Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 37 - Surat Al-Isrā' (Memperjalankan di Malam Hari)
الاسراۤء
Ayat 37 / 111 •  Surat 17 / 114 •  Halaman 285 •  Quarter Hizb 29.25 •  Juz 15 •  Manzil 4 • Makkiyah

وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۚ اِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْاَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُوْلًا

Wa lā tamsyi fil-arḍi marahā(n), innaka lan takhriqal-arḍa wa lan tablugal-jibāla ṭūlā(n).

Janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.

Makna Surat Al-Isra' Ayat 37
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dan janganlah engkau berjalan di muka bumi ini dengan sombong, untuk menampakkan kekuasaan dan kekuatanmu, karena sesungguhnya sekuat apa pun hentakan kakimu, kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan setinggi apa pun kepalamu, sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. Sesungguhnya kamu adalah makhluk yang lemah dan rendah di hadapan Allah, kamu tidak memiliki kekuatan dan kemuliaan, melainkan apa yang dianugerahkan oleh-Nya.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Allah melarang kaum Muslimin berjalan di muka bumi dengan sombong. Berjalan dengan sombong di muka bumi bukanlah sikap yang wajar, karena bagaimanapun kerasnya derap kaki yang dihentakkan di atas bumi, tidak akan menembus permukaannya dan bagaimanapun juga tingginya ia mengangkat kepalanya, tidaklah dapat melampaui tinggi gunung. Bahkan ditinjau dari segi ilmu jiwa, orang yang biasa berjalan dengan penuh kesombongan, berarti dalam jiwanya terdapat kelemahan. Ia merasa rendah diri, sehingga untuk menutupi kelemahan dirinya, ia berjalan dengan sombong dan berlagak dengan maksud menarik perhatian orang lain.

Allah swt menegaskan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dapat menembus bumi dan menyamai tinggi gunung. Hal ini bertujuan agar kaum Muslimin menyadari kelemahan-kelemahan yang terdapat pada diri mereka, bersikap rendah hati, dan tidak bersikap takabur. Sebab, sebagai manusia yang memiliki kemampuan terbatas, mereka tidak akan sanggup mencapai sesuatu di luar kemampuan dirinya.

Di dalam ayat ini terdapat juga celaan bagi orang-orang musyrik yang suka bermegah-megah, menyombongkan diri karena harta kekayaan dan menghambur-hamburkannya, suka bermabuk-mabukan, dan berzina.

Isi Kandungan Kosakata

Wa lā Taqfu وَلَا تَقْفُ (al-Isrā’/17: 36)

Taqfu adalah bentuk muḍāri’ dari qafā-yaqfū. Akar katanya berasal dari (ق ـ ف - حرف معتل) artinya mengikutkan sesuatu terhadap sesuatu yang lain. Al-Qafā adalah bagian belakang kepala atau leher, karena bagian ini mengikuti wajah. Qāfiyah adalah bagian akhir dari satu bait dalam syair. Ungkapan qafawtu aṡarahu artinya aku mengikuti jejaknya. Dari pengertian ini maka ungkapan pada ayat ini berarti “janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mengetahuinya”. Ungkapan ini luas jangkauannya karena menyangkut larangan berkata atau berkomentar terhadap sesuatu dengan tidak berdasar, atau berkata bohong, atau bersaksi secara palsu, atau menuduh orang lain berbuat zina tanpa ada bukti, atau berfatwa terhadap satu hal tanpa ada dasar atau menafsirkan Al-Qur’an secara asal-asalan dan lain sebagainya.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto