Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 46 - Surat Al-Ḥajj (Haji)
الحجّ
Ayat 46 / 78 •  Surat 22 / 114 •  Halaman 337 •  Quarter Hizb 34.5 •  Juz 17 •  Manzil 4 • Madaniyah

اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَتَكُوْنَ لَهُمْ قُلُوْبٌ يَّعْقِلُوْنَ بِهَآ اَوْ اٰذَانٌ يَّسْمَعُوْنَ بِهَاۚ فَاِنَّهَا لَا تَعْمَى الْاَبْصَارُ وَلٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوْبُ الَّتِيْ فِى الصُّدُوْرِ

Afalam yasīrū fil-arḍi fa takūna lahum qulūbuy ya‘qilūna bihā au āżānuy yasma‘ūna bihā, fa innahā lā ta‘mal-abṣāru wa lākin ta‘mal-qulūbul-latī fiṣ-ṣudūr(i).

Tidakkah mereka berjalan di bumi sehingga hati mereka dapat memahami atau telinga mereka dapat mendengar? Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang berada dalam dada.

Makna Surat Al-Hajj Ayat 46
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Allah lalu bertanya kepada orang-orang yang menolak ajaran Allah yang dibawa Rasulullah, "Maka apakah mereka tidak pernah berjalan di bumi menyaksikan peninggalan umat terdahulu atau mengkajinya secara mendalam sehingga kalbu, kecerdasan emosi, dan spiritual mereka dapat memahami atau merenungkan ajaran Al-Qur’an atau telinga mereka dapat mendengar ajakan Rasul untuk beriman kepada Allah?" Mata, telinga, dan pikiran mereka tertutup. Oleh sebab itu, sejatinya bukan mata lahiriah mereka itu yang buta sehingga tidak dapat melihat bukti-bukti kebenaran ajaran Rasulullah, tetapi yang buta adalah mata hati mereka yang ada di dalam dada mereka.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Orang-orang musyrik Mekah yang mendustakan ayat-ayat Allah, dan mengingkari seruan Nabi Muhammad saw sebenarnya mereka sering melakukan perjalanan antara Mekah dan Syiria, serta ke negeri-negeri yang berada di sekitar Jazirah Arab. Mereka membawa barang dagangan dalam perjalanan melihat bekas-bekas reruntuhan negeri umat-umat yang dahulu telah dihancurkan Allah, seperti bekas-bekas negeri kaum ‘Ād dan kaum Ṡamūd, bekas reruntuhan negeri kaum Lut dan kaum Syu’aib dan sebagainya. Orang-orang musyrik Mekah telah pula mendengar kisah tragis kaum yang durhaka itu. Apakah semua peristiwa dan kejadian itu tidak mereka pikirkan dan renungkan bahwa tindakan mereka mengingkari seruan Muhammad dan menyiksa para sahabat itu sama dengan tindakan-tindakan umat-umat dahulu terhadap para rasul yang diutus kepada mereka? Jika tindakan itu sama, tentu akibatnya akan sama pula, yaitu mereka akan memperoleh malapetaka dan azab yang keras dari Allah. Allah Mahakuasa melakukan segala yang dikehendaki-Nya, tidak seorang pun yang sanggup menghalanginya.

Melihat sikap orang-orang musyrik Mekah yang demikian, ternyata mata mereka tidaklah buta, karena mereka dapat melihat bekas-bekas reruntuhan negeri kaum yang durhaka itu, tetapi sebenarnya hati merekalah yang telah buta, telah tertutup untuk menerima kebenaran. Yang menutup hati mereka itu ialah pengaruh adat kebiasaan dan kepercayaan mereka dari nenek moyang mereka dahulu. Oleh karena itu mereka merasa dengki kepada Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya, sehingga mereka tidak dapat lagi memikirkan dan merenungkan segala macam peristiwa duka yang telah terjadi dan menimpa umat-umat terdahulu.

Isi Kandungan Kosakata

1. Bi’r Mu’aṭṭalah بِئْرٍ مُعَطَّلَةٍ (al-Ḥajj/22:45)

Artinya sumur yang sudah ditinggalkan. Kata mu’aṭṭalah, akar katanya adalah ع- ط- ل)) menunjukkan arti kosong (khuluw-farag). Dari pengertian asal ini muncul pengertian lain seperti tidak diperhatikan, dibiarkan, dan lain sebagainya terkait dengan konteksnya. Seperti unta yang ditinggalkan dan dibiarkan begitu saja oleh pemiliknya. Firman Allah ( واذا العشار عطلت ) (at-Takwīr/81:4) artinya “Dan ketika unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan).” Sumur yang sudah tidak digunakan dan tidak dipakai lagi, juga disebut dengan bi’r mu’aṭṭalah sebagaimana pada ayat ini. Baik unta maupun sumur adalah dua kekayaan yang sangat berharga bagi orang arab atau orang yang mendiami padang pasir. Jika kedua hal tersebut sudah tidak diperhatikan lagi atau ditinggalkan, berarti pasti ada hal yang sangat menyibukkan penghuninya sehingga tidak memperdulikannya lagi, apakah mereka lari seperti pada surah at-Takwīr, atau mati seperti pada ayat ini.

2.Qaṣr Masyīd قَصْرٍ مَشِيْدٍ (Al-Hajj/22:45)

Artinya Istana yang tinggi. Kata qaṣr akar katanya adalah ق- ص- ر)) yang mempunyai dua pengertian. Pertama, tidak tercapainya sesuatu pada puncaknya. Salat yang diqasr adalah salat yang tidak disempurnakan. Seperti empat rakaat menjadi dua rakaat. Qaṣr juga lawan dari ṭūl (tinggi). At-taqṣir ialah lalai, lengah, karena tidak dikerjakan dengan sebenarnya. Kedua, tertahan. Allah menggambarkan bidadari surga yang pandangan matanya tidak diarahkan kecuali kepada suaminya sendiri dengan firman-Nya: (قاصرات الطرف ) ar-Raḥmān/55: 56. Begitu juga bidadari yang dipingit dalam rumah/kemah disebutnya sebagai (حور مقصورات فى الخيام) (ar-Raḥmān/55:72). Satu ruangan dalam mesjid, biasanya didekat mihrab, seperti kerangkeng yang diperuntukkan untuk orang penting disebut “maqṣūrah.”

Istana disebut dengan qaṣr karena bangunan istana mengepung orang yang berada didalamnya, sehingga orang yang ada didalamnya seperti tertahan.

Masyīd berakar kata (ش-ي- د) yang berarti tingginya sesuatu. Asy-Syīd الشيد adalah juga berarti benda untuk melabur dinding atau benda campuran untuk membangun. Al-Isyadah adalah mengangkat citra seseorang. Dengan demikian maka ungkapan Qaṣr Masyid bisa berarti istana yang dibangun, didirikan atau ditinggikan.

Sekali lagi qaṣr adalah tempat yang sangat berharga bagi penghuninya. Tapi dosa yang dilakukan oleh mereka menyebabkan mereka dibinasakan oleh Allah. Semua harta peninggalan mereka termasuk qaṣr ditinggal.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto