قُلْ اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ ۚ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْكٰفِرِيْنَ
Qul aṭī‘ullāha war-rasūl(a), fa'in tawallau fa innallāha lā yuḥibbul-kāfirīn(a).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Taatilah Allah dan Rasul(-Nya). Jika kamu berpaling, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.”
Sebagai bukti kecintaan kepada Allah, maka katakanlah, wahai Nabi Muhammad, kepada mere, “Taatilah Allah dan Rasul ka yang telah mencintai Allahbaik dalam perintah maupun larangan-Nya. Sebab, jika kalian berpaling dari menaati Allah dan Rasul-Nya sementara kalian mengaku telah mencintai-Nya, maka ketahuilah bahwa Allah tidak menyukai orang-orang kafir, baik dari segi akidah maupun mereka yang bergelimang dalam kedurhakaan.”
Diriwayatkan bahwa ketika Nabi Muhammad saw, menyampaikan ayat 31 di atas, Abdullah bin Ubay berkata, “Muhammad telah menyamakan taat kepadanya dengan taat kepada Allah, dan dia menyuruh kita mencintainya seperti orang-orang Nasrani mencintai Isa.” Maka Allah menurunkan ayat 32 ini.
Maksud ayat ini ialah, “Katakanlah kepada mereka wahai Muhammad. Taatilah Allah dengan mengikuti segala perintah-perintah-Nya dan jauhilah segala larangan-Nya. Taatilah Rasulullah dengan mengikuti sunahnya, dan jadikanlah petunjuk-petunjuknya sebagai (pedoman) dalam hidup. Ayat ini memberi pengertian pula bahwa Allah swt mewajibkan kepada kita mengikuti Nabi Muhammad saw, karena dia adalah Rasul Allah.
Jika orang-orang kafir itu berpaling tidak mau menerima seruan rasul karena pengakuan mereka bahwa mereka itu anak-anak Allah dan kekasih-Nya, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir, yakni orang-orang yang telah dibelokkan oleh hawa nafsunya dari ayat-ayat Allah. Karena itu Allah tidak meridai mereka bahkan menjauhkan mereka dari kenikmatan surga-Nya dan akan memurkai mereka pada hari kiamat.
Tuḥibbūn تُحِبُّوْنَ (Āli ‘Imrān/3: 31)
Tuḥibbūn berasal dari kata kerja aḥabba-yuḥibbu yang artinya mencintai, menyukai. Bentuk masdar (kata benda) dari kata ini adalah al-ḥubb dan al-maḥabbah. Cinta adalah prinsip dan dasar perjalanan menuju kepada Allah. Dalam kaitan ini, perjalanan tersebut akan melalui tahapan atau tingkatan-tingkatan sesuai dengan tingkat cinta yang ada pada seorang sālik. Al-Qusyairi mengatakan bahwa cinta manusia kepada Allah itu sebagai “mementingkan kekasih daripada sahabat”, maksudnya adalah mementingkan hal-hal yang diridai kekasih (Allah) dari kepentingan egonya, bila ternyata keinginan egonya bertentangan dengan ajaran Tuhan. Jika demikian, ukuran cinta itu adalah ketaatan kepada Allah, yakni ketaatan dalam menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dalam ayat ini Allah memerintah Nabi Muhammad untuk mengatakan kepada orang-orang Yahudi jika mereka benar-benar mencintai Allah hendaklah mereka mengikuti ajaran Nabi Muhammad.












































