وَالَّذِيْنَ سَعَوْا فِيْٓ اٰيٰتِنَا مُعٰجِزِيْنَ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ الْجَحِيْمِ
Wal-lażīna sa‘au fī āyātinā mu‘ājizīna ulā'ika aṣḥābul-jaḥīm(i).
Adapun orang-orang yang berusaha menentang ayat-ayat Kami dengan maksud melemahkan (kemauan untuk beriman), mereka itu adalah para penghuni (neraka) Jahim.
Tetapi orang-orang yang berusaha menentang ayat-ayat Kami dengan segala cara dengan maksud melemahkan niat dan dorongan penduduk Mekah yang akan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka mereka itu di akhirat adalah calon penghuni neraka Jahim.
Adapun orang-orang yang tetap berusaha menentang para rasul, ingin menghancurkan Islam dan kaum Muslimin, mereka akan dimasukkan ke dalam api neraka, dan itulah tempat yang paling buruk yang disediakan Allah untuk mereka, Allah berfirman:
اَلَّذِي ْنَ كَفَرُوْا وَصَدُّوْا عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ زِدْنٰهُمْ عَذَابًا فَوْقَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُوْا يُفْسِدُوْنَ ٨٨
Orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan demi siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan. (an-Naḥl/16: 88)
Nażīr Mubīn نَذِيْرٌ مُبِيْنٌ )al-Ḥajj/22: 49)
Nażīr, akar katanya adalah (ن- ذ- ر) artinya memberikan rasa takut. Inżar adalah pemberitahuan kepada orang lain yang bersifat menakut nakuti. Nażir berarti orang yang memberikan pemberitahuan kepada orang lain yang berupa peringatan yang bersifat menakut nakuti.
Mubīn artinya yang nyata dan jelas. Akar katanya (ب- ي- ن) yang berarti jauhnya sesuatu, nyata dan tersingkap jelas. Sesuatu yang jauh menyebabkan sesuatu itu jelas dan berbeda dari lainnya. Nażīr Mubin berarti pemberi peringatan yang jelas. Kejelasan disini terkait dengan ajaran yang dibawanya, semuanya jelas bagi orang yang diajaknya, yaitu agar beribadah hanya kepada Allah. Kebalikannya adalah basyīr atau orang yang membawa kabar gembira. Ungkapan ini ditujukan kepada mereka yang mengikuti ajaran Nabi sementara nażir bagi mereka yang mendurhakainya.
Al-Qur’an menggunakan kedua ungkapan tersebut secara beriringan (basyīr-nażīr) dalam beberapa tempat (Lih. al-Baqarah/2:119) dalam konteks tugas seorang rasul. Terkadang mendahulukan nażīr (nażīr-basyīr) seperti dalam surah al-A‘rāf/7:188, Hūd/11:2, jika ditujukan kepada orang kafir dengan harapan mereka sadar dengan membandingkan dua hal yaitu masuk neraka jika durhaka dan masuk surga jika taat. Dan seringkali Al-Qur’an hanya menggunakan nażīr saja tanpa menggunakan kata basyīr seperti dalam surah ini. Hal ini dalam upaya menekan mereka yang ingkar supaya sadar akan bahayanya kedurhakaan. Demikianlah Al-Qur’an selalu melihat konteks orang yang diajak bicara.

