Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 107 - Surat Al-Isrā' (Memperjalankan di Malam Hari)
الاسراۤء
Ayat 107 / 111 •  Surat 17 / 114 •  Halaman 293 •  Quarter Hizb 30 •  Juz 15 •  Manzil 4 • Makkiyah

قُلْ اٰمِنُوْا بِهٖٓ اَوْ لَا تُؤْمِنُوْاۗ اِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهٖٓ اِذَا يُتْلٰى عَلَيْهِمْ يَخِرُّوْنَ لِلْاَذْقَانِ سُجَّدًاۙ

Qul āminū bihī au lā tu'minū, innal-lażīna ūtul-‘ilma min qablihī iżā yutlā ‘alaihim yakhirrūna lil-ażqāni sujjadā(n).

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Berimanlah kamu kepadanya (Al-Qur’an) atau tidak usah beriman (itu sama saja bagi Allah)! Sesungguhnya orang-orang yang telah diberi pengetahuan sebelumnya, apabila (Al-Qur’an) dibacakan kepada mereka, mereka menyungkurkan wajah (dengan) bersujud.”

Makna Surat Al-Isra' Ayat 107
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Jika demikian sifat dan ciri-ciri Al-Qur’an sebagaimana dijelaskan oleh ayat-ayat yang lalu, maka wahai Nabi Muhammad, katakanlah kepada orang-orang kafir Mekah dan kepada manusia seluruhnya, “Berimanlah kamu kepadanya, yakni Al-Qur’an, atau tidak usah beriman, itu sama saja bagi Allah. Jika engkau beriman, engkau mendapat manfaat dari keimananmu. Dan jika engkau ingkar, engkau juga yang mendapat kerugian. Tidak ada manfaat sedikit pun bagi Allah dari keimanan kamu, dan tidak ada pula mudarat bagi Allah dari keingkaran kamu. Sesungguhnya orang yang telah diberi pengetahuan sebelumnya, yakni ulama Ahli Kitab yang beriman kepada Nabi Muhammad, mereka diberi pengetahuan tentang wahyu Allah sebelum turunnya Al-Qur’an, apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkurkan wajah, yakni menjatuhkan wajahnya untuk bersujud mengakui kebesaran Allah dan kebenaran firman-Nya.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Dalam ayat ini Allah swt memerintahkan kepada Rasul-Nya untuk menyatakan dengan tegas kepada kaum musyrikin yang ingkar kepada kebenaran Al-Qur’an itu, bahwa sekiranya mereka beriman maka keimanan mereka itu tidaklah memperkaya perbendaharaan rahmat-Nya. Demikian pula sebaliknya, sekiranya mereka tetap ingkar, tidak mau beriman kepada Al-Qur’an, keingkaran dan penolakan mereka itu tidaklah mengurangi keagungan Allah swt. Firman Allah:

وَقَالُوْا لَنْ نُّؤْمِنَ لَكَ حَتّٰى تَفْجُرَ لَنَا مِنَ الْاَرْضِ يَنْۢبُوْعًاۙ ٩٠ (الاسراۤء)

Dan mereka berkata, ”Kami tidak akan percaya kepadamu (Muhammad) sebelum engkau memancarkan mata air dari bumi untuk kami. (al-Isrā’/17: 90)

Pernyataan Rasul saw ini merupakan celaan dan kecaman kepada kaum musyrikin, serta mengandung penghinaan kepada mereka. Bagaimanapun sikap mereka terhadap Al-Qur’an, tidak patut dipedulikan. Kebenaran Al-Qur’an tidak tergantung kepada sikap orang-orang yang ingkar itu. Tidak mengherankan kalau mereka menolak kebenaran Al-Qur’an, karena mereka memang orang Jahiliah. Tetapi orang-orang baik dan terpelajar di antara mereka tentu beriman dan tunduk sepenuhnya bila mendengar ayat-ayat Al-Qur’an dibacakan. Seperti Zaid bin Amru bin Nufail dan Waraqah bin Naufal yang telah membacakan kitab-kitab suci yang terdahulu sebelum Al-Qur’an diturunkan, dan mereka mengetahui kelak pada waktunya akan lahir seorang rasul akhir zaman. Mereka sujud dan bersyukur kepada Allah swt yang telah memenuhi janji-Nya, yaitu mengutus Muhammad saw sebagai rasul terakhir. Dengan turunnya ayat ini, Nabi Muhammad saw merasa terhibur hatinya, karena keimanan orang-orang yang terpelajar lebih berarti dari keimanan orang-orang jahil, meskipun keimanan orang-orang jahil itu tetap diharapkan.

Isi Kandungan Kosakata

Mukṡ مُكْثٍ (al-Isrā’/17: 106)

Mukṡ artinya tenang, tidak tergesa-gesa, perlahan-lahan, tinggal atau menetap. Fi’il makaṡa-yamkuṡu-mukṡan wa mukūṡan artinya tinggal atau mendiami. Dalam ayat 106 Surah al-Isrā’ ini disebutkan dengan ungkapan: ﻟﺘﻘراه على الناس على ﻣﻜﺚ artinya: supaya kamu membacakannya kepada manusia dengan tenang atau dengan perlahan-lahan. Hal ini berkaitan dengan cara diturunkannya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw secara berangsur-angsur supaya Nabi mudah memahami dan menghafalnya, serta menyampai-kan dan membacakannya kepada manusia dengan tenang dan perlahan-lahan, tidak tergesa-gesa yang dapat menimbulkan kekurangjelasan bacaan dan makna ayat. Hal ini sangat penting karena wahyu dari Allah swt tidak boleh salah dalam membaca dan memahaminya, serta untuk dihafal dengan baik dan tepat. Apalagi waktu ayat-ayat Al-Qur’an ini diturunkan yaitu sekitar tahun 610-633 M atau awal abad ke-7 M alat tulis menulis dan rekaman belum lengkap seperti sekarang. Nabi telah melaksanakan tugas-tugas kenabiannya termasuk menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an kepada para sahabat dengan baik dan benar sesuai petunjuk Allah swt, sehingga para sahabat menerima dengan baik dan tepat, tidak terjadi kesalahan satu huruf pun, semua sesuai dengan yang disampaikan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto