Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 106 - Surat Al-Isrā' (Memperjalankan di Malam Hari)
الاسراۤء
Ayat 106 / 111 •  Surat 17 / 114 •  Halaman 293 •  Quarter Hizb 30 •  Juz 15 •  Manzil 4 • Makkiyah

وَقُرْاٰنًا فَرَقْنٰهُ لِتَقْرَاَهٗ عَلَى النَّاسِ عَلٰى مُكْثٍ وَّنَزَّلْنٰهُ تَنْزِيْلًا

Wa qur'ānan faraqnāhu litaqra'ahū ‘alan-nāsi ‘alā mukṡiw wa nazzalnāhu tanzīlā(n).

Al-Qur’an Kami turunkan berangsur-angsur agar engkau (Nabi Muhammad) membacakannya kepada manusia secara perlahan-lahan dan Kami benar-benar menurunkannya secara bertahap.

Makna Surat Al-Isra' Ayat 106
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Selanjutnya dijelaskan tentang cara turunnya Al-Qur’an. Dan Al-Qur’an Kami turunkan berangsur-angsur, ayat demi ayat dalam masa lebih kurang 23 tahun, tidak Kami turunkan secara sekaligus agar engkau wahai Nabi Muhammad membacakannya kepada manusia perlahan-lahan, dengan demikian dapat dipahami tuntunannya dengan sebaik-baiknya dan mudah dihafalkan, dan Kami menurunkannya secara bertahap sesuai dengan kebutuhan dan kemaslahatan manusia.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Dalam ayat ini Allah swt menerangkan bahwa Al-Qur’an diwahyu-kan kepada Nabi Muhammad saw secara berangsur-angsur sebagian demi sebagian, agar ia dapat membacakannya kepada umatnya, serta memberi pemahaman secara perlahan-lahan. Ayat Al-Qur’an pertama kali diwahyukan di bulan Ramadan, pada malam qadar, kemudian seterusnya diturunkan kepada Nabi berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan dan peristiwa yang terjadi dalam tempo kurang dari duapuluh tiga tahun. Dengan penurunan secara berangsur-angsur itu, umat Islam memperoleh keutamaan dan manfaat yang besar, antara lain:

Pertama: Kaum Muslimin mudah menghafalnya ketika diturunkan.

Kedua: Kaum Muslimin berkesempatan untuk memahami setiap kelompok ayat yang diturunkan, karena jangkauan maknanya yang luas memerlukan waktu yang cukup untuk memahaminya agar mendapat pemahaman yang tepat dan benar.

Ketiga: Kaum Muslimin tidak mengalami kegoncangan jiwa yang berarti dalam menghadapi berbagai perubahan yang dibawa oleh Islam. Sebelum kedatangan agama Islam, mereka menganut kepercayaan animis yang bermacam-macam, dan tidak memiliki peraturan dan tata kehidupan yang dipatuhi. Penurunan Al-Qur’an secara berangsur-angsur mempermudah mereka menyesuaikan diri dengan ajaran-ajaran yang baru, baik ajaran yang berhubungan dengan akidah, maupun yang berhubungan dengan ibadah dan kemasyarakatan.

Keempat: Sebagian ayat-ayat Al-Qur’an merupakan penjelasan yang berhubungan dengan suatu peristiwa yang terjadi.

Firman Allah swt:

وَلَا يَأْتُوْنَكَ بِمَثَلٍ اِلَّا جِئْنٰكَ بِالْحَقِّ وَاَحْسَنَ تَفْسِيْرًا ۗ ٣٣ (الفرقان)

Dan mereka (orang-orang kafir itu) tidak datang kepadamu (membawa) sesuatu yang aneh, melainkan Kami datangkan kepadamu yang benar dan penjelasan yang paling baik. (al-Furqān/25: 33)

Dengan demikian, kaum Muslimin merasakan bahwa mereka selalu mendapat bimbingan dan petunjuk dari Allah swt ketika menghadapi setiap peristiwa yang terjadi di antara mereka.

Bagi Nabi Muhammad saw, penurunan Al-Qur’an secara berangsur-angsur itu amat besar manfaatnya dalam memperteguh hatinya, seperti dijelaskan Allah dalam firman-Nya:

وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْاٰنُ جُمْلَةً وَّاحِدَةً ۛ كَذٰلِكَ ۛ لِنُثَبِّتَ بِهٖ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنٰهُ تَرْتِيْلًا ٣٢ (الفرقان)

Dan orang-orang kafir berkata, ”Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Mu-hammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan dan benar). (al-Furqān/25: 32)

Pada umumnya ayat-ayat yang diturunkan berkisar antara lima sampai dengan sepuluh ayat sesuai dengan kebutuhan, sebagaimana Umar bin Khaṭṭāb berkata:

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ: تَعَلَّمُوْا الْقُرْآنَ خَمْسَ آ يَاتٍ خَمْسَ آ يَاتٍ فَإِنَّ جِبْرِيْلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ يَنْزِلُ بِهِ خَمْسًا خَمْسًا. (رواه البيهقي)

Diriwayatka n dari Umar r.a., dia berkata, “Pelajarilah Al-Qur’an lima ayat lima ayat. Karena sesungguhnya Jibril menurunkannya lima ayat lima ayat. (Riwayat al-Baihaqī).

Isi Kandungan Kosakata

Mukṡ مُكْثٍ (al-Isrā’/17: 106)

Mukṡ artinya tenang, tidak tergesa-gesa, perlahan-lahan, tinggal atau menetap. Fi’il makaṡa-yamkuṡu-mukṡan wa mukūṡan artinya tinggal atau mendiami. Dalam ayat 106 Surah al-Isrā’ ini disebutkan dengan ungkapan: ﻟﺘﻘراه على الناس على ﻣﻜﺚ artinya: supaya kamu membacakannya kepada manusia dengan tenang atau dengan perlahan-lahan. Hal ini berkaitan dengan cara diturunkannya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw secara berangsur-angsur supaya Nabi mudah memahami dan menghafalnya, serta menyampai-kan dan membacakannya kepada manusia dengan tenang dan perlahan-lahan, tidak tergesa-gesa yang dapat menimbulkan kekurangjelasan bacaan dan makna ayat. Hal ini sangat penting karena wahyu dari Allah swt tidak boleh salah dalam membaca dan memahaminya, serta untuk dihafal dengan baik dan tepat. Apalagi waktu ayat-ayat Al-Qur’an ini diturunkan yaitu sekitar tahun 610-633 M atau awal abad ke-7 M alat tulis menulis dan rekaman belum lengkap seperti sekarang. Nabi telah melaksanakan tugas-tugas kenabiannya termasuk menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an kepada para sahabat dengan baik dan benar sesuai petunjuk Allah swt, sehingga para sahabat menerima dengan baik dan tepat, tidak terjadi kesalahan satu huruf pun, semua sesuai dengan yang disampaikan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto