اِنَّ الَّذِيْنَ يَغُضُّوْنَ اَصْوَاتَهُمْ عِنْدَ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ امْتَحَنَ اللّٰهُ قُلُوْبَهُمْ لِلتَّقْوٰىۗ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّاَجْرٌ عَظِيْمٌ
Innal-lażīna yaguḍḍūna aṣwātahum ‘inda rasūlillāhi ulā'ikal-lażīnamtaḥanallāhu qulūbahum lit-taqwā, lahum magfiratuw wa ajrun ‘aẓīm(un).
Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hatinya oleh Allah untuk bertakwa. Mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.
Sesungguhnya orang-orang yang senantiasa merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, didorong oleh motivasi penghormatan dan pengagungan kepada beliau mereka itulah orang-orang tinggi kedudukannya yang telah diuji hatinya yakni dibersihkan oleh Allah dengan bermacam-macam ujian dan cobaan untuk menjadi orang bertakwa. Mereka akan memperoleh ampunan atas kesalahannya dan pahala yang besar atas ketaatan yang dilakukannya.
Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah saw setelah melatih diri dengan berbagai latihan yang ketat lagi berat, mereka itulah orang yang telah diuji hatinya oleh Allah untuk bertakwa. Mereka telah berhasil menyucikan diri mereka dengan berbagai usaha dan kesadaran serta bagi mereka ampunan dan pahala yang sangat besar.
Diriwayatkan oleh Imam Aḥmad dari Mujāhid bahwa ada sebuah pertanyaan tertulis yang disampaikan kepada Umar, “Wahai Amirul Mukminin, ada seorang laki-laki yang tidak suka akan kemaksiatan dan tidak mengerjakannya, dan seorang laki-laki lagi yang hatinya cenderung kepada kemaksiatan, tetapi ia tidak mengerjakannya. Manakah di antara kedua orang itu yang paling baik?”
Umar menjawab dengan tulisan pula, “Sesungguhnya orang yang hatinya cenderung kepada kemaksiatan, tetapi tidak mengerjakannya, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.”
1. Lā Tuqaddimū لاَ تُقَدِّمُوْا (al-Ḥujurāt/49: 1)
Lā tuqaddimū artinya janganlah kamu mendahului. Kata lā adalah nāhiyah untuk menunjukkan arti ‘jangan”, sedangkan kata tuqaddimū adalah bentuk muḍāri‘ dari qaddama. Asal katanya dari qaf-dal-mim yang artinya berkisar pada sesuatu yang dahulu. Kata qadīm berarti dahulu, lawannya adalah ḥadīs artinya baru. Telapak kaki seseorang disebut qadam karena digunakan untuk berjalan maju dan mendahului. Dari beberapa pengertian ini maka ungkapan lā tuqaddimū baina yadayillāh warasūlihi bisa diartikan: “janganlah kamu mendahului Allah dan rasul-Nya.”
2. Lā Tarfa‘ū Aṣwātakum لاَ تَرْفَعُوْا أَصْوَاتَكُمْ (al-Ḥujurāt/49: 2)
Lā tarfa‘ū aṣwātakum artinya janganlah kamu meninggikan suara kamu. Akar katanya adalah ra'-fa'-‘ain artinya mengangkat, meninggikan. Ayat ini melarang kaum muslim berbicara dengan Nabi Muhammad dengan suara yang lebih tinggi dari suara beliau. Karena hal ini menunjukkan tidak adanya tata krama dengan orang pilihan Allah. Jika ayat sebelumnya berupa larangan mendahului Nabi dalam tindakan hukum, maka ayat ini larangan dalam hal perkataan. Walaupun saat ini Nabi sudah meninggal, tapi penghormatan terhadapnya masih tetap berkelanjutan seperti pada waktu berziarah ke kuburannya atau menghormati ajaran-ajarannya.

