وَيَخِرُّوْنَ لِلْاَذْقَانِ يَبْكُوْنَ وَيَزِيْدُهُمْ خُشُوْعًا ۩
Wa yakhirrūna lil-ażqāni yabkūna wa yazīduhum khusyū‘ā(n).
Mereka menyungkurkan wajah seraya menangis dan ia (Al-Qur’an) menambah kekhusyukan mereka.
Dan mereka menyungkurkan wajah sekali lagi dan demikian seterusnya sambil menangis karena takut kepada Allah dan mereka bertambah khusyuk memohon kepada Allah setiap kali dibacakan kepada mereka ayat-ayat Al-Qur’an.
Kemudian Allah swt menambahkan dalam ayat ini sifat-sifat yang terpuji pada orang-orang yang diberi ilmu itu. Mereka menelungkupkan muka, bersujud kepada Allah sambil menangis disebabkan bermacam-macam perasaan yang menghentak dada mereka, seperti perasaan takut kepada Allah, dan perasaan syukur atas kelahiran rasul yang dijanjikan. Pengaruh ajaran-ajaran Al-Qur’an meresap ke dalam jiwa mereka ketika mendengar ayat-ayat yang dibacakan, serta menambah kekhusyukan dan kerendahan hati mereka. Dengan demikian, mereka merasakan betapa kecilnya manusia di sisi Allah swt. Demikianlah sifat orang berilmu yang telah mencapai martabat yang mulia. Hatinya menjadi tunduk dan matanya mencucurkan air mata ketika Al-Qur’an dibacakan kepadanya. Mencucurkan air mata ketika mendengar atau membaca Al-Qur’an sangat terpuji dalam pandangan Islam.
Bersabda Rasulullah saw:
اِقْرَءُوا الْقُرْآنَ وَابْكُوْا، وَإِذَا لَمْ تَبْكُوْا فَتَبَاكَوْا. (رواه الترمذي عن سعد بن ابي وقاص)
Bacalah Al-Qur’an dan menangislah, jika kamu tidak bisa menangis, maka usahakanlah sekuat-kuatnya agar dapat menangis.(Riwayat at-Tirmiżī dari Sa’ad bin Abī Waqāṣ)
Sabda Rasulullah saw lagi:
عَيْنَانِ لَا تَمَسُّهُمَا النَّارُ، عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ تَعَالَى وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِي سَبِيْلِ اللّٰهِ. (رواه الترمذي عن ابن عباس)
Dua mata yang tidak disentuh api neraka, yaitu yang menangis karena takut kepada Allah swt, dan mata yang berjaga-jaga di malam hari pada jalan Allah (jihad). (Riwayat at-Tirmiżī dari Ibnu ‘Abbās)
لَا يَلِجُ النَّارَ رَجُلٌ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ حَتَّى يَعُوْدَ اللَّبَنُ فِى الضَّرْعِ وَلَا اجْتَمَعَ عَلَى عَبْدٍ غُبَارٌ فِي سَبِيْلِ اللّٰهِ وَدُخَانُ جَهَنَّمَ. (رواه مسلم والنسائي عن أبي هريرة)
Tidaklah masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah, kecuali bila air susu sapi dapat kembali ke dalam kantong susunya, dan tidaklah berkumpul pada seorang hamba, debu dalam peperangan di jalan Allah dengan asap api neraka. (Riwayat Muslim dan an-Nasā’i dari Abu Hurairah)
Mukṡ مُكْثٍ (al-Isrā’/17: 106)
Mukṡ artinya tenang, tidak tergesa-gesa, perlahan-lahan, tinggal atau menetap. Fi’il makaṡa-yamkuṡu-mukṡan wa mukūṡan artinya tinggal atau mendiami. Dalam ayat 106 Surah al-Isrā’ ini disebutkan dengan ungkapan: ﻟﺘﻘراه على الناس على ﻣﻜﺚ artinya: supaya kamu membacakannya kepada manusia dengan tenang atau dengan perlahan-lahan. Hal ini berkaitan dengan cara diturunkannya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw secara berangsur-angsur supaya Nabi mudah memahami dan menghafalnya, serta menyampai-kan dan membacakannya kepada manusia dengan tenang dan perlahan-lahan, tidak tergesa-gesa yang dapat menimbulkan kekurangjelasan bacaan dan makna ayat. Hal ini sangat penting karena wahyu dari Allah swt tidak boleh salah dalam membaca dan memahaminya, serta untuk dihafal dengan baik dan tepat. Apalagi waktu ayat-ayat Al-Qur’an ini diturunkan yaitu sekitar tahun 610-633 M atau awal abad ke-7 M alat tulis menulis dan rekaman belum lengkap seperti sekarang. Nabi telah melaksanakan tugas-tugas kenabiannya termasuk menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an kepada para sahabat dengan baik dan benar sesuai petunjuk Allah swt, sehingga para sahabat menerima dengan baik dan tepat, tidak terjadi kesalahan satu huruf pun, semua sesuai dengan yang disampaikan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw.
















































