فَضَرَبْنَا عَلٰٓى اٰذَانِهِمْ فِى الْكَهْفِ سِنِيْنَ عَدَدًاۙ
Faḍarabnā ‘alā āżānihim fil-kahfi sinīna ‘adadā(n).
Maka, Kami tutup telinga mereka di dalam gua itu444) selama bertahun-tahun.
Maka Kami kami mengabulkan doa mereka, Kami tutup telinga mereka di dalam gua itu, agar mereka tidak dapat mendengar suara, maka mereka tertidur lelap di dalam gua itu selama beberapa tahun, yaitu sekitar tiga ratus tahun seperti yang akan disebutkan pada ayat 25.
Allah mengabulkan doa para pemuda itu dengan menutup penglihatan dan pendengaran mereka, hingga mereka tidur nyenyak dan tidak ada suara yang akan membangunkan mereka dari tidur di dalam gua itu selama ratusan tahun. Sangat besar rahmat Allah yang diberikan kepada mereka. Tidak mudah bagi seseorang untuk tidur, di waktu jiwanya sedang gelisah dan takut. Dengan tidur, seseorang mendapatkan ketenteraman hati.
Dalam ayat ini dikatakan “menutup telinga” karena telinga itulah tempat masuknya suara yang menjadi sebab bangunnya seseorang dari tidur. Seseorang dapat dikatakan tidur, bilamana telinganya tidak mendengar sesuatu lagi.
Ar-Raqīm الرَّقِيْمِ (al-Kahf/18: 9)
Ar-Raqīm adalah lafal dalam bentuk ṣifah musyābahah yang berarti maf’ūl yaitu batu yang ditulisi atau batu bertulis. Seperti lempengan batu peninggalan sejarah di Mesir yang bertuliskan peristiwa-peristiwa sejarah atau pribadi besar tokoh sejarah. Kata kerja atau fi’li ﺭﻗﻤﺎ ﻳﺮﻗﻢ ﺭﻗﻢ artinya menulis. Ar-Raqīm berarti tulisan atau yang ditulisi. Hal ini berkaitan dengan kisah Aṣḥābul Kahf yaitu beberapa pemuda penghuni gua yang tidur selama 309 tahun, sebagaimana dikisahkan Al-Qur’an pada Surah al-Kahf ayat 9-25. Peristiwa ini merupakan kisah nyata yang terjadi di Upsus daerah Turki di Anatoli Selatan di Asia Kecil. Ketika itu raja yang berkuasa adalah Dikyanus atau Decius (249-251 M). Tetapi menurut Ibnu Kaṡir dan al-Maragī, peristiwa ini terjadi sebelum Masehi, karena para ulama Yahudi juga membicarakan hal ini. Jadi yang dimaksud ar-raqīm ialah batu bertulis tentang Aṣḥābul Kahf, tetapi ada yang menafsirkan sebagai nama anjing yang mengikuti para pemuda tersebut, anjing itu mati dan menjadi tulang belulang yang berserakan, tidak seperti para pemuda yang diikutinya yang tidur 300 tahun lebih.













































