وَاِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِمْ اٰيٰتُنَا بَيِّنٰتٍ مَّا كَانَ حُجَّتَهُمْ اِلَّآ اَنْ قَالُوا ائْتُوْا بِاٰبَاۤىِٕنَآ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
Wa iżā tutlā ‘alaihim āyātunā bayyinātim mā kāna ḥujjatahum illā an qālu'tū bi'ābā'inā in kuntum ṣādiqīn(a).
Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, tidak ada bantahan mereka, kecuali mengatakan, “Hidupkanlah kembali nenek moyang kami jika kamu adalah orang-orang benar.”
Dan apabila kepada mereka dibacakan ayat-ayat Kami yang sangat jelas pembuktiannya, yaitu ayat-ayat Al-Qur’an atau tanda-tanda keesaan dan kekuasaan Allah di alam ini, tidak ada bantahan mereka terhadap ayat-ayat itu selain mengatakan, “Datangkanlah atau hidupkanlah kembali, wahai para pembaca ayat-ayat itu, nenek moyang kami yang sudah mati, jika kamu orang yang benar meyakini bahwa di akhirat nanti ada kebangkitan.”
Pada ayat ini, Allah menerangkan dan menegaskan bahwa pendapat mereka itu benar-benar berdasarkan dugaan dan sangkaan belaka, yang menjurus kepada pengingkaran terjadinya hari kebangkitan. Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah yang mengandung keterangan tentang bukti-bukti terjadinya hari kebangkitan, mereka tidak mau memahami keterangan yang dikemukakan itu, dan juga mereka menantang Rasulullah saw agar beliau menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati. Jika hal itu dapat dilakukan oleh Rasulullah, barulah mereka mau beriman.
Dari sikap mereka yang demikian itu, dapat diambil kesimpulan bahwa mereka benar-benar telah dikendalikan oleh hawa nafsu mereka, tidak lagi mempergunakan pikiran mereka dengan baik sehingga mereka tidak mau menerima segala kebenaran yang disampaikan oleh Rasulullah saw, bahwa hari kebangkitan itu akan datang pada saat yang telah ditentukan yaitu setelah semua manusia yang hidup dimatikan dan jagat raya serta segala isinya hancur-lebur. Namun hal ini tidak membuat mereka mengerti dan mengakui.
1. Gisyāwah غِشَاوَةٌ (al-Jāṡiyah/45: 23)
Akar katanya (gain-syīn dan huruf ‘illat) artinya sesuatu menutupi yang lain. Al-gisyā' adalah penutup begitu juga dengan gisyāwah. Hari kiamat juga dinamakan al-gāsyiyah karena kejadian besar pada hari Kiamat menutupi, meliputi dan menyibukkan semua orang. Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa orang yang memilih jalan yang sesat, hati dan telinganya dikunci mati oleh Allah dan diletakkan “penutup” pada penglihatannya sehingga dia tidak lagi mendengar dan melihat kebenaran yang diperlihatkan kepadanya. Kata gisyāwah berbentuk isim nakirah yang mempunyai arti tidak jelas. Artinya “penutup” yang menutupi mata mereka (orang kafir) adalah sebuah penutup yang sangat aneh yang tidak bisa diketahui oleh semua orang. Karena penutup ini berbentuk maknawi.
2. Ad-Dahru الدَّهْرُ (al-Jāṡiyah/45: 24)
Kata yang terambilkan dari akar kata (dāl-hā'-rā') pada mulanya berarti memaksa dan mengalahkan. Masa atau waktu disebut ad-dahr karena waktu akan menerjang segala sesuatu tanpa pandang bulu. Kaum ad-Dahriyyūn adalah kaum yang tidak mempercayai Allah sebagai penyebab pertama semua kejadian. Mereka menyandarkan semua kejadian kepada waktu dan silih gantinya, bukan kepada Allah yang menciptakan waktu tersebut.













































