هُوَ اللّٰهُ الَّذِيْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۚ اَلْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلٰمُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُۗ سُبْحٰنَ اللّٰهِ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
Huwallāhul-lażī lā ilāha illā huw(a), al-malikul-quddūsus-salāmul-mu'minul-muhaiminul-‘azīzul-jabbārul-mutakabbir(u), subḥānallāhi ‘ammā yusyrikūn(a).
Dialah Allah Yang tidak ada tuhan selain Dia. Dia (adalah) Maha Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Damai, Yang Maha Mengaruniakan keamanan, Maha Mengawasi, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, dan Yang Memiliki segala keagungan. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
Dialah Allah tidak ada tuhan selain Dia, tidak ada Tuhan yang berhak diibadati selain Dia. Maharaja, Yang kekuasaan-Nya tak terbatas; Yang Mahasuci dari segala bentuk kekurangan; Yang Mahasejahtera, Yang menjadi sumber kedamaian yang didambakan manusia; Yang Menjaga Keamanan, Yang Pengayoman-Nya lengkap, sempurna, dan menyeluruh. Pemelihara Keselamatan manusia, terutama di akhirat; Yang Mahaperkasa mencabut kekuasaan para penguasa dunia; Yang Mahakuasa menghentikan paksa ambisi para pecandu kekuasaan. Yang Memiliki Segala Keagungan. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan, karena Allah berbeda dengan seluruh makhluk ciptaan-Nya.
Dialah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang memiliki segala sesuatu yang ada, dan mengurus segalanya menurut yang dikehendaki-Nya. Yang Mahasuci dari segala macam bentuk cacat dan kekurangan. Yang Mahasejahtera, Yang Maha Memelihara keamanan, keseimbangan, dan kelangsungan hidup seluruh makhluk-Nya, Mahaperkasa tidak menganiaya makhluk-Nya, tetapi tuntutan-Nya sangat keras. Dia Mahabesar dan Mahasuci dari segala apa yang dipersekutukan dengan-Nya.
1. Al-Asmā’ul-Ḥusnā اَلْأَسْمۤـاءُ الْحُسْنَى (al-Ḥasyr/59: 24)
Al-Asmā’ul-Ḥusnā terdiri dari dua kata yaitu al-asmā’ dan al-ḥusnā. Al-asmā’ adalah bentuk jamak dari kata al-ism yang memiliki arti nama untuk sesuatu baik benda mati atau benda hidup. Kata ini berakar dari samā-yasmū-sumuwwan yang berarti ketinggian atau sesuatu yang berada di atas. Langit disebut dengan samā’ karena berada di atas. Begitu juga dengan hujan disebut samā' karena turun dari atas. Ism adalah nama untuk mengetahui sesuatu dengan maksud meninggikan yang dinamai. Sebagian berpendapat bahwa kata al-ism berasal dari kata as-simah yang berarti tanda. Kedua pendapat ini bisa digabungkan bahwa ism adalah tanda bagi sesuatu yang harus dijunjung tinggi. Sedangkan kata al-ḥusnā adalah bentuk superlatif muannaṡ dari kata aḥsan yang berarti yang terbaik. Kata ini berakar dari al-ḥusnu yang berarti ungkapan yang baik dan menyenangkan. Ar-Rāgib al-Asfahānī membagi al-ḥusn menjadi tiga macam yaitu baik menurut akal, baik menurut hawa nafsu, dan baik menurut perasaan. Pendeknya setiap karunia yang membuat manusia gembira dinamakan dengan al-ḥasanah. Antonimnya adalah as-sayyiah.
Jadi kata al-Asmā’ul-Ḥusnā berarti nama-nama yang paling baik. Pemberian nama (al-ism) dengan nama-nama yang terbaik menunjukkan bahwa nama-nama tersebut tidak saja baik, tetapi adalah yang terbaik bila dibandingkan dengan yang baik lainnya, apakah yang baik dari selain-Nya itu wajar disandang-Nya atau tidak. Misalnya sifat Pengasih, dapat disandang oleh makhluk, tetapi karena bagi Allah nama yang terbaik, maka pastilah sifat Kasih-Nya melebihi sifat kasih makhluk dalam kapasitas kasih maupun substansinya. Al-Asmā’ul-Ḥusnā menunjukkan pada nama-nama yang sangat sempurna, tidak sedikit pun ada kekurangan atau kelemahan seperti nama-nama sifat yang disandang oleh makhluk. Dalam Al-Qur’an, kata al-Asmā’ul-Ḥusnā terulang sebanyak empat kali, yaitu dalam Surah al-Ḥasyr/59: 24,. al-A‘rāf/7: 180, al-Isrā’/17: 110, dan Ṭāhā/20: 108-109.
Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah bilangan al-Asmā’ul-Ḥusnā. Pendapat yang cukup populer menyebutkan jumlahnya 99 nama. Aṭ-Ṭabāṭaba‘ī menghitungnya menjadi 127 nama, Ibnu Barjam al-Andalusī menghimpunnya sebanyak 132 nama, al-Qurṭubi dalam tafsirnya menghitung lebih dari 200 nama, bahkan Abu Bakar Ibnu Arabī mengatakan al-Asmā’ul-Ḥusnā berjumlah seribu nama. Ini menunjukkan bahwa Allah memiliki semua sifat yang baik yang tentunya berbeda dengan makhluk-Nya.
Dalam konteks ayat ini, Allah menjelaskan tentang rangkaian uraian mengenai nama-nama (asmā’) yang menjadi sifat al-Asmā’ul-Ḥusnā dari Allah. Dalam ayat-ayat sebelumnya dijelaskan bahwa Dialah Allah yang tiada tuhan selain Dia. Dia Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dia juga menyifati diri-Nya dengan ar-Raḥmān (Maha Pengasih) dan ar-Raḥīm (Maha Penyayang). Dialah al-Malik (Maha Menguasai dan Merajai), al-Quddūs (Mahasuci dari segala sifat yang dapat dijangkau oleh panca indera atau imajinasi), as-Salām (Pemilik as-Salāmah, terhindar dari segala aib dan kekurangan, dan Yang Memberi salam kepada hamba-hamba-Nya di surga kelak), al-Mu'min (Maha Pemberi rasa aman), al-Muhaimin (Yang Maha Menangani serta Memelihara makhluk-Nya), al-‘Azīz (Yang Maha Mengalahkan musuh-Nya), al-Jabbār (Yang Mahatinggi), al-Mutakabbir (Yang Mahabesar). Dalam ayat 24 ini, Allah melanjutkan nama-nama lain yang disandang-Nya yaitu Dialah Allah al-Khāliq (Yang Maha Mencipta), al-Bāri’ (Yang Maha Memisahkan sesuatu dari sesuatu), dan al-Muṣawwir (Yang Memberi rupa dan bentuk). Nama-nama sifat itu dikenal dengan al-Asmā’ul-Ḥusnā. (Lihat Al-Qur’an dan Tafsirnya Departemen Agama, Jilid III, Surah al-A‘rāf/7: 180, hlm. 530-533).













































