وَقَضَيْنَآ اِلَيْهِ ذٰلِكَ الْاَمْرَ اَنَّ دَابِرَ هٰٓؤُلَاۤءِ مَقْطُوْعٌ مُّصْبِحِيْنَ
Wa qaḍainā ilaihi żālikal-amra anna dābira hā'ulā'i maqṭū‘um muṣbiḥīn(a).
Telah Kami wahyukan kepadanya (Lut) keputusan itu bahwa akhirnya mereka akan ditumpas habis pada waktu subuh.
Allah menjelaskan pembinasaan atas kaum Nabi Lut sebagai berikut. Dan telah Kami tetapkan kepadanya, yakni Nabi Lut, keputusan pembinasaan itu yang sungguh mengerikan. Kami telah memutuskan bahwa akhirnya mereka yang durhaka akan ditumpas habis pada waktu Subuh. Tidak akan ada seorang pun dari mereka yang tersisa.
Dalam ayat ini diterangkan bahwa sebelum kedatangan para malaikat, Allah telah mewahyukan kepada Luṭ a.s. tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi sebelum dan sesudah azab yang ditimpakan kepada kaumnya. Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa setelah para malaikat memberi penjelasan kepada Luṭ a.s. tentang beban yang ditugaskan Allah kepada mereka, dan mendengar perintah-perintah malaikat yang diberikan kepada beliau, dan sesuai dengan wahyu yang telah diturunkan Allah, beliau percaya bahwa azab yang akan ditimpakan pada kaumnya oleh para malaikat benar-benar akan terjadi. Sebab itu juga, beliau mengikuti dengan khidmat perintah-perintah dan petunjuk-petunjuk yang diberikan para malaikat itu dalam usaha menghindarkan orang-orang yang beriman dari malapetaka yang mengerikan itu.
Lūṭ لُوْط (al-Ḥijr/15: 61)
Pada garis besarnya kisah Nabi Luṭ dalam Al-Qur’an hampir sama seperti yang diceritakan dalam Bibel, tanpa menyebut nama-nama orang atau tempat dengan terinci, dan beberapa peristiwa lain.
Luṭ dalam ejaan Bibel adalah Lot. Lot anak Haran dan cucu Terah lahir di Ur, Kaldea; dia adalah kemenakan Abram (Ibrahim) (Kej. 11: 27, 31). Ia menemani pamannya dalam bermigrasi dari Haran (Harran) ke Kanaan, kemudian ke Mesir. Setelah keluar meninggalkan Mesir bersama Sarah, istrinya, dan Lot, dengan membawa kekayaan yang tidak sedikit, Abraham kembali ke perkemahannya yang dulu di dekat Betel dan Ai, melalui selatan Palestina. Kekayaan mereka, terutama ternak yang bertambah besar menyebabkan kedua kerabat itu terpisah, sebab padang rumput di daerah itu tidak akan mencukupi dan terasa sempit sekali. Lot lalu memilih daerah subur di kawasan Yordania. Di distrik inilah terletak Sodom dan Gomorah, sebelah timur Laut Mati. Watak Lot yang dilukiskan keras dan menyukai kemewahan sangat berlawanan dengan watak Abraham yang lembut. Akhir hayat Lot tidak jelas. Sebelum itu, Abraham sudah menetap di dekat pohon-pohon tarbantin di Mamre, dekat Hebron .
Seperti disebutkan di atas, Al-Qur’an sedikit sekali menyebut nama orang atau tempat. Tidak seorang pun nama anggota keluarga Rasulullah atau sahabat dekatnya yang disebutkan selain Zaid. Nama Luṭ dalam Al-Qur’an disebutkan dalam 27 ayat, tanpa menyebut nama, tempat, dan pelaku, selain Luṭ sendiri dan Ibrahim. Dimulai dengan menyebutkan bahwa Allah telah memberi kearifan dan ilmu kepada Luṭ dan dimasukkan-Nya ke dalam rahmat-Nya, karena dia termasuk hamba-Nya yang saleh (al-Anbiyā’/21: 74-75). Perlu diperhatikan, bahwa Nabi Luṭ tidak termasuk kaum Sodom dan Gomorah. Oleh karena itu, dalam Qur’an Luṭ tidak disebut akhāhum seperti pada Hud, Saleh dan Syu‘aib, dengan menyebut untuk kaum ‘Ad “akhāhum Hūdan”, kaum Ṡamud “akhāhum Ṣāliḥan”, dan kaum Madyan “akhāhum Syu`aiban”. Luṭ sudah beriman kepada Ibrahim dan mengikuti ajaran dan perjuangannya. Ia tinggal di tempat itu setelah berpisah dengan pamannya, Ibrahim. Ia kemudian diutus Tuhan kepada penduduk tempat itu untuk menyampaikan pesan suci. Tetapi ia menganggap kaumnya itu seperti saudara-saudaranya sendiri (Qāf/50: 13) seperti yang selalu dilakukan para nabi.












































