وَلَىِٕنْ مُّتُّمْ اَوْ قُتِلْتُمْ لَاِلَى اللّٰهِ تُحْشَرُوْنَ
Wa la'im muttum au qutiltum la'ilallāhi tuḥsyarūn(a).
Sungguh, jika kamu mati atau gugur, pastilah kepada Allah kamu dikumpulkan.
Dan sungguh, sekiranya kamu mati di rumah atau di mana pun, atau gugur dalam peperangan, pastilah kepada Allah kamu dikumpulkan untuk diberi balasan sesuai amal yang kamu kerjakan.
Semua orang akan mati atau gugur dengan sebab apa saja, baik karena meninggal di dalam peperangan dalam bepergian atau di tempatnya sendiri. Mereka pasti akan dikembalikan kepada Allah dan akan diperhitungkan segala amal perbuatannya di akhirat nanti. Kalau jahat dibalas dengan siksa neraka dan kalau baik dibalas dengan masuk surga.
Oleh karena itu orang mukmin hendaklah memilih dan menempuh jalan yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah, agar memperoleh ampunan dan rahmat-Nya. Untuk itu, janganlah seorang Muslim merasa enggan berjihad di jalan Allah, untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
Guzza غُزًّى (Āli ‘Imrān/3: 156)
Secara etimologis, guzza adalah bentuk jamak dari kata gāzi berarti “orang yang berperang”. Asal katanya al-gazwu artinya keluar untuk memerangi musuh. Dalam ayat 156 Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk tidak meniru perilaku orang-orang kafir. Misalnya, orang-orang beriman dilarang meniru ucapan mereka yang justru memojokkan orang-orang yang berperang di jalan Allah. Dalam benak orang-orang kafir itu perang tidak akan mendatangkan apa-apa, kecuali kematian. Sebab itu, menghindari perang menjadi jalan kehidupan dan menghindari kematian. Tentu, ini ucapan yang tidak dapat diterima, sehingga Allah melarang orang beriman untuk meniru apa yang mereka lakukan. Pergi berperang atau tidak, bukan penyebab kematian karena penentu kematian adalah Allah (Qāf/50: 43).










































