Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 101 - Surat Al-Isrā' (Memperjalankan di Malam Hari)
الاسراۤء
Ayat 101 / 111 •  Surat 17 / 114 •  Halaman 292 •  Quarter Hizb 30 •  Juz 15 •  Manzil 4 • Makkiyah

وَلَقَدْ اٰتَيْنَا مُوْسٰى تِسْعَ اٰيٰتٍۢ بَيِّنٰتٍ فَسْـَٔلْ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اِذْ جَاۤءَهُمْ فَقَالَ لَهٗ فِرْعَوْنُ اِنِّيْ لَاَظُنُّكَ يٰمُوْسٰى مَسْحُوْرًا

Wa laqad ātainā mūsā tis‘a āyātim bayyinātin fas'al banī isrā'īla iż jā'ahum fa qāla lahū fir‘aunu innī la'aẓunnuka yā mūsā masḥūrā(n).

Sungguh, Kami telah menganugerahkan kepada Musa sembilan mukjizat yang nyata.440) Maka, tanyakanlah kepada Bani Israil ketika dia datang kepada mereka lalu Fir‘aun berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa engkau, wahai Musa, terkena sihir.”

Makna Surat Al-Isra' Ayat 101
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Ayat yang lalu menjelaskan bahwa kaum musyrik enggan menerima kebenaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad meskipun telah ditunjukkan bukti-bukti yang sangat banyak. Hal ini sangat menyedihkan hati Nabi yang sangat ingin agar umatnya beriman. Ayat ini memberikan hiburan kepada Nabi dengan menguraikan kisah Bani Israil dengan kaumnya, sekaligus mengisyaratkan bahwa seandainya kaum musyrikin di Mekah diberikan ayat-ayat yang mereka minta, niscaya mereka tetap tidak akan percaya sebagaimana keadaan kaum Nabi Musa. Dan sungguh, Kami telah memberikan kepada Musa, yang Kami utus kepada Bani Israil dan kepada Fir’aun dengan membawa sembilan mukjizat yang nyata,11 sebagai bukti atas kerasulannya, akan tetapi Fir’aun tetap ingkar dan tidak mau beriman kepadanya, maka tanyakanlah kepada Bani Israil, yang hidup pada masamu apa yang terjadi ketika Musa datang kepada mereka, yakni kepada nenek moyang mereka. Ketahuilah bahwa ketika itu Nabi Musa menemui Fir’aun menyampaikan risalah dan bukti-bukti kebenarannya, lalu Fir’aun berkata kepadanya, “Wahai Musa! Sesungguhnya aku benar-benar menduga engkau terkena sihir.” Demikian dituduhkan Fir’aun kepada Nabi Musa.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini menerangkan bahwa Allah swt telah memberikan sembilan macam mukjizat kepada Musa a.s. sebagai bukti kerasulannya, ketika diutus kepada Fir‘aun dan kaumnya. Namun demikian, Fir‘aun dan kaumnya tetap menolak seruan Nabi Musa untuk beriman pada Allah Sang Pencipta. Dalam ayat yang lain diterangkan bagaimana Fir‘aun dan kaumnya mengingkari seruan Musa.

Allah swt berfirman:

وَجَحَدُ وْا بِهَا وَاسْتَيْقَنَت ْهَآ اَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَّعُلُوًّاۗ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِيْن َ ࣖ ١٤ (النمل)

Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongannya, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)-nya. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan. (an-Naml/27: 14)

Para mufasir berbeda pendapat tentang maksud dari sembilan ayat tersebut di atas. Menurut Ibnu Abbas, sebagaimana diriwayatkan oleh ‘Abd Razzāq, Sa’īd bin Manṣūr, Ibnu Jarīr aṭ-Ṭabarī, dan Ibnu Munżir, bahwa sembilan ayat tersebut adalah tongkat, tangan, topan, belalang, kutu, katak, darah, musim kemarau, dan kekurangan buah-buahan. Pendapat ini disetujui oleh jumhur ulama.

Mufasir yang lain, seperti ar-Rāzī, berpendapat bahwa yang dimaksud dengan sembilan ayat tersebut di atas adalah berbagai larangan. Ia mendasar-kan pendapatnya dengan hadis Nabi saw yang diriwayatkan oleh Aḥmad, at-Tirmiżī, al-Baihaqī, Aṭ-Ṭabrānī, an-Nasā’ī, dan Ibnu Mājah dari Ṣafwān bin Asal al-Murādī, ketika beliau ditanya oleh orang Yahudi, bahwa yang dimaksud dengan sembilan ayat di sini ialah sembilan macam larangan, yaitu: jangan mempersekutukan Allah, jangan membunuh jiwa kecuali dengan hak, jangan berzina, jangan mencuri, jangan menyihir, jangan makan riba, jangan memfitnah orang yang tidak bersalah kepada penguasa, jangan menuduh wanita yang baik berzina, dan melanggar aturan pada hari Sabat. Ibnu Syihab Al-Khafaji mengatakan, “Inilah tafsir yang diikuti dalam menafsirkan ayat ini.”

Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw agar menanyakan tentang kisah Musa kepada orang-orang Yahudi yang hidup di masanya, seperti Abdullah bin Salam dan lain-lain, niscaya mereka akan membenarkannya. Pengakuan mereka terhadap kebenaran risalah Nabi Musa akan menambah iman dan keyakinannya. Hal itu juga bertujuan agar Nabi saw yakin bahwa kisah itu juga terdapat dalam kitab mereka.

Tanyakanlah kepada orang-orang Yahudi, tentu mereka akan menerangkan bahwa Musa a.s. telah datang kepada Fir‘aun membawa agama tauhid dan mengemukakan berbagai mukjizatnya. Akan tetapi, Fir‘aun mengingkarinya, bahkan mengatakan bahwa Musa adalah orang yang rusak akalnya, sehingga mengaku-ngaku sebagai seorang rasul Allah.

Isi Kandungan Kosakata

Maṡbūran مَثْبُوْرًا (al-Isrā’/17: 102)

Maṡbūran adalah ismul maf’ūl dari kata kerja atau fi’il ﻭﺛﺒﺮﺍ ﺛﺒﺮ ﻳﺜﺒﺮ ﺛﺒﻮﺭﺍ artinya binasa. Jadi maṡbūran artinya orang yang dibinasakan atau orang yang binasa. Meskipun Fir‘aun seorang yang sangat berkuasa terhadap rakyat dan kerajaannya, Allah sangat mudah untuk menghancurkan Fir‘aun dengan segala pengikutnya. Dalam ayat 102 Surah al-Isrā’ ini diterangkan bahwa Fir‘aun dan semua pengikutnya akan hancur binasa. Hal ini terbukti ketika Fir‘aun mau menangkap Nabi Musa, tetapi Nabi Musa dengan Bani Israil meninggalkan Mesir, maka Fir‘aun dengan bala tentaranya tenggelam di Laut Merah. Nabi Musa beserta pengikutnya dari Bani Israil selamat dari kejaran Fir‘aun karena telah melintasi Laut Merah dengan aman atas izin Allah.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto