Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 48 - Surat Al-Isrā' (Memperjalankan di Malam Hari)
الاسراۤء
Ayat 48 / 111 •  Surat 17 / 114 •  Halaman 286 •  Quarter Hizb 29.25 •  Juz 15 •  Manzil 4 • Makkiyah

اُنْظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوْا لَكَ الْاَمْثَالَ فَضَلُّوْا فَلَا يَسْتَطِيْعُوْنَ سَبِيْلًا

Unẓur kaifa ḍarabū lakal-amṡāla fa ḍallū falā yastaṭī‘ūna sabīlā(n).

Perhatikanlah (Nabi Muhammad) bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan (yang buruk) tentang engkau! Maka, sesatlah mereka sehingga tidak sanggup (mendapatkan) jalan (untuk menentang kerasulanmu).

Makna Surat Al-Isra' Ayat 48
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Allah memerintahkan kepada Rasul, “Lihatlah bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan terhadapmu, dengan menggunakan kata-kata seperti dukun, penyair, penyihir, gila, dan sebagainya, karena itu mereka menjadi sesat, jauh dari petunjuk Tuhan, dan tidak dapat lagi menemukan jalan yang benar menuju kepadanya.”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Allah swt lalu memerintahkan Rasulullah agar memperhatikan bagaimana kaum musyrikin membuat perumpamaan bagi dirinya, seperti mengatakan bahwa beliau gila, penyair, kena sihir, dan sebagainya. Dengan demikian, mereka telah menjadi sesat, dan tidak akan mendapat petunjuk karena telah menyimpang dari jalan yang benar. Berbagai perumpamaan yang mereka berikan kepada Nabi Muhammad saw ketika mendengarkannya membacakan Al-Qur’an, adalah pernyataan yang lahir dari sikap mental mereka terhadap wahyu yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya. Mereka sebenarnya tidak mau mengakui kebenaran wahyu yang dibacakan Rasulullah, karena membawa keterangan-keterangan yang bertentangan dengan kepercayaan yang diwarisi secara membabi buta dari nenek moyang mereka. Oleh sebab itu, mereka tidak bisa diharapkan lagi untuk mendapat petunjuk dan bimbingan dari wahyu, karena hati mereka telah diselubungi oleh noda-noda kemusyrikan yang luar biasa.

Isi Kandungan Kosakata

Hijāban Mastūran حِجَابًا مَسْتُوْرًا (al-Isrā’/17: 45)

Kata ḥijāb adalah bentuk maṣdar dari ḥajaba-yaḥjubu-ḥijāba n yang artinya menutupi. Oleh sebab itu, kata ḥijāb berarti penghalang. Dari sini, tirai dinamai ḥijāb, karena ia menghalangi tembusnya pandangan, atau menghalangi sesuatu menuju ke balik tirai itu.

Kata mastūran adalah bentuk isim maf’ūl dari: satara-yasturu-satran, yang artinya menutup. Sedangkan kata mastūran berarti yang tertutup. Kata mastūran pada ayat 45 Surah al-Isrā’ terletak setelah kata ḥijāban yang juga berarti tertutup.

Ulama berbeda pendapat tentang makna tersebut, ada yang memahami-nya dalam arti menutup, karena ḥijāb itu berfungsi menutup. Ada pula yang memahaminya dalam arti tertutup/tidak terlihat, yakni ḥijāb yang menjadi penghalang antara Al-Qur’an dan orang-orang yang tidak beriman.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto