Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 108 - Surat Al-Isrā' (Memperjalankan di Malam Hari)
الاسراۤء
Ayat 108 / 111 •  Surat 17 / 114 •  Halaman 293 •  Quarter Hizb 30 •  Juz 15 •  Manzil 4 • Makkiyah

وَّيَقُوْلُوْنَ سُبْحٰنَ رَبِّنَآ اِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُوْلًا

Wa yaqūlūna subḥāna rabbinā in kāna wa‘du rabbinā lamaf‘ūlā(n).

Mereka berkata, “Maha Suci Tuhan kami. Sesungguhnya janji Tuhan kami pasti terlaksana.”

Makna Surat Al-Isra' Ayat 108
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dan dalam kondisi bersujud mereka berkata, “Mahasuci Tuhan kami dari segala kekurangan dan ketidaksempurnaan; sungguh, janji Tuhan kami bahwa Dia akan menurunkan wahyu dan mengutus Rasul-Nya pasti dipenuhi, dan telah dipenuhi janji itu dengan diutusnya Nabi Muhammad dan diturunkannya Al-Qur’an.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Dalam ayat ini Allah swt menerangkan bahwa orang-orang yang telah diberi ilmu itu mengucapkan tasbih, yaitu lafal Subḥānallāh (Mahasuci Allah), sewaktu sujud tanda syukur kepada Allah swt. Mereka menyucikan Tuhan dari sifat-sifat yang tidak patut bagi-Nya, seperti menyalahi janji-Nya kepada umat manusia untuk mengutus seorang rasul. Mereka juga mengatakan bahwa sebenarnya janji Allah itu telah datang dan menjadi kenyataan.

Ayat ini menunjukkan kebaikan membaca tasbih dalam sujud. ‘Aisyah r.a. berkata, “Adalah Rasul saw banyak membaca dalam sujud dan rukuknya:

سُبْحَان كَ اللّٰهُمَّ رَبَّنَا نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ اللّٰهُمَّ اغْفِرْلِيْ (رواه مسلم)

Mahasuci Engkau ya Allah Tuhan kami, kami bertasbih dengan memuji-Mu. Ya Allah ampunilah aku. (Riwayat Muslim dalam Sahihnya)

Isi Kandungan Kosakata

Mukṡ مُكْثٍ (al-Isrā’/17: 106)

Mukṡ artinya tenang, tidak tergesa-gesa, perlahan-lahan, tinggal atau menetap. Fi’il makaṡa-yamkuṡu-mukṡan wa mukūṡan artinya tinggal atau mendiami. Dalam ayat 106 Surah al-Isrā’ ini disebutkan dengan ungkapan: ﻟﺘﻘراه على الناس على ﻣﻜﺚ artinya: supaya kamu membacakannya kepada manusia dengan tenang atau dengan perlahan-lahan. Hal ini berkaitan dengan cara diturunkannya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw secara berangsur-angsur supaya Nabi mudah memahami dan menghafalnya, serta menyampai-kan dan membacakannya kepada manusia dengan tenang dan perlahan-lahan, tidak tergesa-gesa yang dapat menimbulkan kekurangjelasan bacaan dan makna ayat. Hal ini sangat penting karena wahyu dari Allah swt tidak boleh salah dalam membaca dan memahaminya, serta untuk dihafal dengan baik dan tepat. Apalagi waktu ayat-ayat Al-Qur’an ini diturunkan yaitu sekitar tahun 610-633 M atau awal abad ke-7 M alat tulis menulis dan rekaman belum lengkap seperti sekarang. Nabi telah melaksanakan tugas-tugas kenabiannya termasuk menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an kepada para sahabat dengan baik dan benar sesuai petunjuk Allah swt, sehingga para sahabat menerima dengan baik dan tepat, tidak terjadi kesalahan satu huruf pun, semua sesuai dengan yang disampaikan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto