnya roboh, kemudian ditimpa oleh reruntuhan dindingdindingnya. Banyak sumur-sumur yang tidak dipergunakan lagi oleh pemiliknya disebabkan para pemiliknya telah meninggal atau musnah bersamasama dengan musnahnya negeri-negeri itu, karena kedurhakaan mereka kepada Allah. Demikian pula banyak istana-istana dan mahligai-mahligai menjulang tinggi yang telah kosong, tidak berpenghuni lagi, karena penghuni-penghuninya yang angkuh dan sewenang-wenang itu telah musnah. Semuanya itu bagi mereka merupakan imbalan dari kedurhakaan dan keganasan mereka dan menjadi pelajaran yang berharga, bagi manusia yang datang kemudian, yang ingin memperoleh kebahagian di dunia dan di akhirat.
1. Bi’r Mu’aṭṭalah بِئْرٍ مُعَطَّلَةٍ (al-Ḥajj/22:45)
Artinya sumur yang sudah ditinggalkan. Kata mu’aṭṭalah, akar katanya adalah ع- ط- ل)) menunjukkan arti kosong (khuluw-farag). Dari pengertian asal ini muncul pengertian lain seperti tidak diperhatikan, dibiarkan, dan lain sebagainya terkait dengan konteksnya. Seperti unta yang ditinggalkan dan dibiarkan begitu saja oleh pemiliknya. Firman Allah ( واذا العشار عطلت ) (at-Takwīr/81:4) artinya “Dan ketika unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan).” Sumur yang sudah tidak digunakan dan tidak dipakai lagi, juga disebut dengan bi’r mu’aṭṭalah sebagaimana pada ayat ini. Baik unta maupun sumur adalah dua kekayaan yang sangat berharga bagi orang arab atau orang yang mendiami padang pasir. Jika kedua hal tersebut sudah tidak diperhatikan lagi atau ditinggalkan, berarti pasti ada hal yang sangat menyibukkan penghuninya sehingga tidak memperdulikannya lagi, apakah mereka lari seperti pada surah at-Takwīr, atau mati seperti pada ayat ini.
2.Qaṣr Masyīd قَصْرٍ مَشِيْدٍ (Al-Hajj/22:45)
Artinya Istana yang tinggi. Kata qaṣr akar katanya adalah ق- ص- ر)) yang mempunyai dua pengertian. Pertama, tidak tercapainya sesuatu pada puncaknya. Salat yang diqasr adalah salat yang tidak disempurnakan. Seperti empat rakaat menjadi dua rakaat. Qaṣr juga lawan dari ṭūl (tinggi). At-taqṣir ialah lalai, lengah, karena tidak dikerjakan dengan sebenarnya. Kedua, tertahan. Allah menggambarkan bidadari surga yang pandangan matanya tidak diarahkan kecuali kepada suaminya sendiri dengan firman-Nya: (قاصرات الطرف ) ar-Raḥmān/55: 56. Begitu juga bidadari yang dipingit dalam rumah/kemah disebutnya sebagai (حور مقصورات فى الخيام) (ar-Raḥmān/55:72). Satu ruangan dalam mesjid, biasanya didekat mihrab, seperti kerangkeng yang diperuntukkan untuk orang penting disebut “maqṣūrah.”
Istana disebut dengan qaṣr karena bangunan istana mengepung orang yang berada didalamnya, sehingga orang yang ada didalamnya seperti tertahan.
Masyīd berakar kata (ش-ي- د) yang berarti tingginya sesuatu. Asy-Syīd الشيد adalah juga berarti benda untuk melabur dinding atau benda campuran untuk membangun. Al-Isyadah adalah mengangkat citra seseorang. Dengan demikian maka ungkapan Qaṣr Masyid bisa berarti istana yang dibangun, didirikan atau ditinggikan.
Sekali lagi qaṣr adalah tempat yang sangat berharga bagi penghuninya. Tapi dosa yang dilakukan oleh mereka menyebabkan mereka dibinasakan oleh Allah. Semua harta peninggalan mereka termasuk qaṣr ditinggal.

