مَّا لَهُمْ بِهٖ مِنْ عِلْمٍ وَّلَا لِاٰبَاۤىِٕهِمْۗ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ اَفْوَاهِهِمْۗ اِنْ يَّقُوْلُوْنَ اِلَّا كَذِبًا
Mā lahum bihī min ‘ilmiw wa lā li'ābā'ihim, kaburat kalimatan takhruju min afwāhihim, iy yaqūlūna illā każibā(n).
Mereka sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang (hal) itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah besar (dosa) perkataan yang keluar dari mulut mereka. Mereka hanya mengatakan (sesuatu) kebohongan belaka.
Mereka sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, yak-ni apa yang mereka ucapkan bahwa Allah mempunyai anak, begitu pula nenek moyang mereka, yang menjadi panutan mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang apa yang mereka ucapkan. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka, itulah kata-kata yang menyatakan kekufuran dan mereka dengan ucapannya itu tidak lain hanya mengatakan kebohongan belaka. Tidak ada dasar sedikit pun dan tidak ada alasan yang membenarkan apa yang diucapkannya.
Anggapan mereka bahwa Allah mempunyai anak sama sekali tidak didasarkan atas pengetahuan dan keyakinan mereka sendiri, tetapi didasarkan atas persangkaan yang tidak benar atau taklid buta kepada nenek moyang mereka. Padahal, nenek moyang mereka itu juga tidak mempunyai pengetahuan dan dasar keyakinan tentang kepercayaan yang demikian.
Sungguh terlalu jelek ucapan mereka itu, yang tidak lahir dari pikiran yang sehat, tetapi begitu saja keluar dari mulut yang lancang. Allah menegaskan bahwa apa yang diucapkan mereka itu adalah kekafiran yang sangat besar, karena tidak didasarkan atas keyakinan, dan tidak patut diucapkan oleh seorang manusia. Kelancangan mereka mengucapkan kalimat kufur itu ditegaskan Allah sebagai suatu kebohongan, yang tidak mengandung kebenaran. Allah swt mengingatkan Rasul untuk memerintah-kan kepada umatnya supaya kembali kepada agama tauhid, sebagaimana yang diajarkan Al-Qur’an.
Firman Allah:
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. (Āli ‘Imrān/3: 64)
Bākhi’ Nafsaka بَاخِعٌ نَفْسَكَ (al-Kahf/18: 6)
Bākhi’ nafsaka artinya orang yang menyiksa atau menyengsarakan diri. Ayat 6 Surah al-Kahf ini dimulai dengan la’alla (ﻟﻌﻞ) yaitu:أداة التمني suatu kata yang biasa digunakan pada kalimat bentuk impian atau harapan. Tetapi la’alla dalam ayat ini dimaksudkan sebagai kata tanya yang bersifat inkari yang mengandung pengertian an-nahyu atau larangan. Maka ﻓﻠﻌﻠﻚ ﺑﺎخع ﻧﻔﺴﻚ artinya secara bebas ialah: Maka apakah kamu –mudah-mudahan tidak- akan menyiksa atau mencelakakan dirimu? Nabi memang sangat bersedih dan kecewa berat melihat orang-orang Quraisy tidak mau menerima ajaran dan dakwahnya, padahal keadaan mereka sudah sangat rusak, suka membunuh, berzina, minum minuman keras, bertindak kasar dan jahat, sama sekali tidak pernah menyayangi orang lemah, suka melakukan wa’dul banāt yaitu mengubur hidup-hidup anak mereka yang lahir perempuan, dan begitulah adat Jahiliah. Akan tetapi, mengapa mereka menolak petunjuk agama yang baik untuk beriman dan beramal saleh. Dalam hal ini, Allah kembali mengingatkan Nabi, bahwa tugas nabi dan rasul hanyalah menyampaikan dakwah, bukan memberi hidayah kepada mereka. Apabila Nabi sudah menyampaikan dakwahnya dan menjelaskannya dengan baik, maka tugasnya sudah selesai.













































