وَمَنْ يَّهْدِ اللّٰهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِۚ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِهٖۗ وَنَحْشُرُهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ عَلٰى وُجُوْهِهِمْ عُمْيًا وَّبُكْمًا وَّصُمًّاۗ مَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُۗ كُلَّمَا خَبَتْ زِدْنٰهُمْ سَعِيْرًا
Wa may yahdillāhu fa huwal-muhtad(i), wa may yuḍlil falan tajida lahum auliyā'a min dūnih(ī), wa naḥsyuruhum yaumal-qiyāmati ‘alā wujūhihim ‘umyaw wa bukmaw wa ṣummā(n), ma'wāhum jahannam(u), kullamā khabat zidnāhum sa‘īrā(n).
Siapa yang dianugerahi petunjuk oleh Allah (karena kecenderungan dan pilihannya terhadap kebaikan) dialah yang mendapat petunjuk. Siapa yang Dia sesatkan, engkau tidak akan mendapatkan penolong-penolong439) bagi mereka selain Dia. Kami akan mengumpulkan mereka pada hari Kiamat dengan wajah tersungkur, dalam keadaan buta, bisu, dan tuli. Tempat kediaman mereka adalah (neraka) Jahanam. Setiap kali nyala api Jahanam itu akan padam, Kami tambah lagi nyalanya bagi mereka.
Dan barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, disebabkan kecenderungan hatinya untuk mendapat petunjuk, dialah yang mendapat petunjuk, tidak ada siapa pun yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa Dia sesatkan, disebabkan oleh penolakannya terhadap ayat-ayat Allah, maka engkau tidak akan mendapatkan penolong-penolong bagi mereka yang dapat menunjukkan kepada jalan yang benar selain Dia, Allah Yang Mahakuasa. Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat dengan wajah tersungkur, ditarik malaikat ke dalam neraka dalam keadaan buta, tidak dapat melihat sesuatu yang terjadi, bisu, tidak dapat mengutarakan kepedihan, dan tuli, tidak dapat mendengar sesuatu yang menyenangkan hati. Keadaan mereka di akhirat adalah sebagaimana sikap mereka terhadap ayat-ayat Allah ketika mereka di dunia. Tempat kediaman mereka adalah neraka Jahanam. Setiap kali nyala api Jahanam itu akan padam, disebabkan punah bahan bakarnya yang berupa manusia, Kami tambah lagi nyalanya dengan mengembalikan kulitnya dan menumbuhkan kembali tulangnya bagi mereka. Setiap kali kulit mereka hangus terbakar oleh api neraka, Allah mengganti kulit yang lain sehingga tidak putus-putusnya kepedihan menimpa mereka.
Allah swt menerangkan dalam ayat ini bahwa Dialah yang menguasai dan menentukan segala sesuatu. Dia yang memberi petunjuk dan taufik kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Orang yang tidak menerima petunjuk dan taufik-Nya, adalah orang yang sesat dan tidak akan memperoleh penolong selain Allah.
Orang-orang sesat itu akan dikumpulkan Allah pada hari kiamat di suatu tempat untuk dihisab. Mereka dibangkitkan dari kubur dalam keadaan buta, bisu, dan tuli, sebagaimana mereka dahulu di dunia tidak melihat dan mendengarkan kebenaran yang disampaikan.
Nabi saw bersabda:
قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ كَيْفَ يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى وُجُوْهِهِمْ؟ قَالَ: الَّذِي أَمْشَاهُمْ عَلَى أَرْجُلِهِمْ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُمْشِيَهُمْ عَلَى وُجُوْهِهِمْ. (رواه البخاري و مسلم عن أنس بن ملك)
Seorang bertanya kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah bagaimana manusia berjalan dengan wajah mereka?” Rasulullah menjawab, “Dia yang menjalankan mereka dengan kaki mereka, tentu berkuasa pula menjalankan mereka dengan wajah mereka”. (Riwayat al-Bukhārī dan Muslim dari Anas bin Mālik)
Abū Dāwud dan at-Tirmiżī meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah:
إِنَّ النَّاسَ يَكُوْنُوْنَ ثَلَاثَةَ اَصْنَافٍ فِى الْحَشْرِ مُشَاةً وَرُكْبَانًا وَ عَلَى وُجُوْهِهِمْ.
B ahwa manusia itu ada tiga macam pada hari berkumpul di padang Mahsyar, ada yang berjalan, ada yang berkendaraan dan ada pula yang berjalan dengan wajah mereka.
Setelah selesai dihisab, mereka dimasukkan ke dalam neraka Jahanam dan dibakar dengan api yang menyala-nyala karena setiap akan padam, nyala api itu ditambah lagi. Setiap kali kulit dan tubuh menjadi hangus, dan daging-daging mereka menjadi musnah, Allah menggantinya kembali dengan kulit, daging, dan tubuh yang baru, sehingga mereka kembali merasakan azab yang tidak putus-putusnya.
‘Iẓāman wa Rufātan عِظَامًا وَ رُفَاتًا (al-Isrā’/17: 98)
‘Iẓāman wa rufātan adalah dua lafal dalam bentuk jamak, bentuk mufradnya adalah عظم artinya tulang, dan ﺮﻓﺖ artinya pecahan atau remukan. Dalam ayat 98 Surah al-Isrā’ ini digambarkan keheranan atau ketidakpercayaan orang-orang kafir, apa mungkin –ucap mereka- manusia yang telah lama mati dan telah menjadi tulang belulang dan bahkan sudah hancur berkeping-keping akan dapat dibangkitkan lagi menjadi manusia yang utuh? Akal dan pikiran mereka tidak sampai untuk menerima hal tersebut, dan mereka tidak percaya hal itu dapat terjadi. Pada dasarnya orang kafir memang tidak percaya adanya hari kebangkitan atau hari kiamat, dan mereka tidak percaya pada Allah yang Maha Esa dan Mahakuasa, serta tidak percaya pada Al-Qur’an dan rukun iman yang lain. Padahal jangankan mengumpulkan tulang belulang yang berserakan dan menjadikannya manusia yang utuh, menciptakan manusia dari tidak ada menjadi ada seperti sekarang ini juga Allah sangat mampu, seperti yang kita saksikan sekarang ini. Bukankah membuat untuk kedua kalinya dari bahan-bahan yang sebagian sudah ada lebih mudah daripada menciptakan yang baru dari tanpa bahan dan tanpa contoh sama sekali? Dengan pemikiran yang sedikit tenang saja hal ini tentu dapat dimengerti dan dipahami.














































