قُلْ كَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًاۢ بَيْنِيْ وَبَيْنَكُمْۗ اِنَّهٗ كَانَ بِعِبَادِهٖ خَبِيْرًاۢ بَصِيْرًا
Qul kafā billāhi syahīdam bainī wa bainakum, innahū kāna bi‘ibādihī khabīram baṣīrā(n).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu sekalian. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat hamba-hamba-Nya.”
Katakanlah wahai Nabi Muhammad kepada orang-orang yang tidak mau beriman, “Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu sekalian bahwa aku adalah seorang manusia yang diutus oleh Allah menyampaikan wahyu kepadamu. Sungguh, Dia Maha Mengetahui keadaan setiap makhluk-Nya, Maha Melihat akan tingkah laku dan perbuatan hamba-hamba-Nya baik yang tampak maupun yang tersembunyi."
Allah memerintahkan kepada Rasulullah saw agar menyampaikan ancaman-Nya kepada orang-orang kafir bahwa Allah akan menjadi saksi atas apa yang diperselisihkan antara Nabi dan orang-orang musyrik Mekah. Allah akan menjadi hakim yang akan mengadili perkara mereka dengan adil di akhirat nanti karena Dia mengetahui semua yang mereka kerjakan, bahkan yang terkandung dalam hati mereka.
‘Iẓāman wa Rufātan عِظَامًا وَ رُفَاتًا (al-Isrā’/17: 98)
‘Iẓāman wa rufātan adalah dua lafal dalam bentuk jamak, bentuk mufradnya adalah عظم artinya tulang, dan ﺮﻓﺖ artinya pecahan atau remukan. Dalam ayat 98 Surah al-Isrā’ ini digambarkan keheranan atau ketidakpercayaan orang-orang kafir, apa mungkin –ucap mereka- manusia yang telah lama mati dan telah menjadi tulang belulang dan bahkan sudah hancur berkeping-keping akan dapat dibangkitkan lagi menjadi manusia yang utuh? Akal dan pikiran mereka tidak sampai untuk menerima hal tersebut, dan mereka tidak percaya hal itu dapat terjadi. Pada dasarnya orang kafir memang tidak percaya adanya hari kebangkitan atau hari kiamat, dan mereka tidak percaya pada Allah yang Maha Esa dan Mahakuasa, serta tidak percaya pada Al-Qur’an dan rukun iman yang lain. Padahal jangankan mengumpulkan tulang belulang yang berserakan dan menjadikannya manusia yang utuh, menciptakan manusia dari tidak ada menjadi ada seperti sekarang ini juga Allah sangat mampu, seperti yang kita saksikan sekarang ini. Bukankah membuat untuk kedua kalinya dari bahan-bahan yang sebagian sudah ada lebih mudah daripada menciptakan yang baru dari tanpa bahan dan tanpa contoh sama sekali? Dengan pemikiran yang sedikit tenang saja hal ini tentu dapat dimengerti dan dipahami.
















































