وَلَقَدْ صَرَّفْنَا لِلنَّاسِ فِيْ هٰذَا الْقُرْاٰنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍۖ فَاَبٰىٓ اَكْثَرُ النَّاسِ اِلَّا كُفُوْرًا
Wa laqad ṣarrafnā lin-nāsi fī hāżal-qur'āni min kulli maṡal(in), fa abā akṡarun-nāsi illā kufūrā(n).
Sungguh, Kami telah menjelaskan berulang-ulang segala perumpamaan dengan berbagai macam cara kepada manusia dalam Al-Qur’an ini, tetapi kebanyakan manusia tidak menginginkan kecuali kekufuran.
Dan sungguh, Allah bersumpah, Kami telah menjelaskan kepada manusia dalam Al-Qur’an ini dengan bermacam-macam perumpamaan, yakni dengan bermacam-macam cara dan gaya bahasa, seperti penyampaian kebenaran dengan disertai bukti-bukti, dengan janji dan ancaman, kisah dan perumpamaan yang disampaikan berulang-ulang agar manusia beriman, tetapi kebanyakan manusia tidak menyukainya bahkan mengingkarinya. Mereka tidak tersentuh hatinya sedikit pun untuk dapat menerima tuntunan Al-Qur’an walaupun disampaikan dengan bermacam-macam cara dan gaya bahasa karena kesombongan dan kedengkian mereka.
Dalam ayat ini diterangkan bahwa Allah menyampaikan segala macam bukti dan argumen kepada manusia agar mereka beriman. Berbagai bukti dan argumen itu diungkapkan dalam bentuk penjelasan dengan berbagai macam gaya bahasa, ada dalam bentuk perintah, berita, dan cerita. Demikian pula isinya yang bermacam-macam, seperti akidah, hukum, budi pekerti, ibadah, kisah, dan sebagainya yang tidak dapat dibantah kebenaran-nya.
Sekalipun Allah swt telah menyampaikan dalam bentuk dan cara yang berbeda-beda, juga isinya yang mengandung nilai-nilai yang tinggi untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat, namun orang-orang kafir tidak mengimaninya. Mereka tetap mengingkari dan menentangnya.
Ṣarrafnā صَرَّفْنَا (al-Isrā’/17: 89)
Ṣarrafnā adalah fi’il māḍī dengan fā’il naḥnu (kita) dari fi’il: ṣarrafa-yuṣarrifu-taṣr īfan yang berarti menyerahkan, mengalirkan, memindahkan, dan mengedarkan. Pada ayat 89 Surah al-Isrā’ ini ungkapan: laqad ṣarrafnā berarti sungguh Kami telah menjelaskan berulang-ulang, maksudnya Allah telah seringkali menerangkan kepada manusia dengan berbagai perumpama-an di dalam Al-Qur’an, sehingga tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak mengerti dan tidak menerima kebenarannya kecuali karena tidak dapat memperoleh hidayah dari Allah. Al-Qur’an merupakan firman dan petunjuk Allah kepada semua manusia yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui Malaikat Jibril. Telah jelas tidak seorang pun dapat meniru atau membuat seperti Al-Qur’an karena Al-Qur’an adalah mukjizat abadi Nabi Muhammad saw sebagai nabi terakhir, dan tidak ada nabi lagi setelah beliau. Berbagai kisah nabi-nabi terdahulu juga diterangkan dalam Al-Qur’an secara berulang-ulang, juga beberapa kisah umat terdahulu baik yang tunduk mengikuti nabi mereka, maupun yang mengingkari dan menolaknya serta akibat selanjutnya.














































