قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَآ اَنْزَلَ هٰٓؤُلَاۤءِ اِلَّا رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ بَصَاۤىِٕرَۚ وَاِنِّيْ لَاَظُنُّكَ يٰفِرْعَوْنُ مَثْبُوْرًا
Qāla laqad ‘alimta mā anzala hā'ulā'i illā rabbus-samāwāti wal-arḍi baṣā'ir(a), wa innī la'aẓunnuka yā fir‘aunu maṡbūrā(n).
Dia (Musa) menjawab, “Sungguh, engkau benar-benar telah mengetahui bahwa tidak ada yang menurunkan (mukjizat-mukjizat) itu kecuali Tuhan langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata. Sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa engkau, wahai Fir‘aun, terlaknat.”
Mendengar tuduhan Fir’aun itu, lalu Dia, yakni Nabi Musa menjawab, “Sungguh, engkau wahai Fir’aun telah mengetahui bahwa yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu ialah Allah, karena tidak ada yang kuasa menurunkan itu kecuali Allah Tuhan Pemelihara langit dan bumi. Dia menurunkannya sebagai bukti-bukti yang nyata yang dapat mengantar orang percaya kepada Allah. Akan tetapi engkau, wahai Fir’aun, menolak bukti-bukti itu dan sungguh aku benar-benar menduga engkau akan binasa, wahai Fir’aun, jika engkau tidak percaya kepada Allah dan tidak mau menerima tuntunan yang kusampaikan.
Musa mengatakan kepada Fir‘aun bahwa sesungguhnya Fir‘aun telah mengetahui bahwa yang menurunkan ayat-ayat ini adalah Tuhan yang memiliki langit dan bumi. Hal itu dijelaskan Nabi Musa sebagai bukti dan keterangan bahwa yang diserukannya itu adalah suatu kebenaran. Hanya orang yang bersih hatinya yang dapat menerima seruan tersebut. Lebih lanjut Nabi Musa mengatakan kepada Fir‘aun bahwa hatinya yang kotor dan tidak mempunyai kesediaan untuk menerima seruan itu. Kebenaran apapun yang dikemukakan kepadanya tetap tidak akan membuatnya menerima seruan tersebut.
Maṡbūran مَثْبُوْرًا (al-Isrā’/17: 102)
Maṡbūran adalah ismul maf’ūl dari kata kerja atau fi’il ﻭﺛﺒﺮﺍ ﺛﺒﺮ ﻳﺜﺒﺮ ﺛﺒﻮﺭﺍ artinya binasa. Jadi maṡbūran artinya orang yang dibinasakan atau orang yang binasa. Meskipun Fir‘aun seorang yang sangat berkuasa terhadap rakyat dan kerajaannya, Allah sangat mudah untuk menghancurkan Fir‘aun dengan segala pengikutnya. Dalam ayat 102 Surah al-Isrā’ ini diterangkan bahwa Fir‘aun dan semua pengikutnya akan hancur binasa. Hal ini terbukti ketika Fir‘aun mau menangkap Nabi Musa, tetapi Nabi Musa dengan Bani Israil meninggalkan Mesir, maka Fir‘aun dengan bala tentaranya tenggelam di Laut Merah. Nabi Musa beserta pengikutnya dari Bani Israil selamat dari kejaran Fir‘aun karena telah melintasi Laut Merah dengan aman atas izin Allah.

















































