قُلْ لَّوْ اَنْتُمْ تَمْلِكُوْنَ خَزَاۤىِٕنَ رَحْمَةِ رَبِّيْٓ اِذًا لَّاَمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الْاِنْفَاقِۗ وَكَانَ الْاِنْسَانُ قَتُوْرًا ࣖ
Qul lau antum tamlikūna khazā'ina raḥmati rabbī iżal la'amsaktum khasy-yatal-infāq(i), wa kānal-insānu qatūrā(n).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sekiranya kamu memiliki khazanah rahmat Tuhanku, niscaya kamu tahan karena takut habis.” Manusia itu memang sangat kikir.
Ayat ini merupakan lanjutan dari jawaban terhadap tuntutan kaum musyrik. Katakanlah wahai Nabi Muhammad, “Sekiranya kamu menguasai perbendaharaan rahmat Tuhanku, berupa harta benda atau apa saja yang dianugerahkan Allah kepada makhluk-Nya, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, tidak kamu berikan kepada siapa yang membutuhkan karena takut membelanjakannya, yakni takut kemiskinan karena membelanjakan apa yang dianugerahkan oleh Tuhanmu.” Dan manusia itu memang sangat kikir. Demikianlah Allah tidak akan mengabulkan tuntutan mereka karena seperti itulah ketetapan Allah menyangkut hikmah dan maslahat dalam penciptaan makhluk-Nya.
Pada ayat ini, Allah swt menerangkan sebab-sebab mengapa Dia tidak memperkenankan permintaan orang-orang zalim itu, yaitu walaupun diperkenankan, mereka tetap tidak akan beriman, berlaku kikir, dan tidak mau memberikan sebagian kecil hartanya kepada orang lain yang memerlukannya. Mereka takut kenikmatan-kenikmatan yang telah diperoleh akan lenyap dari mereka. Padahal nikmat Allah tidak akan pernah habis seberapa pun manusia mengambilnya. Allah juga telah menjanjikan orang-orang yang menginfakkan harta mereka dengan imbalan yang berlipat ganda dari apa yang mereka infakkan.
Sifat kikir adalah watak dan tabiat manusia dengan kadar yang berbeda. Watak dan tabiat yang tidak baik itulah yang menyebabkan manusia mendurhakai perintah Allah dan enggan memperhatikan larangan-larangan-Nya. Firman Allah:
وَّتُحِبُّ وْنَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّاۗ ٢٠ (الفجر)
Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan. (al-Fajr/89: 20)
وَاِنَّهٗ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيْدٌ ۗ ٨ (العٰديٰت)
Dan sesungguhnya cintanya kepada harta benar-benar berlebihan. (al-‘Ādiyāt/100: 8)
‘Iẓāman wa Rufātan عِظَامًا وَ رُفَاتًا (al-Isrā’/17: 98)
‘Iẓāman wa rufātan adalah dua lafal dalam bentuk jamak, bentuk mufradnya adalah عظم artinya tulang, dan ﺮﻓﺖ artinya pecahan atau remukan. Dalam ayat 98 Surah al-Isrā’ ini digambarkan keheranan atau ketidakpercayaan orang-orang kafir, apa mungkin –ucap mereka- manusia yang telah lama mati dan telah menjadi tulang belulang dan bahkan sudah hancur berkeping-keping akan dapat dibangkitkan lagi menjadi manusia yang utuh? Akal dan pikiran mereka tidak sampai untuk menerima hal tersebut, dan mereka tidak percaya hal itu dapat terjadi. Pada dasarnya orang kafir memang tidak percaya adanya hari kebangkitan atau hari kiamat, dan mereka tidak percaya pada Allah yang Maha Esa dan Mahakuasa, serta tidak percaya pada Al-Qur’an dan rukun iman yang lain. Padahal jangankan mengumpulkan tulang belulang yang berserakan dan menjadikannya manusia yang utuh, menciptakan manusia dari tidak ada menjadi ada seperti sekarang ini juga Allah sangat mampu, seperti yang kita saksikan sekarang ini. Bukankah membuat untuk kedua kalinya dari bahan-bahan yang sebagian sudah ada lebih mudah daripada menciptakan yang baru dari tanpa bahan dan tanpa contoh sama sekali? Dengan pemikiran yang sedikit tenang saja hal ini tentu dapat dimengerti dan dipahami.















































