Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 65 - Surat Al-Ḥijr (Hijr)
الحجر
Ayat 65 / 99 •  Surat 15 / 114 •  Halaman 265 •  Quarter Hizb 27.25 •  Juz 14 •  Manzil 3 • Makkiyah

فَاَسْرِ بِاَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِّنَ الَّيْلِ وَاتَّبِعْ اَدْبَارَهُمْ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ اَحَدٌ وَّامْضُوْا حَيْثُ تُؤْمَرُوْنَ

Fa asri bi'ahlika biqiṭ‘im minal-laili wattabi‘ adbārahum wa lā yaltafit minkum aḥaduw wamḍū ḥaiṡu tu'marūn(a).

Maka, pergilah pada akhir malam beserta keluargamu dan ikutilah mereka dari belakang. Jangan seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu.”

Makna Surat Al-Hijr Ayat 65
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Pernyataan para malaikat itu mampu menenangkan hati Nabi Lut sehingga tidak lagi meragukan maksud kedatangan mereka. Dalam keadaan demikian, mereka berpesan, “Maka tinggalkanlah kaummu yang kafir, wahai Nabi Lut, dan pergilah kamu pada akhir malam, yakni menjelang Subuh, beserta keluargamu, dan ikuti serta awasi-lah mereka dengan sungguh-sungguh dari belakang, dan jangan ada di antara kamu yang menoleh ke belakang agar perjalanan kamu lancar. Dan teruskanlah perjalanan hingga kamu semua sampai ke tempat yang diperintahkan kepadamu.” (Lihat: Surah Hud/11: 81)

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Para malaikat menerangkan maksud kedatangan mereka kepada Luṭ a.s. Mereka datang untuk menyampaikan kabar buruk yaitu azab yang akan ditimpakan kepada kaumnya yang telah mengingkari dan men-dustakannya.

Dalam ayat ini disebutkan jawaban para malaikat, “Sesungguhnya kami datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan.” Bahkan dengan perkataan, “Kami datang untuk mengazab mereka.” Maksud jawaban para malaikat dengan perkataan yang demikian itu ialah untuk menyatakan kebenaran ancaman yang biasa disampaikan Luṭ kepada kaumnya selama ini. Nabi Luṭ a.s. selalu memperingatkan kaumnya agar mengikuti dan memeluk agama yang telah disampaikannya serta mengakui kerasulannya. Jika mereka tetap ingkar, mereka akan ditimpa azab Allah. Seruan dan pernyataan Luṭ ini mereka sambut dengan ejekan. Mereka tidak mempercayai keesaan dan kekuasaan Allah yang dapat mengazab orang-orang yang ingkar. Bahkan mereka menantang Luṭ agar segera menurunkan azab yang dijanjikan itu.

Kemudian para malaikat menegaskan kepada Luṭ bahwa maksud kedatangan mereka ialah untuk melaksanakan tugas yang telah dibebankan Allah swt kepada mereka untuk menyampaikan azab kepada kaumnya. Tugas ini pasti terlaksana dan segala yang mereka ucapkan itu adalah benar, karena mereka sendiri adalah para malaikat yang tidak pernah menyalahi perintah Allah.

Setelah itu, para malaikat memberikan perintah kepada Luṭ a.s. tentang cara-cara yang harus dilaksanakannya beserta pengikut-pengikutnya untuk menghindarkan diri dari azab Allah yang akan datang. Luṭ beserta keluarga dan kaumnya yang telah beriman diperintahkan untuk segera meninggalkan negeri itu pada akhir malam. Luṭ a.s. diminta berjalan di belakang pengikut-pengikutnya, agar dia dapat mengatur dan mempertahankan diri dari serangan kaumnya yang mengejar dari belakang. Ini juga bertujuan agar Luṭ a.s. dapat mendorong para pengikutnya berjalan secepatnya, karena azab yang akan ditimpakan hampir datang, dan ia dapat memperhatikan kaumnya yang tidak mau meneruskan perjalanan. Selanjutnya para malaikat memerintahkan agar tidak seorang pun dari pengikut Luṭ yang menoleh ke belakang pada waktu mendengar halilintar yang menghancurkan. Dengan demikian, mereka tidak dapat melihat peristiwa yang mengerikan yang dapat merusak dan menggoncangkan jiwa mereka, sehingga mereka selamat dan iman mereka bertambah kuat sampai ke tempat yang aman yang sedang dituju itu.

Pada ayat ini, disebutkan agar Luṭ berangkat beserta keluarga dan kaumnya yang setia. Kemudian para malaikat menguatkan perintah dan larangannya dengan mengatakan, “Teruskanlah perjalananmu ke tempat yang telah diperintahkan kepadamu.” Menurut suatu riwayat yang dimaksud dengan tempat yang diperintahkan dalam ayat ini ialah negeri Syam (Syria).

Pada Surah Hūd, kisah Luṭ dikisahkan menurut urutan peristiwa yang pernah terjadi, sedang pada surah ini dikisahkan secara melompat-lompat, tidak menurut urutan kejadian yang sebenarnya. Perbedaan cara dalam mengutarakan kisah ini adalah karena tujuan Allah menyampaikan kisah ini pada kedua surah tersebut juga berbeda. Jika dihubungkan dengan ayat-ayat sebelumnya, maka tujuan mengutarakan kisah Luṭ dalam Surah Hūd ialah untuk menguatkan hati Nabi Muhammad saw beserta sahabat-sahabatnya, dalam menyampaikan agama Allah dan menyatakan keesaan dan kekuasaan Allah swt yang wajib disembah. Rasul-rasul yang diutus Allah sejak dahulu selalu mendapat tantangan dan ancaman dari kaumnya, tetapi mereka tetap tabah dan sabar melaksanakan tugas yang dibebankan Allah kepada mereka. Sedang tujuan kisah Luṭ dengan kaumnya pada Surah Al-Ḥijr ini adalah untuk menjelaskan kepada orang-orang yang beriman akan rahmat dan nikmat Allah yang telah mereka terima. Juga nikmat yang telah diterima oleh orang-orang yang beriman dahulu kala kepada rasul-rasul yang diutus Allah kepada mereka. Di antaranya adalah nikmat yang telah dilimpahkan kepada Nabi Ibrahim a.s. berupa putra-putra yang selalu diidam-idamkannya, dan nikmat yang telah dilimpahkan kepada Nabi Luṭ beserta pengikutnya. Juga untuk menerangkan azab Allah yang telah ditimpakan kepada orang-orang kafir dan ingkar kepada dakwah rasul yang diutus kepada mereka.

Isi Kandungan Kosakata

Lūṭ لُوْط (al-Ḥijr/15: 61)

Pada garis besarnya kisah Nabi Luṭ dalam Al-Qur’an hampir sama seperti yang diceritakan dalam Bibel, tanpa menyebut nama-nama orang atau tempat dengan terinci, dan beberapa peristiwa lain.

Luṭ dalam ejaan Bibel adalah Lot. Lot anak Haran dan cucu Terah lahir di Ur, Kaldea; dia adalah kemenakan Abram (Ibrahim) (Kej. 11: 27, 31). Ia menemani pamannya dalam bermigrasi dari Haran (Harran) ke Kanaan, kemudian ke Mesir. Setelah keluar meninggalkan Mesir bersama Sarah, istrinya, dan Lot, dengan membawa kekayaan yang tidak sedikit, Abraham kembali ke perkemahannya yang dulu di dekat Betel dan Ai, melalui selatan Palestina. Kekayaan mereka, terutama ternak yang bertambah besar menyebabkan kedua kerabat itu terpisah, sebab padang rumput di daerah itu tidak akan mencukupi dan terasa sempit sekali. Lot lalu memilih daerah subur di kawasan Yordania. Di distrik inilah terletak Sodom dan Gomorah, sebelah timur Laut Mati. Watak Lot yang dilukiskan keras dan menyukai kemewahan sangat berlawanan dengan watak Abraham yang lembut. Akhir hayat Lot tidak jelas. Sebelum itu, Abraham sudah menetap di dekat pohon-pohon tarbantin di Mamre, dekat Hebron .

Seperti disebutkan di atas, Al-Qur’an sedikit sekali menyebut nama orang atau tempat. Tidak seorang pun nama anggota keluarga Rasulullah atau sahabat dekatnya yang disebutkan selain Zaid. Nama Luṭ dalam Al-Qur’an disebutkan dalam 27 ayat, tanpa menyebut nama, tempat, dan pelaku, selain Luṭ sendiri dan Ibrahim. Dimulai dengan menyebutkan bahwa Allah telah memberi kearifan dan ilmu kepada Luṭ dan dimasukkan-Nya ke dalam rahmat-Nya, karena dia termasuk hamba-Nya yang saleh (al-Anbiyā’/21: 74-75). Perlu diperhatikan, bahwa Nabi Luṭ tidak termasuk kaum Sodom dan Gomorah. Oleh karena itu, dalam Qur’an Luṭ tidak disebut akhāhum seperti pada Hud, Saleh dan Syu‘aib, dengan menyebut untuk kaum ‘Ad “akhāhum Hūdan”, kaum Ṡamud “akhāhum Ṣāliḥan”, dan kaum Madyan “akhāhum Syu`aiban”. Luṭ sudah beriman kepada Ibrahim dan mengikuti ajaran dan perjuangannya. Ia tinggal di tempat itu setelah berpisah dengan pamannya, Ibrahim. Ia kemudian diutus Tuhan kepada penduduk tempat itu untuk menyampaikan pesan suci. Tetapi ia menganggap kaumnya itu seperti saudara-saudaranya sendiri (Qāf/50: 13) seperti yang selalu dilakukan para nabi.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto