فَاِذَا قُضِيَتِ الصَّلٰوةُ فَانْتَشِرُوْا فِى الْاَرْضِ وَابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللّٰهِ وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Fa iżā quḍiyatiṣ-ṣalātu fantasyirū fil-arḍi wabtagū min faḍlillāhi ważkurullāha kaṡīral la‘allakum tufliḥūn(a).
Apabila salat (Jumat) telah dilaksanakan, bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.
Apabila salat wajib telah dilaksanakan di awal waktu dengan berjamaah di masjid; maka bertebaranlah kamu di bumi, kembali bekerja dan berbisnis; carilah karunia Allah, rezeki yang halal, berkah, dan melimpah dan ingatlah Allah banyak-banyak ketika salat maupun ketika bekerja atau berbisnis agar kamu beruntung, menjadi pribadi yang seimbang, serta sehat mental dan fisik.
Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa setelah selesai melakukan salat Jumat, umat Islam boleh bertebaran di muka bumi untuk melaksanakan urusan duniawi, dan berusaha mencari rezeki yang halal, sesudah menunaikan yang bermanfaat untuk akhirat. Hendaklah mengingat Allah sebanyak-banyaknya dalam mengerjakan usahanya dengan menghindarkan diri dari kecurangan, penyelewengan, dan lain-lainnya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi apalagi yang tampak nyata, sebagaimana firman Allah:
عٰلِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ࣖ ١٨
Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. (at-Tagābun/64: 18)
Dengan demikian, tercapailah kebahagiaan dan keberuntungan di dunia dan di akhirat. Dianjurkan kepada siapa yang telah selesai salat Jumat membaca doa yang biasa dilakukan oleh Arrak bin Mālik
اَللَّهُمّ َ، أَجِبْتُ دَعْوَتَكَ وَصَلَّيْتُ فَرِيْضَتَكَ، وَانْتَشَرْتُ كَمَا أَمَرْتَنِيْ فَارْزُقْنِيْ مِنْ فَضْلِكَ، وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ . (رواه ابن ابي حاتم)
“Ya Allah! Sesungguhnya aku telah memenuhi panggilan-Mu, dan melaksanakan kewajiban kepada-Mu, dan bertebaran (di muka bumi) sebagaimana Engkau perintahkan kepadaku, maka anugerahkanlah kepadaku karunia-Mu. Engkaulah sebaik-baik Pemberi rezeki.” (Riwayat Ibnu Abī Ḥātim)
Asfāran اَسْفَارًا (al-Jumu‘ah/62: 5)
Kata asfār adalah jamak dari kata sifrun yang berarti kitab. Akar katanya adalah safaral-bait yang berarti menyapu rumah. Darinya diambil kata safaraṣ-ṣubḥ yang berarti subuh itu telah terang. Di dalam Al-Qur’an disebutkan kata musfirah yang berarti terang, sebagaimana dalam firman Allah, “Pada hari itu ada wajah yang berseri-seri.” (‘Abasa/80: 38) Dan darinya diambil kata safīr yang berarti delegasi yang mendamaikan antara dua kaum. Dari sini diambil kata safarah, jamak dari safīr, yang berarti para malaikat pencatat amal, sebagaimana dalam firman Allah, “Di tangan para utusan (malaikat).” (‘Abasa/80: 15) Dan darinya diambil kata sifr yang berarti kitab besar, atau satu bagian dari Kitab Taurat. Kitab suci disebut sifr karena ia berfungsi menjelaskan sesuatu yang samar. Orang-orang Yahudi itu diberi kitab Taurat untuk mereka amalkan, tetapi mereka tidak mengamalkannya. Maka, Allah mengumpamakan mereka seperti keledai yang membawa kitab-kitab besar tanpa tahu isinya. Ia merasakan sebuah beban, tetapi ia tidak tahu apa itu.












































