Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 14 - Surat Al-Kahf (Gua)
الكهف
Ayat 14 / 110 •  Surat 18 / 114 •  Halaman 294 •  Quarter Hizb 30 •  Juz 15 •  Manzil 4 • Makkiyah

وَّرَبَطْنَا عَلٰى قُلُوْبِهِمْ اِذْ قَامُوْا فَقَالُوْا رَبُّنَا رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ لَنْ نَّدْعُوَا۟ مِنْ دُوْنِهٖٓ اِلٰهًا لَّقَدْ قُلْنَآ اِذًا شَطَطًا

Wa rabaṭnā ‘alā qulūbihim iż qāmū fa qālū rabbunā rabbus-samāwāti wal-arḍi lan nad‘uwa min dūnihī ilāhal laqad qulnā iżan syaṭaṭā(n).

Kami meneguhkan hati mereka ketika mereka berdiri446) lalu berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi. Kami tidak akan menyeru Tuhan selain Dia. Sungguh, kalau kami berbuat demikian, kami telah mengucapkan perkataan yang sangat jauh dari kebenaran.”

Makna Surat Al-Kahf Ayat 14
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dan Kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri tampil di hadapan kaumnya atau di hadapan penguasa yang menindas dan memaksa agar mereka menyekutukan Allah, akan tetapi mereka menolaknya lalu mereka berkata, menyatakan keteguhan hatinya, “Tuhan kami adalah Tuhan Pencipta dan Pemelihara langit dan bumi; kami tidak menyeru tuhan selain Dia dan tidak menyembah-Nya. Sungguh, kalau kami berbuat demikian, yakni kalau kami menyeru dan menyembah tuhan selain Allah, tentu kami telah mengucapkan perkataan yang sangat jauh dari kebenaran.”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Dalam ayat ini diterangkan bahwa Allah swt meneguhkan hati para pemuda itu dengan kekuatan iman, membulatkan tekad mereka kepada agama tauhid, dan memberikan keberanian untuk mengatakan kebenaran agama itu di hadapan raja Decyanus yang kafir dan sewenang-wenang. Ketika raja itu mencela dan memaksa mereka untuk menyembah berhala, mereka dengan lantang berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia.” Dalam pernyataan mereka ini, terkandung dua pengakuan tentang kekuasaan Tuhan. Pertama, pengakuan mereka tentang keesaan Tuhan dalam memelihara dan menciptakan alam semesta ini. Kedua, pengakuan mereka tentang keesaan Tuhan dan hak-Nya untuk disembah oleh makhluk. Orang-orang musyrik mengakui keesaan Tuhan dalam menciptakan dan memelihara alam semesta ini, sebagaimana dijelaskan Allah dalam firman-Nya:

وَلَىِٕ ْ سَاَلْتَهُمْ مَّنْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُوْلُنَّ اللّٰهُ ۗفَاَنّٰى يُؤْفَكُوْنَ ٦١

Dan jika engkau bertanya kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Pasti mereka akan menjawab, “Allah.” Maka mengapa mereka bisa dipalingkan (dari kebe-naran). (al-’Ankabūt/29: 61)

Namun demikian, orang musyrikin tidak mengakui keesaan Tuhan dan hak-Nya untuk disembah oleh para hamba-Nya. Mereka menyembah berhala sebagai sekutu Tuhan yang akan mendekatkan mereka kepada-Nya, sebagaimana diterangkan dalam firman Allah swt:

مَا نَعْبُدُهُمْ اِلَّا لِيُقَرِّبُوْن َآ اِلَى اللّٰهِ زُلْفٰى

…Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (az-Zumar/39: 3)

Sesudah para pemuda itu menyatakan pengakuan mereka tentang keesaan Tuhan, lalu mereka memberikan alasan penolakan terhadap penyembahan berhala-berhala sebagaimana yang dikehendaki oleh raja Decyanus. Mereka menyatakan bahwa jika mereka menyembah dan berdoa kepada selain Allah, itu berarti mengerjakan sesuatu yang jauh dari kebenaran.

Isi Kandungan Kosakata

Ar-Raqīm الرَّقِيْمِ (al-Kahf/18: 9)

Ar-Raqīm adalah lafal dalam bentuk ṣifah musyābahah yang berarti maf’ūl yaitu batu yang ditulisi atau batu bertulis. Seperti lempengan batu peninggalan sejarah di Mesir yang bertuliskan peristiwa-peristiwa sejarah atau pribadi besar tokoh sejarah. Kata kerja atau fi’li ﺭﻗﻤﺎ ﻳﺮﻗﻢ ﺭﻗﻢ artinya menulis. Ar-Raqīm berarti tulisan atau yang ditulisi. Hal ini berkaitan dengan kisah Aṣḥābul Kahf yaitu beberapa pemuda penghuni gua yang tidur selama 309 tahun, sebagaimana dikisahkan Al-Qur’an pada Surah al-Kahf ayat 9-25. Peristiwa ini merupakan kisah nyata yang terjadi di Upsus daerah Turki di Anatoli Selatan di Asia Kecil. Ketika itu raja yang berkuasa adalah Dikyanus atau Decius (249-251 M). Tetapi menurut Ibnu Kaṡir dan al-Maragī, peristiwa ini terjadi sebelum Masehi, karena para ulama Yahudi juga membicarakan hal ini. Jadi yang dimaksud ar-raqīm ialah batu bertulis tentang Aṣḥābul Kahf, tetapi ada yang menafsirkan sebagai nama anjing yang mengikuti para pemuda tersebut, anjing itu mati dan menjadi tulang belulang yang berserakan, tidak seperti para pemuda yang diikutinya yang tidur 300 tahun lebih.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto