فَاَرَادَ اَنْ يَّسْتَفِزَّهُمْ مِّنَ الْاَرْضِ فَاَغْرَقْنٰهُ وَمَنْ مَّعَهٗ جَمِيْعًاۙ
Fa arāda ay yastafizzahum minal arḍi fa agraqnāhu wa mam ma‘ahū jamī‘ā(n).
Kemudian, dia (Fir‘aun) hendak mengusir mereka (Musa dan pengikutnya) dari bumi (Mesir), maka Kami tenggelamkan dia (Fir‘aun) beserta seluruh orang yang bersamanya.
Mendengar jawaban Nabi Musa, sikap Fir’aun tetap tidak percaya bahkan semakin durhaka. Kemudian dia, yakni Fir’aun hendak mengusir mereka, yaitu Nabi Musa dan pengikutnya dari bumi Mesir, maka ketika ia benar-benar mengusir Nabi Musa dan pengikutnya, Kami tenggelamkan dia, yakni Fir’aun, beserta orang yang bersama dia seluruhnya ketika menyeberangi Laut Merah dalam perjalanan dari Mesir menuju Sinai.
Setelah Fir‘aun melihat kegigihan Musa dalam menyampaikan risalahnya, dan hal itu akan membahayakan diri dan kekuasaannya, maka Fir‘aun berencana untuk mengeluarkan Musa dan pengikut-pengikutnya dari bumi Mesir, baik dengan cara mengusir atau melenyapkan mereka. Akan tetapi, Allah swt lebih dahulu menenggelamkan Fir‘aun beserta pengikut-pengikutnya ke dalam laut Qulzum.
Maṡbūran مَثْبُوْرًا (al-Isrā’/17: 102)
Maṡbūran adalah ismul maf’ūl dari kata kerja atau fi’il ﻭﺛﺒﺮﺍ ﺛﺒﺮ ﻳﺜﺒﺮ ﺛﺒﻮﺭﺍ artinya binasa. Jadi maṡbūran artinya orang yang dibinasakan atau orang yang binasa. Meskipun Fir‘aun seorang yang sangat berkuasa terhadap rakyat dan kerajaannya, Allah sangat mudah untuk menghancurkan Fir‘aun dengan segala pengikutnya. Dalam ayat 102 Surah al-Isrā’ ini diterangkan bahwa Fir‘aun dan semua pengikutnya akan hancur binasa. Hal ini terbukti ketika Fir‘aun mau menangkap Nabi Musa, tetapi Nabi Musa dengan Bani Israil meninggalkan Mesir, maka Fir‘aun dengan bala tentaranya tenggelam di Laut Merah. Nabi Musa beserta pengikutnya dari Bani Israil selamat dari kejaran Fir‘aun karena telah melintasi Laut Merah dengan aman atas izin Allah.








































