بَلِ اللّٰهُ مَوْلٰىكُمْ ۚ وَهُوَ خَيْرُ النّٰصِرِيْنَ
Balillāhu maulākum, wa huwa khairun-nāṣirīn(a).
Namun, (hanya) Allahlah pelindungmu dan Dia penolong yang terbaik.
Jangan kamu ikuti saran orang-orang kafir, tetapi ikutilah aturan Allah, karena hanya Allah-lah pelindungmu, dan Dia penolong yang terbaik.
Kaum Muslimin agar taat kepada Allah karena Dialah Pelindung mereka yang terbaik. Janganlah mereka mengikuti orang-orang kafir seperti Abū Sufyān dan kawan-kawannya (pada waktu itu), atau orang-orang munafik seperti ‘Abdullāh bin Ubai atau orang-orang kafir dan munafik lainnya yang akan menyesatkan dan menjerumuskan mereka ke jurang yang sangat berbahaya.
ar-Ru‘b اَلرُّعْب(Āli ‘Imrān/3: 151)
Ada dua arti dasar pada kata ini, yaitu “keterputusan” (al-inqiṭa’) dan “terpenuhinya rasa takut” (imtila al-khauf) dikatakan ra’abtu al-ḥauḍ, aku mengisi kubangan itu sampai penuh. Ra‘abtu as-sanam, aku memotong punuk (bongkol). Dari dua arti dasar ini kata ar-ru‘b bisa diartikan “rasa takut yang sangat yang memenuhi hati seseorang karena keterputusan dari yang lain”. Allah akan menghunjamkan rasa takut yang sangat kepada orang-orang musyrik, karena kemusyrikan mereka. Orang musyrikin tidak yakin dengan apa yang mereka sekutukan kepada Allah, di sisi lain mereka juga tidak punya argumen yang kuat untuk menafikan wujud Allah yang Esa. Situasi ini menyebabkan mereka selalu berada dalam ketakutan dan kegelisahan. Inilah yang menyebabkan Allah memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Hanya nerakalah tempat kembali yang layak bagi mereka. Padahal, neraka adalah tempat kembali yang paling buruk.









































