ذٰلِكُمْ بِاَنَّكُمُ اتَّخَذْتُمْ اٰيٰتِ اللّٰهِ هُزُوًا وَّغَرَّتْكُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا ۚفَالْيَوْمَ لَا يُخْرَجُوْنَ مِنْهَا وَلَا هُمْ يُسْتَعْتَبُوْنَ
Żālikum bi'annakumuttakhażtum āyātillāhi huzuwaw wa garratkumul-ḥayātud-dun-yā, fal-yauma lā yukhrajūna minhā wa lā hum yusta‘tabūn(a).
Yang demikian itu (terjadi) karena sesungguhnya kamu telah menjadikan ayat-ayat Allah sebagai (bahan) olok-olok dan kamu telah diperdaya oleh kehidupan dunia.” Maka, pada hari ini mereka tidak dikeluarkan darinya (neraka) dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertobat.
Yang demikian itu, yakni apa yang kamu alami sekarang ini, karena sesungguhnya kamu telah menjadikan ayat-ayat Allah yang telah di bacakan kepadamu sewaktu di dunia dahulu sebagai olok-olokan dan kamu telah di tipu oleh kehidupan dunia.” Maka untuk menjalani siksaan yang amat pedih pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka di beri kesempatan untuk bertobat karena masa untuk bertobat telah berlalu.
Pada ayat ini Allah menjelaskan mengapa orang-orang kafir itu harus menerima siksaan dan azab yang mengerikan itu, sebabnya ialah:
1. Karena waktu mereka hidup di dunia, mereka memperolok-olok ayat-ayat Allah yang disampaikan kepada mereka melalui Rasul-Nya. Sikap ini dianggap sebagai sikap yang penuh keangkuhan dan kesombongan. Mereka juga ingin mendangkalkan iman yang telah meresap dalam dada kaum Muslimin dengan berbagai macam dalih dan cara.
2. Mereka telah tertipu oleh kenikmatan hidup di dunia, sehingga mereka melupakan kehidupan akhirat yang menjadi tujuan akhir kehidupan manusia.
Itulah sebabnya ketika Allah menjatuhkan keputusan-Nya, tidak ada kemungkinan bagi mereka untuk melepaskan diri dari azab dan tidak ada lagi ampunan bagi mereka.
1. Jāṡiyah جَاثِيَةٌ (al-Jāṡiyah/45: 28)
Bentuk isim fā‘il dari kata jaṡṡa. Akar katanya bisa terambil dari (jīm-ṡā'-wāw) berarti: jaṡā-yajṡū-juṡuwwan atau (jīm-ṡā'-yā') berarti jaṡā-yajṡī-juṡiyyan, jiṡiyyan. Artinya duduk di atas kedua lututnya atau sering disebut dengan bertekuk lutut. Sebuah pemandangan seorang yang tunduk, pasrah terhadap hukuman yang akan dia dapatkan. Ungkapan jāṡiyah adalah sifat semua umat manusia pada hari Kiamat yang tidak berdaya menghadapi nasib yang akan mereka dapatkan.
2. Mustaiqinīn مُسْتَيْقِنِيْ نَ (al-Jāṡiyah/45: 32)
Bentuk isim fā‘il dari kata kerja istaiqana-yastaiqinu. Akar katanya dari (yā'-qāf-nūn) atau yaqīn. Ada tambahan huruf mīm, sīn dan tā'. Adanya tambahan huruf sīn dan tā' menunjukkan adanya arti mencari dengan sungguh-sungguh. Ungkapan wamā naḥnu bimustaiqinīn artinya, kami sekali-kali tidak meyakininya. Yakin artinya tetap dan jelas. Keyakinan adalah sebuah pengetahuan yang tidak lagi ada keraguan apapun terhadapnya. Kematian disebut juga yaqīn karena semua orang akan mempercayainya.













































