وَيَدْعُ الْاِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاۤءَهٗ بِالْخَيْرِۗ وَكَانَ الْاِنْسَانُ عَجُوْلًا
Wa yad‘ul-insānu bisy-syarri du‘ā'ahū bil-khair(i), wa kānal-insānu ‘ajūlā(n).
Manusia (seringkali) berdoa untuk (mendapatkan) keburukan sebagaimana (biasanya) berdoa untuk (mendapatkan) kebaikan. Manusia itu (sifatnya) tergesa-gesa.
Dan manusia terkadang berdoa untuk kejahatan, seperti mengharapkan kematiannya, kematian anak dan keluarganya, atau untuk kehancuran harta bendanya dalam keadaan marah atau putus asa sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. Allah menyatakan, Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa. Sifat itulah yang menyebabkan manusia berdoa untuk kejahatan, tanpa disadari bahwa doanya itu jika dikabulkan akan membawa kerugian bagi dirinya. Oleh karena itu, janganlah tergesagesa di dalam mengambil keputusan.
Kemudian Allah swt menjelaskan bahwa di antara manusia ada yang mengutuk dirinya, keturunannya, bahkan hartanya dengan sumpah serapah dan doa yang berisi keinginan-keinginan yang jelek pada saat marah, seperti doa, “Wahai Tuhan! Turunkanlah laknat kepadaku, binasakanlah aku!” Mereka mengucapkannya sebagaimana ketika berdoa kepada Allah dengan doa yang baik, agar diberikan kesehatan dan dilimpahkan keselamatan kepadanya, keturunan, dan harta bendanya.
Seandainya Allah swt mengabulkan doa mereka yang jelek itu, niscaya mereka tidak bisa menghindarkan diri dari akibatnya. Akan tetapi, Allah swt tidak berbuat demikian. Hal ini tidak lain hanyalah karena kasih sayang Allah yang Mahabesar. Allah swt berfirman:
۞ وَلَوْ يُعَجِّلُ اللّٰهُ لِلنَّاسِ الشَّرَّ اسْتِعْجَالَهُ مْ بِالْخَيْرِ لَقُضِيَ اِلَيْهِمْ اَجَلُهُمْۗ
Dan kalau Allah menyegerakan keburukan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pasti diakhiri umur mereka. (Yūnus/10: 11)
Di akhir ayat, Allah swt menjelaskan bahwa manusia mempunyai sifat tergesa-gesa. Apabila ia menginginkan sesuatu sesuai kehendak hatinya, pikirannya tertutup untuk menilai apa yang diinginkannya itu, apakah bermanfaat bagi dirinya atau merugikan. Hal itu semata-mata didorong oleh sifat tergesa-gesa untuk mencapai tujuannya, tanpa dipikirkan dengan matang terlebih dahulu. Hal ini menunjukkan bahwa pada umumnya manusia tertarik pada keadaan lahiriah dari sesuatu tanpa meneliti lebih mendalam hakikat dan rahasia dari sesuatu itu.
Dalam ayat ini terdapat sindiran terhadap orang-orang musyrik Arab yang mendustakan kebenaran Al-Qur’an, karena mereka tidak mau mempercayai adanya Hari Pembalasan. Mereka lebih menyenangi dunia yang dapat mereka nikmati langsung, daripada memikirkan janji dan ancaman yang akan mereka terima di Hari Pembalasan.
Aqwam أَقْوَمُ (al-Isrā’/17: 9)
Kata aqwam merupakan bentuk superlatif dari qawīm, yang artinya lurus lagi sempurna dan memenuhi apa yang diharapkan darinya. Kata ini pada mulanya berasal dari qiyām yang merupakan antonim (lawan kata) dari duduk. Dengan berdiri, manusia dapat melakukan banyak hal, dan jauh lebih mudah daripada ketika duduk atau berbaring. Dari sini, kata tersebut kemudian bermakna untuk melakukan sesuatu sebaik dan sesempurna mungkin. Dengan demikian, aqwam dapat diartikan lebih lurus, lebih baik, atau paling baik dan paling sempurna. Bahwa Al-Qur’an bersifat aqwam antara lain karena redaksinya yang sempurna, jelas, dan kandungannya sesuai dengan fitrah manusia, sehingga mudah dipahami dan diamalkan. Kitab suci ini menempuh berbagai cara untuk meyakinkan mitra bicara. Karenanya, bila satu cara tidak berhasil untuk meyakinkannya, masih ada cara lain dan lainnya lagi, sehingga salah satunya akan dapat berhasil. Dengan demikian, aqwam bagi Al-Qur’an bukan berarti yang lebih lurus dan sempurna hanya kandungannya, karena yang haq atau benar dalam kitab suci lain juga sempurna. Yang dimaksud dengan aqwam adalah bahwa Al--Qur’an lebih sempurna dalam metode, gaya, cara yang lebih menyentuh akal, dan dapat dipahami oleh orang biasa atau cendekiawan.











































