وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ ࣖࣖ
Wa‘bud rabbaka ḥattā ya'tiyakal-yaqīn(u).
dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kepastian (kematian).
Dan bersama dengan itu sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan dan menghidupkanmu, dan serahkanlah dirimu sepenuhnya kepadaNya sampai yakin, yaitu ajal, datang kepadamu. Dengan melakukan hal itu maka beban perasaan yang kaupikul akibat ucapan, sikap, dan tingkah laku kaum kafir akan terasa ringan dan jiwamu pun akan merasa tenteram.”[]
Ayat ini memberi jaminan kepada Nabi Muhammad bahwa Allah swt memeliharanya dari tindakan orang-orang musyrik Mekah yang memperolok-olok dan menyakitinya serta memelihara Al-Qur’an dari usaha-usaha orang-orang yang ingin mengotorinya.
Aṭ-Ṭabar menyampaikan riwayat dari Sa’id bin Jubair bahwa orang-orang musyrik Mekah yang memperolok-olok Al-Qur’an dan Nabi Muhammad ialah al-Walid bin Mugirah, al-’Aṣ bin Wā’il, Al-’Adi bin Qais, Aswad bin Abdu Yaguṡ, dan Aswad bin Muṭṭalib. Mereka semua terkenal dalam sejarah, dan sebab-sebab kematian mereka adalah akibat tindakan mereka sendiri.
Menurut suatu riwayat diterangkan bahwa suatu ketika Nabi saw berada di hadapan orang-orang kafir Mekah, mereka saling mengedipkan mata tanpa setahu Nabi Muhammad saw, dan berkata sesamanya dengan maksud mengejek Nabi, “Inikah orang yang mendakwakan dirinya nabi?” Pada waktu itu, Jibril a.s. menyertai Nabi, lalu Jibril menusuk punggung orang-orang yang memperolok-olokkan itu dengan jarinya, sehingga menimbulkan bekas, luka, dan borok yang busuk baunya. Tiada seorang pun yang mendekati mereka karena baunya itu. Maka turunlah ayat ini yang menegaskan bahwa Nabi saw dilindungi Allah swt dari gangguan orang-orang kafir.
Allah mengetahui bahwa Nabi saw merasa sedih karena olok-olokan dan tindakan orang-orang kafir. Untuk mengobati kesedihannya itu, Allah memerintahkan Nabi saw untuk bertasbih, mensucikan Allah dari segala sesuatu yang menyekutukan-Nya, salat, rukuk, sujud, banyak melakukan ibadah, berbuat baik, dan mengekang hawa nafsu. Hal ini berlaku pula bagi kaum Muslimin sampai akhir hayat mereka.
‘Iḍīn عِضِيْنَ (al-Ḥijr/15: 91)
Jamak dari ‘iḍah عضه yang berarti potongan atau bagian dari sesuatu. Asal katanya ‘iḍwun, untuk meringankan lidah dalam penyebutannya huruf waw diganti hā’, sehingga dibaca ‘iḍah. Kata ‘iḍīn hanya sekali disebut dalam Al-Qur’an, yaitu dalam ayat 91 Surah al-Ḥijr ini.
Yang dimaksud dengan ‘iḍīn dalam ayat ini adalah orang-orang yang menjadikan isi Al-Qur’an terbagi-bagi. Sebagian dari isi Al-Qur’an yang sesuai dengan keinginan mereka, mereka percayai, seperti berita-berita tentang syariat Nabi Musa dan Nabi Isa. Sebagian dari isi Al-Qur’an yang tidak mereka sukai, mereka ingkari. Bahkan mereka katakan bahwa Al-Qur’an itu mitos, mantra dukun dan perkataan penyair.
















































