هُوَ اللّٰهُ الَّذِيْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِۚ هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ
Huwallāhul-lażī lā ilāha illā huw(a), ‘ālimul-gaibi wasy-syahādah(ti), huwar-raḥmānur-raḥīm(u).
Dialah Allah Yang tidak ada tuhan selain Dia. (Dialah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Al-Qur’an adalah wahyu Allah petunjuk bagi manusia. Pada ayat ini dan seterusnya hingga akhir surah, Allah menjelaskan al-asma al-husna, nama-nama Allah yang indah. Apabila al-asma al-husna dipahami dan diresapkan secara mendalam ke dalam sanubari akan menguatkan keyakinan kepada-Nya. Dialah Allah tidak ada tuhan selain Dia. Dia memperkenalkan nama-nama-Nya. Bila zat-Nya dipikirkan akan membingungkan, karena pikiran manusia tidak sanggup menjangkaunya; bila nama-Nya disebut akan menggetarkan hati yang beriman; bila sifat-Nya diuraikan akan mempesona; dan bila perbuatan-Nya diamati dengan cermat akan mengagumkan setiap manusia; karena itu tidak ada Tuhan layak diibadati selain Dia. Yang Mengetahui yang gaib, karena pengetahuan-Nya tak terbatas; dan Yang Mengetahui yang nyata, karena pengetahuan-Nya meliputi zarrah. Dialah Yang Maha Pengasih, yang kasih sayang-Nya tak mengenal batas; Maha Penyayang, yang rahmat-Nya kepada orang yang beriman sejak di dunia hingga di surga.
Allah yang menurunkan Al-Qur’an dan menetapkannya sebagai petunjuk bagi manusia, adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia. Dialah yang berhak disembah, tidak ada yang lain. Segala penyembahan terhadap selain Allah, seperti pohon, batu, patung, matahari, dan sebagainya, adalah perbuatan sesat. Dia Maha Mengetahui segala yang ada, baik yang tampak maupun yang gaib di langit dan di bumi. Dia Maha Pemurah kepada makhluk-Nya, dan Maha Pengasih.
1. Al-Asmā’ul-Ḥusnā اَلْأَسْمۤـاءُ الْحُسْنَى (al-Ḥasyr/59: 24)
Al-Asmā’ul-Ḥusnā terdiri dari dua kata yaitu al-asmā’ dan al-ḥusnā. Al-asmā’ adalah bentuk jamak dari kata al-ism yang memiliki arti nama untuk sesuatu baik benda mati atau benda hidup. Kata ini berakar dari samā-yasmū-sumuwwan yang berarti ketinggian atau sesuatu yang berada di atas. Langit disebut dengan samā’ karena berada di atas. Begitu juga dengan hujan disebut samā' karena turun dari atas. Ism adalah nama untuk mengetahui sesuatu dengan maksud meninggikan yang dinamai. Sebagian berpendapat bahwa kata al-ism berasal dari kata as-simah yang berarti tanda. Kedua pendapat ini bisa digabungkan bahwa ism adalah tanda bagi sesuatu yang harus dijunjung tinggi. Sedangkan kata al-ḥusnā adalah bentuk superlatif muannaṡ dari kata aḥsan yang berarti yang terbaik. Kata ini berakar dari al-ḥusnu yang berarti ungkapan yang baik dan menyenangkan. Ar-Rāgib al-Asfahānī membagi al-ḥusn menjadi tiga macam yaitu baik menurut akal, baik menurut hawa nafsu, dan baik menurut perasaan. Pendeknya setiap karunia yang membuat manusia gembira dinamakan dengan al-ḥasanah. Antonimnya adalah as-sayyiah.
Jadi kata al-Asmā’ul-Ḥusnā berarti nama-nama yang paling baik. Pemberian nama (al-ism) dengan nama-nama yang terbaik menunjukkan bahwa nama-nama tersebut tidak saja baik, tetapi adalah yang terbaik bila dibandingkan dengan yang baik lainnya, apakah yang baik dari selain-Nya itu wajar disandang-Nya atau tidak. Misalnya sifat Pengasih, dapat disandang oleh makhluk, tetapi karena bagi Allah nama yang terbaik, maka pastilah sifat Kasih-Nya melebihi sifat kasih makhluk dalam kapasitas kasih maupun substansinya. Al-Asmā’ul-Ḥusnā menunjukkan pada nama-nama yang sangat sempurna, tidak sedikit pun ada kekurangan atau kelemahan seperti nama-nama sifat yang disandang oleh makhluk. Dalam Al-Qur’an, kata al-Asmā’ul-Ḥusnā terulang sebanyak empat kali, yaitu dalam Surah al-Ḥasyr/59: 24,. al-A‘rāf/7: 180, al-Isrā’/17: 110, dan Ṭāhā/20: 108-109.
Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah bilangan al-Asmā’ul-Ḥusnā. Pendapat yang cukup populer menyebutkan jumlahnya 99 nama. Aṭ-Ṭabāṭaba‘ī menghitungnya menjadi 127 nama, Ibnu Barjam al-Andalusī menghimpunnya sebanyak 132 nama, al-Qurṭubi dalam tafsirnya menghitung lebih dari 200 nama, bahkan Abu Bakar Ibnu Arabī mengatakan al-Asmā’ul-Ḥusnā berjumlah seribu nama. Ini menunjukkan bahwa Allah memiliki semua sifat yang baik yang tentunya berbeda dengan makhluk-Nya.
Dalam konteks ayat ini, Allah menjelaskan tentang rangkaian uraian mengenai nama-nama (asmā’) yang menjadi sifat al-Asmā’ul-Ḥusnā dari Allah. Dalam ayat-ayat sebelumnya dijelaskan bahwa Dialah Allah yang tiada tuhan selain Dia. Dia Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dia juga menyifati diri-Nya dengan ar-Raḥmān (Maha Pengasih) dan ar-Raḥīm (Maha Penyayang). Dialah al-Malik (Maha Menguasai dan Merajai), al-Quddūs (Mahasuci dari segala sifat yang dapat dijangkau oleh panca indera atau imajinasi), as-Salām (Pemilik as-Salāmah, terhindar dari segala aib dan kekurangan, dan Yang Memberi salam kepada hamba-hamba-Nya di surga kelak), al-Mu'min (Maha Pemberi rasa aman), al-Muhaimin (Yang Maha Menangani serta Memelihara makhluk-Nya), al-‘Azīz (Yang Maha Mengalahkan musuh-Nya), al-Jabbār (Yang Mahatinggi), al-Mutakabbir (Yang Mahabesar). Dalam ayat 24 ini, Allah melanjutkan nama-nama lain yang disandang-Nya yaitu Dialah Allah al-Khāliq (Yang Maha Mencipta), al-Bāri’ (Yang Maha Memisahkan sesuatu dari sesuatu), dan al-Muṣawwir (Yang Memberi rupa dan bentuk). Nama-nama sifat itu dikenal dengan al-Asmā’ul-Ḥusnā. (Lihat Al-Qur’an dan Tafsirnya Departemen Agama, Jilid III, Surah al-A‘rāf/7: 180, hlm. 530-533).













































