ذٰلِكَ جَزَاۤؤُهُمْ بِاَنَّهُمْ كَفَرُوْا بِاٰيٰتِنَا وَقَالُوْٓا ءَاِذَا كُنَّا عِظَامًا وَّرُفَاتًا ءَاِنَّا لَمَبْعُوْثُوْنَ خَلْقًا جَدِيْدًا
Żālika jazā'uhum bi'annahum kafarū bi'āyātinā wa qālū a'iżā kunnā ‘iẓāmaw wa rufātan a'innā lamab‘ūṡūna khalqan jadīdā(n).
Itulah balasan bagi mereka karena sesungguhnya mereka kufur kepada ayat-ayat Kami dan (karena mereka) berkata, “Apabila kami telah menjadi tulang-belulang dan benda-benda yang hancur, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk baru?”
Itulah neraka Jahanam balasan bagi mereka, disebabkan karena sesungguhnya mereka kafir kepada ayat-ayat Kami, baik ayat-ayat yang diturunkan melalui wahyu, yakni Kitab Suci, maupun ayat-ayat yang terhampar di alam raya dan karena mereka menolak hari kebangkitan dengan berkata, “Apabila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, bagaikan debu yang beterbangan apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk baru?”
Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang kafir itu diazab karena mengingkari ayat-ayat Allah dan hari kebangkitan dengan mengatakan, “Apakah mungkin kita dibangkitkan kembali, setelah kita mati, tubuh kita sudah hancur dan lumat bersama tanah, kemudian tulang-belulang kita berserakan menjadi bahagian yang terpisah-pisah. Apakah bagian-bagian tubuh itu dapat dikumpulkan dan dihidupkan kembali, sehingga kita menjadi makhluk hidup yang baru?”
‘Iẓāman wa Rufātan عِظَامًا وَ رُفَاتًا (al-Isrā’/17: 98)
‘Iẓāman wa rufātan adalah dua lafal dalam bentuk jamak, bentuk mufradnya adalah عظم artinya tulang, dan ﺮﻓﺖ artinya pecahan atau remukan. Dalam ayat 98 Surah al-Isrā’ ini digambarkan keheranan atau ketidakpercayaan orang-orang kafir, apa mungkin –ucap mereka- manusia yang telah lama mati dan telah menjadi tulang belulang dan bahkan sudah hancur berkeping-keping akan dapat dibangkitkan lagi menjadi manusia yang utuh? Akal dan pikiran mereka tidak sampai untuk menerima hal tersebut, dan mereka tidak percaya hal itu dapat terjadi. Pada dasarnya orang kafir memang tidak percaya adanya hari kebangkitan atau hari kiamat, dan mereka tidak percaya pada Allah yang Maha Esa dan Mahakuasa, serta tidak percaya pada Al-Qur’an dan rukun iman yang lain. Padahal jangankan mengumpulkan tulang belulang yang berserakan dan menjadikannya manusia yang utuh, menciptakan manusia dari tidak ada menjadi ada seperti sekarang ini juga Allah sangat mampu, seperti yang kita saksikan sekarang ini. Bukankah membuat untuk kedua kalinya dari bahan-bahan yang sebagian sudah ada lebih mudah daripada menciptakan yang baru dari tanpa bahan dan tanpa contoh sama sekali? Dengan pemikiran yang sedikit tenang saja hal ini tentu dapat dimengerti dan dipahami.














































