Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 22 - Surat Al-Jāṡiyah (Berlutut)
الجاثية
Ayat 22 / 37 •  Surat 45 / 114 •  Halaman 500 •  Quarter Hizb 50.75 •  Juz 25 •  Manzil 6 • Makkiyah

وَخَلَقَ اللّٰهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ بِالْحَقِّ وَلِتُجْزٰى كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ

Wa khalaqallāhus-samāwāti wal-arḍa bil-ḥaqqi wa litujzā kullu nafsim bimā kasabat wa hum lā yuẓlamūn(a).

Allah menciptakan langit dan bumi dengan hak dan agar setiap jiwa diberi balasan (setimpal) dengan apa yang diusahakan serta mereka tidak akan dizalimi.

Makna Surat Al-Jasiyah Ayat 22
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar, yakni penuh hikmah dan aturan untuk menunjukkan ke-Esaan dan kekuasaan-Nya, dan agar setiap jiwa, yakni manusia, diberi balasan sesuai dengan apa, yakni amal yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan di rugikan dalam menerima balasan amalnya itu.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Allah menjelaskan bahwa langit dan bumi diciptakan dengan benar, dan memiliki tujuan penciptaan sesuai dengan kehendaknya. Tidak ada satu benda pun diadakan Tuhan tanpa mempunyai tujuan. Tujuan kehadiran satu ciptaan adalah untuk dimanfaatkan oleh ciptaan yang lain, dalam rangka mencapai tujuan ciptaan yang lain itu. Apabila suatu kegiatan tidak memiliki tujuan, maka yang terjadi adalah la‘ib, permainan. Kata sebaliknya bāṭil, kebalikan kata ḥaq banyak digunakan untuk menjelaskan hal yang sama, sebagaimana ayat di bawah:

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاۤءَ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ۗذٰلِكَ ظَنُّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنَ النَّارِۗ ٢٧

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia. Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang yang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. (Ṣād/38: 27)

Seperti yang kita saksikan, sifat fisis bumi, seperti massa, struktur, suhu, dan seterusnya begitu tepat bagi kehidupan. Namun, sifat-sifat itu saja tidak cukup untuk memungkinkan adanya kehidupan di bumi, faktor penting lain adalah susunan atmosfer (lihat Surah Ibrāhīm/14:19 dan Surah al-Jāṡiyah/45: 3).

Tidak ada satu pun kekuatan lain yang dapat mengubah kehendak Allah. Ketentuan yang demikian berlaku bagi seluruh ciptaan-Nya sesuai dengan keadilan dan sunah-Nya. Di antara keadilan Allah ialah memberikan balasan yang setimpal kepada para hamba-Nya atas amal dan perbuatannya pada hari pembalasan.

Barang siapa yang melakukan perbuatan yang baik akan menerima ganjarannya sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan-Nya, demikian pula barang siapa yang melakukan perbuatan jahat akan menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan jahatnya itu.

Mengapa dikatakan bahwa pemberian balasan yang setimpal itu sesuai dengan keadilan Allah. Karena Allah menciptakan manusia sebagai makhluk-Nya, dilengkapi dengan kecenderungan dan kemampuan untuk berbuat baik dan berbuat jahat. Kedua-duanya atau salah satu daripada kedua potensi itu dapat berkembang pada diri seseorang. Perkembangannya itu banyak ditentukan oleh keadaan, lingkungan, dan waktu. Di samping itu, Allah menganugerahi manusia akal pikiran. Dengan akal pikirannya itu manusia mempunyai kesanggupan-kesanggupan untuk menilai rangsangan-rangsangan yang mempengaruhi tindakan dan perilakunya. Sebelum seseorang menentukan sikap untuk melakukan suatu perbuatan atau tidak melakukannya, maka dalam dirinya terjadi gejolak dalam mempertimbangkan dan menetapkan suatu pilihan, sikap mana atau tindakan mana yang akan diambilnya dari kedua tindakan itu.

Pada saat-saat yang demikian itu, manusia diberi kemerdekaan memilih antara yang baik dan yang buruk. Dalam pergolakan yang demikian, maka jiwa manusia mendapat tekanan-tekanan yang disebut tekanan-tekanan kejiwaan. Apabila ia memilih dan memutuskan melakukan suatu kebaikan, maka perbuatan itu terjadi berdasarkan pilihannya sendiri. Bila ia memilih keputusan melakukan keburukan, maka itu pun terjadi karena pilihannya sendiri pula. Saat-saat yang seperti itu adalah saat-saat yang menentukan apakah ia sengaja melakukan suatu perbuatan atau ia tidak sengaja melakukannya. Dan juga membedakan antara perbuatan yang dilakukan; apakah perbuatan itu dilakukan dengan sadar atau tidak. Itulah sebabnya dikatakan bahwa balasan Allah terhadap hamba-Nya sesuai dengan amal dan perbuatannya, itulah gambaran keadilan Allah.

Isi Kandungan Kosakata

1. Gisyāwah غِشَاوَةٌ (al-Jāṡiyah/45: 23)

Akar katanya (gain-syīn dan huruf ‘illat) artinya sesuatu menutupi yang lain. Al-gisyā' adalah penutup begitu juga dengan gisyāwah. Hari kiamat juga dinamakan al-gāsyiyah karena kejadian besar pada hari Kiamat menutupi, meliputi dan menyibukkan semua orang. Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa orang yang memilih jalan yang sesat, hati dan telinganya dikunci mati oleh Allah dan diletakkan “penutup” pada penglihatannya sehingga dia tidak lagi mendengar dan melihat kebenaran yang diperlihatkan kepadanya. Kata gisyāwah berbentuk isim nakirah yang mempunyai arti tidak jelas. Artinya “penutup” yang menutupi mata mereka (orang kafir) adalah sebuah penutup yang sangat aneh yang tidak bisa diketahui oleh semua orang. Karena penutup ini berbentuk maknawi.

2. Ad-Dahru الدَّهْرُ (al-Jāṡiyah/45: 24)

Kata yang terambilkan dari akar kata (dāl-hā'-rā') pada mulanya berarti memaksa dan mengalahkan. Masa atau waktu disebut ad-dahr karena waktu akan menerjang segala sesuatu tanpa pandang bulu. Kaum ad-Dahriyyūn adalah kaum yang tidak mempercayai Allah sebagai penyebab pertama semua kejadian. Mereka menyandarkan semua kejadian kepada waktu dan silih gantinya, bukan kepada Allah yang menciptakan waktu tersebut.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto