اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اِنَّا لَا نُضِيْعُ اَجْرَ مَنْ اَحْسَنَ عَمَلًاۚ
Innal-lażīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti innā lā nuḍī‘u ajra man aḥsana ‘amalā(n).
Sesungguhnya mereka yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Kami benar-benar tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang mengerjakan perbuatan baik.
Sesungguhnya mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan membuktikan keimanannya dengan mengerjakan kebajikan sesuai tuntunan Kami. Kepada mereka Kami memberikan pahala yang besar. Kami benar-benar tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang mengerjakan perbuatan yang baik itu.
Dalam ayat ini, Allah menjelaskan pahala bagi orang-orang yang beriman kepada Al-Qur’an dan mengamalkan segala perintah Allah dan Rasul dengan sebaik-baiknya, yaitu diberi pahala yang besar. Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala dari amal kebajikan yang mereka lakukan, dan tidak pula mengurangi hak-hak mereka sedikit pun. Banyak janji Allah dalam Al-Qur’an kepada orang-orang mukmin di antaranya bilamana mereka melakukan amal kebajikan, sedikit pun Allah tidak akan menyia-nyiakannya. Setiap amal kebajikan, meskipun hanya sebesar biji sawi, tentu diberi ganjaran oleh Allah swt, sebagaimana firman-Nya:
فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ ٧ وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ ࣖ ٨
Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (al-Zalzalah/99: 7-8)
Furuṭan فُرُطًا (al-Kahf/18: 28)
Lafaz furuṭan terambil dari akar kata faraṭa – yafruṭu – farṭan – wa furuṭan, yang berarti mendahului dengan sengaja, atau penganiayaan dan melampaui batas. Faraṭa juga berarti air yang melimpah dan keluar dari embernya. Dalam arti yang lain, faraṭa juga diartikan dengan perbuatan yang melebihi batas kewajaran atau berlebih-lebihan, menimbulkan penyesalan yang mendalam dan berakhir dengan kehancuran dan sia-sia. Penggandeng-an kata faraṭa dengan kata kāna dalam ayat ini, mengandung arti “keman-tapan dalam melampaui batas”. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Allah swt menegur nabi-Nya untuk tetap bersabar bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya dan janganlah tertipu oleh perhiasan kehidupan duniawi. Karena sesungguhnya apa yang orang-orang kafir lakukan dengan hawa nafsunya dengan melupakan Allah dan ayat-ayat-Nya adalah suatu keadaan yang melewati batas dan akan mendapatkan balasannya nanti di akhirat.












































