Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 24 - Surat Al-Jāṡiyah (Berlutut)
الجاثية
Ayat 24 / 37 •  Surat 45 / 114 •  Halaman 501 •  Quarter Hizb 50.75 •  Juz 25 •  Manzil 6 • Makkiyah

وَقَالُوْا مَا هِيَ اِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوْتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَآ اِلَّا الدَّهْرُۚ وَمَا لَهُمْ بِذٰلِكَ مِنْ عِلْمٍۚ اِنْ هُمْ اِلَّا يَظُنُّوْنَ

Wa qālū mā hiya illā ḥayātunad-dun-yā namūtu wa naḥyā wa mā yuhlikunā illad-dahr(u), wa mā lahum biżālika min ‘ilmin in hum illā yaẓunnūn(a).

Mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.” Padahal, mereka tidak mempunyai ilmu (sama sekali) tentang itu. Mereka hanyalah menduga-duga.

Makna Surat Al-Jasiyah Ayat 24
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dan mereka, orang-orang musyrik dan yang mengingkari kebangkitan, berkata, “Ia, yakni kehidupan ini, tidak lain hanyalah kehidupan dunia kita saja, tidak ada kehidupan akhirat, sebahagian kita mati karena sampai ajalnya dan sebahagian kita hidup, yakni lahir lagi dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa, yakni akhir dari kehidupan kita.” Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu, yakni pengetahuan yang pasti, tentang itu, mereka hanyalah menduga-duga saja.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat ini Allah menjelaskan keingkaran orang-orang musyrik terhadap hari kebangkitan. Menurut anggapan mereka kehidupan itu hanya di dunia saja. Di dunia mereka dilahirkan dan di dunia pula mereka dimatikan dan di situlah akhir dari segala sesuatu, dan demikian pula terjadi pada nenek moyang mereka. Menurut mereka, yang menyebabkan kematian dan kebinasaan segala sesuatu ialah pertukaran masa. Dari pendapat mereka, dapat diambil kesimpulan bahwa mereka mengingkari terjadinya hari kebangkitan.

Keterangan itu diperkuat oleh adat kebiasaan orang Arab Jahiliyah yaitu apabila mereka ditimpa bencana atau musibah, terlontarlah kata-kata dari mulut mereka, “Aduhai celakalah masa.” Mereka mengumpat-umpat masa karena menurut mereka masa itulah sumber dari segala musibah.

Dalam hadis Qudsi dari Abū Hurairah, Rasulullah bersabda:

قَالَ اللّٰهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِيْنِي ابْنُ ﺁدَمَ يَقُولُ يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ فَلاَ يَقُوْلَنَّ أَحَدُكُمْ يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ فَإِنِّيْ أَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ لَيْلَهُ وَنَهَارَهُ فَإِذَا شِئْتُ قَبَضْتُهُمَا. (رواه مسلم)

Allah berfirman, “Manusia telah menyakitiku dengan mengatakan wahai masa yang sial. Maka janganlah salah seorang kalian mengatakan ‘masa yang sial’ karena Akulah (Pencipta dan Pengatur)masa. Aku mengganti malam menjadi siang, dan jika Aku menghendakinya niscaya Aku genggam keduanya.” (Riwayat Muslim)

Kemudian Allah menyayangkan sikap kaum musyrikin Mekah yang tidak didasarkan pada pengetahuan yang benar. Allah menyatakan bahwa mereka sama sekali tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang hal yang menyangkut masa itu. Pendapat mereka itu hanyalah didasarkan pada sangkaan dan dugaan saja.

Isi Kandungan Kosakata

1. Gisyāwah غِشَاوَةٌ (al-Jāṡiyah/45: 23)

Akar katanya (gain-syīn dan huruf ‘illat) artinya sesuatu menutupi yang lain. Al-gisyā' adalah penutup begitu juga dengan gisyāwah. Hari kiamat juga dinamakan al-gāsyiyah karena kejadian besar pada hari Kiamat menutupi, meliputi dan menyibukkan semua orang. Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa orang yang memilih jalan yang sesat, hati dan telinganya dikunci mati oleh Allah dan diletakkan “penutup” pada penglihatannya sehingga dia tidak lagi mendengar dan melihat kebenaran yang diperlihatkan kepadanya. Kata gisyāwah berbentuk isim nakirah yang mempunyai arti tidak jelas. Artinya “penutup” yang menutupi mata mereka (orang kafir) adalah sebuah penutup yang sangat aneh yang tidak bisa diketahui oleh semua orang. Karena penutup ini berbentuk maknawi.

2. Ad-Dahru الدَّهْرُ (al-Jāṡiyah/45: 24)

Kata yang terambilkan dari akar kata (dāl-hā'-rā') pada mulanya berarti memaksa dan mengalahkan. Masa atau waktu disebut ad-dahr karena waktu akan menerjang segala sesuatu tanpa pandang bulu. Kaum ad-Dahriyyūn adalah kaum yang tidak mempercayai Allah sebagai penyebab pertama semua kejadian. Mereka menyandarkan semua kejadian kepada waktu dan silih gantinya, bukan kepada Allah yang menciptakan waktu tersebut.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto